Ribuan Pengungsi ‘Serbu’ Bandara, Ingin Eksodus ke Makassar

example banner

PALU | Koranrakyat.co.id – Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam), Wiranto menanggapi kabar bahwa terjadi kerusuhan di bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu pada Senin (1/10).

“Memang benar, ada penumpukan massa di bandara, sampai 3000 orang,” kata Wiranto, dan mereka adalah para penyintas gempa dan tsunami, yang ingin segera keluar Palu.

Namun, kata Wiranto dalam jumpa pers di Jakarta, karena pesawat komersial tak ada, mereka berusaha bisa naik pesawat Hercules yang membawa bahan bantuan, yang hendak keluar Palu untuk membawa bantuan lain.

“Dan orang-orang berkabar dari mulut ke mulut, ‘ada penerbangan gratis dari Angkatan Udara.’ Orang makin lama makin banyak memenuhi bandara,” kata Wiranto pula.

Tetapi, kata Wiranto, yang terjadi di bandara itu bukanlah kerusuhan.

“Kami berhasil meyakinkan mereka, bahwa mereka boleh naik Hercules yang bertolak dari Palu ke Makassar, tetapi maslaahnya jumlahnya tidak seimbang antara jumlah pesawat dan orang yang mau naik,” lanut Menko Polhukam.

“Jadi kami menawarkan mereka untuk diangkut dengan kapal Pelni, yang bisa mengangkut hingga 1000 orang. Mereka bisa mengerti. Lalu kami sediakan angkutan untuk memindahkan mereka dari bandara ke pelabuhan,” tambah Wiranto.

Di media sosial memang beredar berbagai rekaman video yang menunjukkan ribuan orang ‘menduduki’ bandara, yang disebut-sebut membuat berbagai penerbangan yang sedianya menuju Palu, dibatalkan.

Dalam jumpa pers itu Menko Polhukam Wiranto mengakui, bahwa hampir 1500 napi kabur dari berbagai penjara di Palu dan Donggala.

“Itu karena tembok penjara rubuh, dan mereka bisa meloloskan diri, sementara para penjaga tak mampu mengatasi mereka.”

Betapa pun, kata Wiranto, ‘dua napi kasus terorisme yang ditahan di salah satu penjara, sudah sempat dipindahkan ke Nusa Kambangan pada 26 September, dua hari sebelumnya.”
Sebelumnya dilaporkan, 1.425 narapidana dan tahanan kabur dari berbagai lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di Sulawesi Tengah setelah gempa-tsunami melanda Palu dan sekitarnya.

Informasi tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Sri Puguh Budi Utami kepada wartawan, Senin (1/10).

Menurutnya, secara keseluruhan terdapat 3.320 napi dan tahanan di sejumlah lapas dan rutan. Dari jumlah itu, hanya ada 1.795 orang yang masih ditahan.

“Sisanya yang nggak ada di tempat 1.425. Itu berdasarkan informasi pagi ini,” ucap Sri Puguh saat jumpa pers di Jakarta.

Para napi dan tahanan yang kabur itu berasal dari Lapas Palu, Rutan Palu, Rutan Donggala, LPP (Lembaga Pemasyarakatan Perempuan) Palu, dan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak) Palu.

Sebagian besar dari napi dan tahanan adalah mereka yang dihukum atau terkait perkara tindak pidana korupsi, narkoba, serta kriminal umum.

Bagaimanapun, menurut Sri Puguh, ada beberapa napi dan tahanan yang sudah melapor ke lapas atau rutan masing-masing.

“Narapidana sendiri masih dalam keadaan trauma. Sebagian ada yang keluarganya meninggal dunia,” kata Sri Puguh.

Sebelumnya, sebagaimana diberitakan Kompas, salah satu Rutan Kelas II B Donggala rata dengan tanah. Akibatnya, rutan tak lagi bisa menampung para tahanan. Sejumlah narapidana kemudian dilepaskan, tetapi harus wajib lapor secara berkala. (bbc.news)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *