14 September 2026

Potensi Serayu-Dieng Dibawa ke Bappenas, Wonosobo Bidik Pengembangan Kawasan Terpadu

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Pemerintah Kabupaten Wonosobo mendorong pengembangan kawasan Serayu sebagai ekosistem pembangunan terpadu yang menghubungkan potensi air, energi, pertanian, lingkungan, pendidikan, dan pariwisata.

Gagasan tersebut dibahas bersama Perencana Ahli Utama (PAU) Kementerian PPN/Bappenas dalam kunjungan kerja untuk membahas Serayu Agro Energy Edutourism Corridor (SAEEC) sekaligus inisiasi pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) Serayu di Ruang Mangunkusuma, Wonosobo, Jumat (11/9/2026).

Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat mengatakan, kehadiran Bappenas menjadi momentum untuk membawa gagasan pengembangan Serayu ke tahap yang lebih konkret, terukur, dan dapat ditindaklanjuti.

Menurutnya, pengembangan Serayu telah menjadi perhatian Pemkab Wonosobo sejak audiensi dengan Menteri PPN/Kepala Bappenas pada 28 April 2026. Dalam gagasan tersebut, Serayu dipandang sebagai satu kesatuan ruang kehidupan dari hulu hingga hilir, bukan kawasan yang dikembangkan secara sektoral maupun administratif.

Pemkab Wonosobo mengusulkan pilot project SAEEC di Desa Mergosari, Kecamatan Sukoharjo, dengan pendekatan Food-Energy-Water (FEW) Nexus yang dapat diperkuat menjadi Water-Energy-Food-Ecosystem (WEFE) Nexus.

Pendekatan tersebut mengintegrasikan air, energi, pangan, dan ekosistem. Aliran Sungai Serayu, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi bersih melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Energi tersebut kemudian dapat mendukung produktivitas pertanian, pengolahan hasil pertanian, hingga kegiatan ekonomi masyarakat.

“Kita ingin membangun satu ekosistem di mana air menghasilkan energi, energi menguatkan pangan, pangan menggerakkan ekonomi, dan semuanya tetap menjaga ekosistem,” jelas Afif.

Pemanfaatan energi tersebut juga diarahkan untuk mendukung penguatan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), rantai pasok pangan program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengembangan wisata rafting melalui transportasi listrik, hingga pengolahan sampah di tingkat desa.

Dengan konsep tersebut, SAEEC tidak hanya diarahkan sebagai proyek energi, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular yang menghubungkan energi, pangan, pariwisata, dan pengelolaan lingkungan.

Afif menyebut pengembangan itu sejalan dengan posisi Wonosobo dalam Kawasan Swasembada Pangan, Air dan Energi (KSPAE) Dieng-Serayu-Bogowonto sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2025–2029.

Posisi tersebut dinilai menjadi peluang strategis bagi Wonosobo untuk menunjukkan bahwa potensi lokal dapat dikembangkan menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional.

Dalam skala yang lebih luas, pengembangan Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu membutuhkan kerja sama lintas wilayah. Wonosobo dan Banjarnegara berada di kawasan hulu, sedangkan keberlanjutan Serayu berdampak hingga Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap.

Karena itu, pengembangan DAS Serayu juga berkaitan dengan keberlanjutan Waduk Jenderal Sudirman (Mrica) yang saat ini menghadapi persoalan sedimentasi.

Pemkab Wonosobo berharap pembahasan bersama Bappenas dapat memperkuat arah kebijakan nasional sehingga gagasan pengembangan DAS Serayu sebagai PSN dapat dikaji dan didorong lebih lanjut, termasuk dari sisi kebijakan maupun pembiayaan.

Selain Serayu, Afif turut mengaitkan pengembangan kawasan tersebut dengan potensi Dieng, khususnya energi panas bumi yang dikembangkan PT Geo Dipa Energi. Menurutnya, energi panas bumi dapat berjalan beriringan dengan kekayaan geologi, budaya, dan biodiversitas Dieng untuk mendukung pariwisata dan ekonomi kreatif.

Pemkab Wonosobo juga mendorong dukungan Bappenas untuk penguatan Geopark Nasional Dieng menuju pengusulan UNESCO Global Geopark, sejalan dengan posisi Wonosobo dalam kawasan pariwisata dan ekonomi kreatif Borobudur–Dataran Tinggi Dieng.

“Yang ingin kita bangun pada akhirnya sederhana: bagaimana potensi Serayu dan Dieng dapat memberi nilai tambah sebesar-besarnya bagi masyarakat, sekaligus tetap menjaga alam yang menjadi sumber kehidupan kita,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Sumber Daya Energi Mineral dan Pertambangan Kementerian PPN/Bappenas, Togu Santoso Pardede, menilai Wonosobo memiliki kombinasi potensi yang relatif lengkap, mulai dari warisan geologi, budaya, biodiversitas, energi panas bumi, energi air, pertanian, hingga pariwisata.

“Wonosobo ini memiliki potensi besar. Dari sisi geopark, memiliki warisan alam yang luar biasa, warisan budaya, dan warisan biodiversitas, sehingga sudah ditetapkan sebagai geopark nasional,” ujarnya.

Menurut Togu, potensi tersebut tidak dapat dikembangkan secara sendiri-sendiri. Pertanian, pariwisata, dan energi perlu ditempatkan dalam satu ekosistem melalui pendekatan nexus.

“Pertanian tidak bisa berjalan sendiri, pariwisata tidak bisa berjalan sendiri, energi tidak bisa berjalan sendiri. Oleh karena itu, tepat menggunakan pendekatan nexus,” jelasnya.

Ia menilai karakter Wonosobo dan Serayu sesuai dengan pendekatan FEW Nexus yang mengintegrasikan pangan, energi, dan air. Konsep itu kemudian dapat diperluas dengan memasukkan aspek ekosistem melalui pendekatan WEFE Nexus.

Togu menyebut SAEEC memiliki peluang menjadi model pengembangan kawasan yang mengintegrasikan pertanian, energi, pariwisata, dan sumber daya alam. Pilot project di Wonosobo juga dapat menjadi titik awal yang nantinya direplikasi di wilayah lain sepanjang koridor Serayu.

“Dari sumber potensi alam bisa menjadi energi. Energi ini bisa menjadi produktivitas. Produktivitas memberi nilai tambah, dan dari nilai tambah tentunya kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Agar gagasan tersebut dapat diwujudkan, Bappenas mendorong SAEEC segera diterjemahkan menjadi pipeline proyek yang konkret. Pemetaan tersebut mencakup komponen kegiatan, kelayakan proyek, kebutuhan investasi, serta sumber pembiayaan.

Togu mengatakan, skema pembiayaan nantinya dapat disesuaikan dengan karakter masing-masing proyek, baik melalui APBN, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, BUMN, sektor swasta, maupun sumber pendanaan lainnya.

“Kita akan melihat mana yang menjadi ruang APBN, ruang pemerintah provinsi, pemerintah daerah, BUMN, swasta, maupun sumber pendanaan lainnya,” kata Togu.

Menurutnya, pemetaan itu diperlukan agar pengembangan SAEEC memiliki fondasi pembiayaan yang realistis dan dapat dilaksanakan secara bertahap. Bappenas juga membuka ruang sinergi dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk menerjemahkan gagasan tersebut menjadi program yang memberikan manfaat langsung.

Kepala Bappeda Wonosobo Tono Prihantono menambahkan, konsep tersebut diharapkan menjadi model kolaborasi lintas sektor untuk mengoptimalkan potensi Wonosobo, terutama dalam pemanfaatan energi terbarukan.

Energi yang lebih murah dan berkelanjutan, menurut Tono, dapat menjadi pengungkit sektor lain, mulai dari pertanian, ketahanan pangan, UMKM hingga pariwisata. Pengembangan mikrohidro juga tidak berhenti pada penyediaan listrik, tetapi diarahkan untuk mendukung kegiatan produktif seperti cold storage hasil pertanian dan fasilitas pengeringan.

“Dengan pendekatan berbasis nexus, SAEEC diharapkan tidak hanya menjadi sebuah proyek pembangunan kawasan, tetapi dapat berkembang sebagai model bagaimana potensi air, energi, pangan, ekosistem, pendidikan, dan pariwisata diintegrasikan untuk menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.”

Melalui pembahasan tersebut, Pemkab Wonosobo berharap pengembangan Serayu dan Dieng dapat bergerak dari sekadar gagasan menjadi proyek yang memiliki arah investasi dan pembiayaan yang jelas, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat di sepanjang koridor Serayu. (Diskominfo Wonosobo/Aris)