Palu Dicekam Tangis Pilu, Sedikitnya Sudah 80 Warga Ditemukan tewas

example banner

PALU | Koranrakyat.co.id — Pasca Gempa dan Tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, setidaknya sudah terdata 80 jenazah tiba di di RSUD Undata Mamboro. Tangis pilu pun terdengar hampir di semua wilayah yang mengalami kerusakan parah.

Seorang dokter di rumahsakit itu dalam wawacara dengan KompasTV, Sabtu (29/9/2018) mengatakan korban tersebut adalah warga yang dievakuasi ke sini. Statusnya masih didata. Karena banyak keluarga yang mencari keluarga yang hilang. Kalau sudah dikenali keluarga, dibawa pulang,” katanya.

Sementara korban luka lebih dari seratus orang, namun perawatannya dilakukan di luar, dilapangan terbuka, untuk berjaga-jaga dari kemungfkinan gempa susulan, terlebih dinding rumahsakit retak di sana-sini, kata Jauhardin pula.

Sementara itu, Eddy Djunaedi wartawan Metro Palu, yang juga warga Kota Palu, lewat sambungan telepon menginformasikan Kehancuran tampak di berbagai pelosok kota Palu. Bangunan-bangunan hancur, puing-puing bertebaran, situasi begitu sunyi dan mencekam.

“Pantai Talise (yang diterjang Tsunami kemarin) habis, semua habis di sana. Warga juga mulai berdatangan ke rumah sakit mengidentifikasi jenazah. Diperkirakan ratusan orang tewas,” ujarnya.

Eddy Djunaedi sendiri selamat karena rumahnya berada di ketinggian. Setelah semalaman bersiaga, mewaspadai gempa susulan setelah tsunami menerjang, Eddy akhirnya bergerak menuju Anjungan Pantai Talise, Sabtu (29/9), dan tiba di kawasan itu sekitar pukul 08:00.

Warga kota Palu itu baru benar-benar menyadari dampak tsunami itu ketika berdiri di dekat pantai Talise, karena sepanjang malam ia boleh dikata terisolasi: listrik padam, sementara jaringan telekomunikasi tidak bisa diandalkan.
Edy mencemaskan banyaknya korban jiwa berdasar pengamatannya di lapangan.

Data Resmi

Hingga siang ini, proses evakuasi korban masuh terus dilakukan Tim SAR dan gabungan TNI/Polri serta dari para relawan. Namun mengenai angka korban tewas, data resmi Badan Nasional Penangulangan bencana (BNPB) baru mencatat 48 tewas, 350-an luka, dan ribuan bangunan rusak.

“Itu berdasarkan data sementara dari sejumlah rumah sakit. Dan itu data sementara di ota Palu, yang dilaporkan kepada BNPB. Jumlahnya masih bisa terus bertambah, kata jubir BNPB, Sutopo Purwo Nuhroho, dalam jumpa pers khusus di kantor BNPB, Jakarta.

“Banyak orang yang belum kita ketahui nasibnya. Beberapa hotel rata dengan tanah,” tambahnya.

Sementara Kepala BNOB mengatakan, tim mereka baru akan tiba di Palu sekitar pukul 14:00.

“Lalu kami akan melakukan assessment terhadap kerusakan dan korban,” katanya kepada wartawan. dari situ baru akan diketahui jumlah korban dan kerusakan.

“Yang jelas, prioritasnya adalah penyelamatan dan pencarian korban. Karena kemungkinan banyak korban tertimpa bangunan akibat gempa, atau terdampak Tsunami,” katanya.

Kesaksian Mohamad Fajar, warga Kelurahan Sengau, Kecamatan Tetanga, Palu:

“Gempanya lumayan dasyat. Rata-rata jalan ke Palu barat ini semua retak, bahkan ada yang turunnya sampai 80 cm, amblas ke bawah. Tadi posisinya saya sementara di atas motor, saya jatuh. Langsung jatuh. Posisi saya sementara mengendarai motor, tiba-tiba gempa, jatuh. Lumayan keras. Ya ada luka di siku sebelah kanan. Lecet saja.

Jembatan Empat, maskotnya Palu, itu patah tadi posisinya. Patah di tengah-tengahnya. Jadi akses dari selatan ke barat itu putus.

Terus di tempat saya juga ada rumah yang retak, ada tembok-tembok yang rubuh.

Orang-orang di sekitar saya, semua juga kan, posisi kan saya sementara di tengah kota. Jadi rata-rata di keliling gedung bertingkat, semua memang lari, lari keluar gedung, semua berhamburan ke tengah jalan.

Kalau gempanya sendiri tadi dia goyangnya sekitar hampir satu menit. Terus kalau efek setelah itu, sampai sekarang masih ada. Efeknya orang masih takut masuk ke dalam rumah. Semua orang ini posisi masih di luar rumah.

Rekaman video warga yang selamat berdera di media sosial, menunjukkan kehanjuran di kawasan Pantai Talise. Masjid terapung yang terkenal, mengalami kerusakan berat.

Pantai penuh dengan berbagai barang dan puing. Sementara Jembatan Kuning yang ikonik, rubuh. Di beberapa tempat warga membaringkan jenazah yang ditemukan, dan mulai mengidentifikasi.

Jeritan dan tangisan terdengar dari warga yang kehilangan anggota keluarga. Jaringan telekomunikasi sudah mulai membaik, namun masih sangat tidak stabil.

Sementara itu, bandar udara Mutiara SIS Al-Jufri masih ditutup, karena berbagai kerusakan yang dialami. Kecuali untuk pendaratan helikopter pembawa bantuan.

Presiden Joko Widodo mentakan, “memantau keadaan dari waktu ke waktu, memanjatkan doa bagi korban dan keluarga mereka,” dan memerintahkan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto, untuk mengkoordinasikan penanganan darurat.

Ia mengatakan, akan berangkat juga ke lokasi Tsunami dalam waktu dekat.

Wiranto sudah berangkat menuju lokasi tsunami bersama sejumlah menteri dan pejabat lain. TNI dan berbagai lembaga darurat seperti PMI sudah pula mengirimkan fasilitas-fasilitas penyelamatan dan bantuan darurat ke lokasi. Namun bandara Palu yang belum pulih, dan jalan-jalan yang rusak di Sulawesi tengah, menghambat pengerahan fasilitas-fasilitas itu. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *