Cerfik : Ijazah S2 dan Pengabdian, Tapi Gaji Belum Sentuh UMR: Cerita Seorang Dosen di Pinggiran Sumsel

Oleh : Abah Ihsan (nama pena/nom de plume)
KoranRakyat.co.id —— Bagi banyak orang, menjadi dosen adalah puncak harapan. Gelar Magister Pendidikan yang disandang, ruang kelas tempat berbagi ilmu, dianggap pekerjaan yang mulia dan terhormat. Namun bagi Pak Haris (bukan nama asli), kenyataan hidup justru menyisakan rasa getir yang sulit dijelaskan. Sudah belasan tahun ia mengajar di sebuah perguruan tinggi swasta di Sumatera Selatan, namun penghasilannya sampai hari ini belum pernah menyentuh angka Upah Minimum Kabupaten setempat.
Pulang Pergi 60 Km, Ongkos Makan Sebelum Gaji Masuk
Dua sampai tiga hari sepekan, sebelum matahari benar-benar terbit, ia sudah bersiap. Rumahnya berjarak sekitar 60 kilometer dari kampus. Tidak ada kendaraan pribadi yang bisa diandalkan setiap hari, jadi ia harus bergantung pada layanan travel antarkota. Sekali jalan ongkosnya lumayan, belum termasuk biaya makan di tengah hari.
“Kalau dihitung-hitung, ongkos pergi-pulang saja sudah menyedot sepertiga penghasilan bulanan saya. Belum beli makan siang, belum keperluan lain. Kadang kalau jadwal padat, pulang sudah larut malam, harus cari penginapan sebentar lagi. Itu tambah pengeluaran lagi,” ujarnya dengan senyum getir, Selasa (21/7/2026).
Gaji pokok dan tunjangan yang diterimanya memang rutin cair, tapi angkanya masih jauh di bawah standar layak hidup. Padahal ia sudah menyandang gelar magister, mengajar mata kuliah keahlian, bahkan sering diminta menjadi narasumber di berbagai kegiatan.
Anak Kuliah, UKT Lebih Besar dari Gaji Sebulan
Beban terasa makin berat saat melihat anak-anak mulai masuk perguruan tinggi. Dulu anak ketiga kuliah, ia terpaksa mengajukan pinjaman ke bank demi membayar UKT yang melambung tinggi. Sampai sekarang cicilan itu belum lunas. Kini giliran anak keempat hendak melanjutkan studi.
“Saya cek besaran UKT satu semester saja, angkanya justru lebih besar dari gaji saya sebulan penuh. Rasanya sesak di dada, tapi kepada siapa harus mengadu? Anak sudah berusaha belajar dengan baik, tidak mungkin saya larang hanya karena uang belum ada,” ceritanya pelan.
Ia kerap duduk sendirian di teras rumah setelah salat Isya, menghitung ulang sisa uang di dompet, cicilan, kebutuhan dapur, dan keperluan kuliah anak. Sering kali ia bertanya dalam hati: Untuk apa saya bersusah payah kuliah sampai S2, kalau saat mengantar anak sekolah pun saya harus berhutang?
Tim Ahli Lembaga Pemerintahan Daerah, Honor Belum Tentu Cair Tepat Waktu
Untuk menambal kekurangan, ia pun menerima tawaran menjadi tim ahli di salah satu lembaga pemerintahan daerah di kabupaten yang berdekatan dengan tempat tinggalnya. Tugasnya menganalisis rancangan kebijakan, menyusun catatan kritis, dan memberikan masukan demi kemajuan daerah sekitarnya. Pekerjaan ini seharusnya cukup dihargai. Namun kenyataannya, honor yang diterima pun masih di bawah standar UMK, dan sering kali baru dibayar tiga bulan sekali—bahkan lebih lama.
“Kadang bulan ini kerja keras lembur sampai malam menyusun naskah, tapi baru dapat uangnya tiga bulan kemudian. Sementara kebutuhan di rumah tidak pernah menunggu. Mau berhenti, tapi siapa lagi yang mau bantu mengisi kekosongan di tim itu? Lagipula, saya ingin ilmu saya juga berguna untuk lingkungan tempat saya tinggal,” ungkapnya.
Pahitnya Bertanya: “Apakah Gelar Ini Memang Masih Berharga?”
Ada momen yang paling membuat harga dirinya terasa remuk. Suatu hari, ia berbincang dengan pemuda lulusan SMA yang bekerja di sebuah toko kelontong. Pendapatan pemuda itu per bulan nyaris menyamai gaji bulanan dosen S2 seperti dirinya.
“Saya tidak sedang meremehkan pekerjaan mereka. Justru saya bangga kalau mereka bekerja keras dan dapat hasil yang layak. Tapi yang menyakitkan hati adalah realitasnya: saya habiskan waktu bertahun-tahun, menabung, berutang, belajar mati-matian sampai S2, namun kesejahteraan yang diterima tidak sebanding dengan pengorbanan itu. Rasanya seperti semua pengabdian ini tidak dihargai,” keluhnya.
Ia kini sampai pada satu titik ragu: apakah gelar S2, pengalaman mengajar, dan keahlian analisis kebijakan yang ia miliki benar-benar masih dibutuhkan? Atau dunia kerja kini lebih menghargai kecepatan dan tenaga fisik daripada waktu yang dihabiskan untuk berpikir dan mengkaji ilmu?
Sedikit Namun Berkah, Senyum Keluarga Adalah Obat
Meski sering dihantam kesulitan, perlahan ia kembali menenangkan hati. Ia memilih tetap bersyukur dan menaruh harap sepenuhnya kepada Allah SWT. Prinsip yang selalu ia pegang teguh: sedikit namun membawa keberkahan jauh lebih layak disyukuri daripada harta yang melimpah namun hilang keberkahan di dalamnya.
Senyum tulus dari istri yang selalu setia mendampingi, semangat anak-anak yang tidak pernah mengeluh, serta tawa mungil cucu yang sesekali berkunjung ke rumah, menjadi obat paling ampuh bagi segala dukanya. Biarlah beban pikiran dan kekhawatiran yang ia rasakan hari ini cukup ia simpan sendiri. Tidak perlu mereka ketahui, apalagi harus mereka rasakan.
Ia tetap berangkat ke kampus pagi ini. Masih dengan travel yang sama, masih dengan penghasilan yang sederhana. Namun langkahnya kini terasa lebih ringan, karena ia yakin setiap tetes keringat dan niat tulus berbagi ilmu pasti dicatat sebagai amal jariyah yang tak terputus pahalanya. (*)
Catatan Redaksi : Cerfik : Cerita Fiksi

