14 September 2026

Kisah Keislaman Hushain Bin Ubaid dan Putranya Imran Bin Hushain

Oleh : Sudarta SE

Medkom Muhammadiyah Ogan Ilir.

Kisah Sahabat Rasulullah :  Tema Tauhid

KoranRakyat.co.id —Di tengah pekatnya masa jahiliah di kota Makkah, hiduplah seorang sahabat Rasulullah SAW, bernama Hushain bin Ubaid yang berasal dari Suku Khuza’ah, lebih spesifiknya dari Bani Ka’b (atau keturunan Bani Ka’bi).

Nama lengkap beliau beserta garis keturunannya mencerminkan asal-usul kabilah ini, yaitu Hushain bin Ubaid bin Khalaf al-Khuza’i. Suku Khuza’ah sendiri merupakan salah satu kabilah Arab terkemuka dan berpengaruh di wilayah Makkah yang kelak memiliki ikatan perjanjian penting dengan Rasulullah SAW.

Ia adalah sosok yang dihormati di kalangan kaum Quraisy karena kebijaksanaannya. Namun, seperti kebanyakan masyarakat Makkah saat itu, Hushain terbelenggu dalam tradisi menyembah banyak berhala.

Hushain memiliki seorang putra bernama Imran bin Hushain. Berbeda dengan sang ayah yang masih kokoh memegang tradisi leluhur, Imran termasuk di antara barisan orang-orang awal yang hatinya tersentuh oleh cahaya Islam.

Imran memutuskan untuk memeluk Islam dan berbaiat kepada Rasulullah SAW, sebuah keputusan yang sempat menyulut keprihatinan di hati ayahnya dan tokoh-communitas Quraisy.

Bermula dari Diplomasi Kaum Quraisy dan Logika Rasulullah SAW

Suatu hari, gelombang kekhawatiran melanda para pemuka Quraisy melihat dakwah Islam yang kian meluas. Mereka mendatangi Hushain bin Ubaid dan berkata, “Wahai Hushain, orang ini (Muhammad) kerap mencela tuhan-tuhan kita dan menjelek-jelekkannya. Temuilah dia dan bicaralah kepadanya!”

Hushain menyetujui permintaan itu. Ia berjalan menuju tempat Rasulullah SAW bersama para pemuka Quraisy yang mengiringinya hingga ke dekat pintu rumah Nabi.

Ketika Rasulullah SAW melihat kedatangan Hushain, beliau bersabda kepada para sahabat yang ada di dekatnya, “Berikan jalan untuk orang tua ini.”

Imran bin Hushain yang saat itu berada di majelis Rasulullah SAW, duduk terdiam menyaksikan sang ayah berjalan mendekat.

Hushain kemudian memulai pembicaraan, “Wahai Muhammad, apa yang kudengar tentangmu? Engkau mencela tuhan-tuhan kami dan menyebut-nyebut mereka dengan keburukan, padahal ayahmu (Abdullah) adalah seorang yang baik.”

Rasulullah SAW tidak membalas dengan amarah. Beliau justru mengajukan sebuah pertanyaan pemantik yang menggugah fitrah kemanusiaan Hushain:

Wahai Hushain, berapa tuhan yang engkau sembah hari ini?”

Hushain menjawab dengan jujur, “Tujuh. Enam ada di bumi, dan satu berada di langit.”

Rasulullah SAW kembali bertanya, “Jika engkau ditimpa bahaya atau kemudaratan, kepada siapa engkau berdoa?”

“Kepada yang di langit,” jawab Hushain.

Rasulullah SAW mengejarnya lagi, “Jika hartamu habis dan binasa, kepada siapa engkau memohon bantuan?”

“Kepada yang di langit,” jawab Hushain lagi.

Mendengar pengakuan jujur itu, Rasulullah SAW tersenyum dan berkata, “Dia (Zat yang di langit) sendiri yang mengabulkan doamu, sementara engkau justru menyekutukan-Nya dengan tuhan-tuhan yang di bumi? Wahai Hushain, masuklah Islam, niscaya engkau akan selamat.”

Hidayah dan Air Mata Imran bin Hushain

Logika sederhana namun mendalam yang disampaikan Rasulullah SAW langsung meruntuhkan dinding-dinding keyakinan jahiliah di hati Hushain.

Ia menyadari betapa sia-sianya menyembah patung-patung di bumi yang tidak bisa berbuat apa-apa saat manusia berada dalam kondisi darurat.

Seketika itu juga, di hadapan Rasulullah SAW dan putranya, Hushain mengucapkan kalimat syahadat: “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.” (Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).

Melihat sang ayah bersyahadat, Imran bin Hushain tidak mampu membendung rasa haru dan bahagianya. Ia langsung bangkit dari tempat duduknya, mendekati ayahnya, lalu memeluk dan mencium kepala, wajah, serta tangan sang ayah sambil menangis bahagia.

Rasulullah SAW yang menyaksikan pemandangan indah tersebut ikut menangis. Beliau lalu bersabda kepada para sahabatnya, “Aku menangis karena melihat tindakan Imran. Ketika Hushain masuk ke ruangan ini dalam keadaan kafir, Imran tidak beranjak mendekatinya. Namun, ketika ayahnya memeluk Islam, barulah Imran menunaikan haknya sebagai anak (dengan penuh kasih sayang). Hal itulah yang membuatku terharu.”

Doa Setelah Keislaman

Setelah resmi memeluk Islam, Hushain bin Ubaid memohon bimbingan kepada Rasulullah SAW, “Wahai Utusan Allah, ajarkanlah kepadaku untaian kata yang dapat kuberdoa dengannya.”

Rasulullah SAW kemudian mengajarkan sebuah doa yang sangat indah dan sarat makna akidah:“Allahumma alhimnii rusydii, wa a’idznii min syarri nafsii.”

Artinya: “Ya Allah, ilhamkanlah kepadaku petunjuk (kebenaran), dan lindungilah aku dari keburukan diriku sendiri.”

Sejak hari itu, ayah dan anak ini berjalan beriringan di atas jalan tauhid. Imran bin Hushain sendiri kelak tumbuh menjadi salah satu sahabat senior yang sangat dihormati, menjadi qadhi (hakim) di kota Bashrah, dan dikenal sebagai sosok yang sangat zuhud hingga para malaikat kerap memberikan salam kepadanya karena kesalehannya. Sementara sang ayah, Hushain, wafat dalam keadaan iman yang bersih setelah membersihkan dirinya dari noda-noda kemusyrikan. (*)

*Dikutip dari berbagai sumber dengan bantuan AI.