Rakanan Giyanti Jadi Magnet Wisata Budaya Wonosobo

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Tradisi Rakanan Giyanti kembali digelar di Dusun Giyanti, Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto, Jumat (10/7/2026), sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas limpahan kesehatan, rezeki, dan keberkahan.
Puncak tradisi tersebut ditandai dengan prosesi Tenongan, yakni arak-arakan ratusan tenong berisi nasi rames, jajanan pasar, buah-buahan, serta aneka makanan tradisional yang kemudian dibagikan kepada masyarakat dan wisatawan secara cuma-cuma.
Ratusan warga Dusun Giyanti mengenakan pakaian adat dan mengikuti prosesi Tenongan yang melintasi jalan utama desa menuju Sanggar Budaya. Tradisi yang terus dilestarikan secara turun-temurun ini tidak hanya memiliki makna religius dan sosial, tetapi juga berkembang menjadi salah satu daya tarik wisata budaya yang memperkuat identitas Kabupaten Wonosobo.
Kepala Dusun Giyanti, Subartan, menjelaskan rangkaian Tradisi Rakanan tahun ini telah dimulai sejak 5 Juli 2026. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari kirab budaya, bersih dusun, pertunjukan Kuda Kepang dan Lengger, hingga mencapai puncaknya melalui prosesi Tenongan.

“Tenongan merupakan puncak sekaligus prosesi paling sakral dalam Tradisi Rakanan. Seluruh kepala keluarga wajib membawa satu tenong yang berisi nasi rames, jajanan pasar, buah-buahan, dan makanan tradisional untuk dibagikan kepada pengunjung secara gratis,” ujar Subartan.
Ia menyebutkan, dari sekitar 315 kepala keluarga yang ada di Dusun Giyanti, sedikitnya 300 tenong disiapkan setiap penyelenggaraan Tradisi Rakanan. Seluruh makanan yang dibawa warga merupakan bentuk sedekah yang dipersembahkan kepada siapa saja yang hadir.
“Melalui tenong ini masyarakat mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas kesehatan, kelancaran rezeki, dan berbagai nikmat yang telah diberikan. Seluruh makanan disajikan untuk dinikmati pengunjung tanpa dipungut biaya,” jelasnya.
Arak-arakan tenong dimulai dari ujung dusun menuju Sanggar Budaya melalui jalan utama desa. Setelah seluruh peserta tiba, ratusan tenong ditata berjajar sebelum doa bersama dipanjatkan. Seusai doa, masyarakat dan wisatawan dipersilakan mengambil sendiri makanan yang tersedia sebagai simbol kebersamaan dan sedekah warga.

“Tidak ada batasan jumlah makanan yang boleh diambil. Semua memang dipersiapkan sebagai sedekah bagi para tamu yang datang ke Dusun Giyanti,” tambah Subartan.
Pelaksanaan tahun ini menghadirkan sejumlah pembaruan tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Selain prosesi Tenongan, panitia juga menyelenggarakan pementasan wayang kulit yang untuk pertama kalinya menjadi bagian dari rangkaian acara. Sebelum pertunjukan dimulai, masyarakat mengikuti Wisuda Lengger yang diikuti 13 peserta serta pementasan Tari Kobol-kobol sebagai simbol rasa syukur setelah berbagi rezeki kepada sesama.
Dalam sambutan Bupati Wonosobo yang dibacakan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, Pemerintah Kabupaten Wonosobo menyampaikan apresiasi atas komitmen masyarakat Giyanti dalam menjaga kelestarian Tradisi Rakanan.
Menurutnya, Wonosobo memiliki kekayaan seni, budaya, sejarah, dan pariwisata yang menjadi modal penting dalam memperkuat identitas daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tradisi Rakanan dinilai menjadi salah satu potensi wisata budaya yang layak terus dikembangkan melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta berbagai pemangku kepentingan.

Pemerintah Kabupaten Wonosobo juga berharap tradisi tersebut tetap lestari di tengah perkembangan zaman sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar semakin mencintai budaya daerah. Apresiasi turut diberikan kepada para peserta Wisuda Lengger yang diharapkan menjadi generasi penerus pelestari budaya Wonosobo. Filosofi Lengger, yang berasal dari akronim elinga ngger, dimaknai sebagai pengingat untuk selalu mengingat Tuhan Yang Maha Esa, menjaga kelestarian alam, mempererat kerukunan, serta meneruskan warisan budaya leluhur.
Salah seorang warga, Yanti, mengaku pelaksanaan Tradisi Rakanan tahun ini terasa lebih semarak dibandingkan tahun sebelumnya.
“Persiapannya sudah dimulai sejak pukul lima pagi untuk menyiapkan seluruh isi tenong,” katanya.
Antusiasme juga datang dari para pengunjung. Salah seorang wisatawan, Inem, mengaku sengaja datang untuk menyaksikan langsung prosesi Tenongan sekaligus merasakan kebersamaan masyarakat Giyanti.
“Saya dapat jajan, pisang, sama nasi. Ikut ramai-ramai, semoga tambah berkah,” ujarnya.
Melalui pelestarian Tradisi Rakanan yang terus dilakukan setiap tahun, masyarakat berharap Dusun Giyanti semakin dikenal sebagai destinasi wisata budaya di Kabupaten Wonosobo. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini diharapkan tidak hanya tetap lestari, tetapi juga mampu menarik lebih banyak wisatawan serta memberikan manfaat bagi perekonomian masyarakat setempat. (Diskominfo Wonosobo/Aris)
