Makna Tahun Baru Islam: Muhasabah dan Hijrah Menuju Indonesia yang Lebih Baik

Oleh : Sudarta Salman, S. E., M. M.
Dosen Bisnis dan Perekonomian Indonesia, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Palembang.
KoranRakyat.co.id —- Tahun Baru Islam yang jatuh pada 1 Muharram bukan sekadar pergantian penanggalan atau perayaan seremonial belaka. Di baliknya tersimpan makna sejarah dan spiritual yang mendalam, yang bersumber dari peristiwa agung Hijrahnya Rasulullah SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.
Peristiwa ini kemudian diabadikan oleh Khalifah Umar bin Khattab sebagai titik tolak penanggalan umat Islam, bukan karena peristiwa kelahiran atau kemenangan perang, melainkan karena Hijrah menjadi simbol perubahan besar: meninggalkan keburukan menuju kebaikan, dari penindasan menuju keadilan, dan dari perpecahan menuju persatuan.
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat di Indonesia saat ini, makna Hijrah menjadi sangat relevan. Kita menyaksikan berbagai tantangan sosial: merebaknya budaya individualisme, melemahnya rasa kebersamaan, hingga maraknya perselisihan yang dipicu oleh perbedaan pendapat, suku, atau keyakinan. Di sini, semangat Hijrah mengajak kita untuk berhijrah dari sikap yang hanya mementingkan diri sendiri menuju kepedulian terhadap sesama. Seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW di Madinah, ia berhasil menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar yang berbeda latar belakang menjadi satu komunitas yang saling tolong-menolong. Semangat ukhuwah ini menjadi fondasi penting untuk mempererat tali persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia, agar perbedaan tidak lagi menjadi sumber perpecahan, melainkan kekayaan yang memperkuat persatuan.
Dari sisi kehidupan beragama, Tahun Baru Islam menjadi momentum yang tepat untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Bagi umat Islam, ini adalah waktu untuk merenungkan sejauh mana amal ibadah dan akhlak yang telah dijalankan selama satu tahun terakhir. Apakah keimanan hanya berhenti pada ucapan, atau telah terwujud dalam perilaku sehari-hari yang jujur, amanah, dan santun?
Lebih dari itu, momen ini juga mengingatkan bahwa esensi beragama bukan hanya hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia. Di tengah maraknya kasus penyimpangan wewenang, korupsi, dan ketidakadilan, nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab yang diajarkan Islam menjadi solusi nyata. Beragama yang benar seharusnya melahirkan pribadi dan kelompok yang dapat dipercaya, bukan justru sebaliknya.
Sementara itu, dalam konteks bernegara, makna Tahun Baru Islam selaras dengan cita-cita luhur bangsa yang tercantum dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Prinsip keadilan sosial, persatuan Indonesia, dan kemanusiaan yang adil dan beradab sangat sejalan dengan nilai-nilai yang dibawa oleh peristiwa Hijrah. Saat ini, bangsa Indonesia sedang berupaya membangun berbagai program strategis untuk menyejahterakan rakyat, mulai dari ketahanan pangan, peningkatan kualitas pendidikan, hingga pemerataan ekonomi.
Di sinilah semangat Hijrah diartikan sebagai gerakan menuju perubahan yang lebih baik: berhijrah dari pola pikir yang instan dan mencari keuntungan pribadi menuju kerja keras dan pengabdian untuk kepentingan umum. Hijrah juga berarti berani meninggalkan kebiasaan buruk yang merugikan negara, seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta beralih ke tata kelola yang transparan dan akuntabel.
Akhirnya, Tahun Baru Islam mengajarkan bahwa perubahan tidak akan terjadi jika hanya menunggu keadaan berubah, tetapi dimulai dari keinginan kuat untuk memperbaiki diri sendiri. Semangat 1 Muharram hendaknya menjadi pengingat bahwa setiap lembaran waktu yang baru harus diisi dengan amal dan karya yang bermanfaat. Mari jadikan momen ini sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas diri, mempererat persaudaraan, dan bersama-sama mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya. (*)

