Kehidupan Keberagamaan Aparat Pemerintahan yang Terkesan Hanya Slogan.

Oleh: Asruri Muhammad
Pemerhati Sosial Keagamaan
KorabRakyat6.co.id —-Fenomena ini memang sering menjadi kritik masyarakat. Namun kita perlu bersikap adil.
Islam mengajarkan bahwa agama bukan sekadar simbol, slogan, atau seremonial, tetapi harus tercermin dalam amanah, kejujuran, keadilan, pelayanan kepada rakyat, dan keberpihakan kepada kemaslahatan umum.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3).
Karena itu, ukuran keberagamaan seorang pejabat bukan banyaknya slogan keagamaan yang diucapkan, tetapi sejauh mana nilai-nilai agama diwujudkan dalam kebijakan dan perilaku.
Meski demikian, kita juga harus menghindari generalisasi. Tidak semua pejabat demikian. Masih banyak aparatur negara dan pemimpin yang bekerja dengan jujur, amanah, dan memiliki komitmen keagamaan yang baik meskipun tidak banyak menampilkannya di hadapan publik.
- Sikap yang seharusnya diambil umat.
Sikap umat yang bijak adalah:
* Mendukung setiap kebaikan dan kebijakan yang maslahat.
* Mengkritik kesalahan dengan adab dan argumentasi yang benar.
* Tidak terjebak kultus individu maupun kebencian berlebihan.
* Mendoakan para pemimpin agar mendapatkan hidayah dan taufik.
* Menjadikan agama sebagai nilai yang hidup dalam perilaku, bukan sekadar slogan.
Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf: “Rusaknya rakyat sering berawal dari rusaknya pemimpin, namun baiknya pemimpin juga membutuhkan rakyat yang baik.”
Karena itu perbaikan bangsa tidak hanya dituntut dari pemimpin, tetapi juga dari seluruh elemen masyarakat. Agama harus hadir dalam akhlak, amanah, kejujuran, dan tanggung jawab, baik di kalangan penguasa maupun rakyat. Wallahu a’lam bish-shawab. (*)
