15 Juni 2026

Refleksi Haul Ke-5  Kiayi Nawawi Dencik : Dari Sandal Plastik Menuju Pelita  Qur’ani  Sumatera Selatan

Oleh : John Supriyanto

Dosen Ilmu Al Qur’an dan Tafsir UIN Raden Fatah dan Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an (STIQ) Al-Lathifiyyah Palembang

KoranRakyat,co,id —-Tidak semua ulama besar lahir dari lingkungan yang serba cukup. Sebagian justru ditempa oleh keterbatasan, kesederhanaan dan perjuangan hidup yang panjang. Demikian pula perjalanan hidup Kiyai Haji Kiagus Ahmad Nawawi Dencik Al-Hafizh, seorang tokoh Al-Qur’an Sumatera Selatan yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk menjaga, mengajarkan, dan membumikan Al-Qur’an di tengah masyarakat Palembang khususnya.

Kiyai Nawawi lahir pada tanggal 27 Februari 1959 di kawasan 1 Ulu Palembang, dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai tukang servis elektronik, sementara ibunya berjualan ikan dan kelempang untuk menopang kebutuhan keluarga yang memiliki sebelas orang anak. Dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas, masa kecil Kiyai Nawawi jauh dari kemewahan. Bahkan ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, ia terpaksa menghentikan pendidikan formal karena tidak mampu membeli seragam sekolah maupun sepatu.

Di usia ketika sebagian anak seusianya sibuk bermain, Kiyai Nawawi telah membantu orang tuanya mencari nafkah. Ia membersihkan ikan untuk dijual, mengikat rokok pucuk dari daun nipah, merakit atap daun kelapa, hingga mencuci piring di rumah makan. Namun keterbatasan ekonomi tidak pernah memadamkan semangatnya untuk belajar. Ketika pintu pendidikan formal tertutup, ia membuka pintu lain yang lain, yakni pendidikan kehidupan dan pendidikan Al-Qur’an.

dok

Bagi Kiyai Nawawi, kemiskinan bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru dari lorong-lorong kampung dan majelis-majelis kecil di kota Palembang, ia menemukan jalan hidupnya. Ia belajar Al-Qur’an kepada banyak ulama, berpindah dari satu pengajian ke pengajian yang lain, bahkan dengan rendah hati mengakui bahwa dirinya sering “mengintip” dan “mencuri dengar” ilmu dari berbagai majelis. Apa yang bagi orang lain mungkin tampak sebagai keterbatasan, namun bagi dirinya menjadi ruang belajar yang tak berbatas.

Kecintaan Kiayi Nawawi kepada Al-Qur’an tumbuh begitu kuat. Sebelum dikenal sebagai hafizh Al-Qur’an, ia terlebih dahulu dikenal sebagai qari’ yang memiliki kemampuan tilawah yang sangat baik. Berbagai prestasi diraihnya sejak usia muda. Tahun demi tahun, ia berhasil menorehkan prestasi dalam berbagai ajang lomba tilawah Al-Qur’an hingga menjadi juara tingkat provinsi maupun nasional, bahkan internasional.

Namun prestasi bukanlah tujuan utama hidupnya. Di balik suara merdu yang mengantarkannya menjadi juara, tersimpan kerinduan yang lebih besar: menjadi penjaga Al-Qur’an. Kerinduan itu membawanya berguru kepada para ulama besar Palembang, seperti KH. Abdul Roni, KH. Sjazily Moesthofa, KH. Dahlan Kandis, dan terutama KH. Abdul Rasyid Shiddiq yang kemudian menjadi guru utama sekaligus figur yang sangat memengaruhi perjalanan hidupnya.

Pertemuan kiyai Nawawi dengan KH. Abdul Rasyid Shiddiq menjadi titik balik yang menentukan. Dari guru inilah Kiyai Nawawi menempuh jalan tahfizh secara lebih serius. Setelah bertahun-tahun menghafal, murojaah, dan bertalaqqi, pada tahun 1984 ia berhasil menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an. Prosesi wisudanya di Masjid Agung Palembang menjadi momentum bersejarah, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi perkembangan tradisi tahfizh al-Qur’an di Sumatera Selatan.

Meski telah meraih berbagai prestasi, Kiai Nawawi tetap dikenal sebagai pribadi yang sangat tawadhu‘. Ia tidak pernah merasa dirinya besar. Bahkan ketika kelak mendirikan Pondok Pesantren Ahlul Qur’an, ia lebih suka menyebut dirinya sebagai “wisudawan pertama” daripada pendiri pesantren tersebut. Baginya, semua yang ia bangun adalah warisan para guru yang harus diteruskan, bukan pencapaian pribadi yang patut dibanggakan.

Kehidupan Kiyai Nawawi memperlihatkan bahwa keberhasilan sejati bukanlah tentang apa yang dimiliki seseorang, melainkan tentang apa yang diwariskannya kepada orang lain. Setelah dianugeri sebagai hafizh al-Qur’an 30 Juz terbaik 1 pada ajang MTQ Internasional di Arab Saudi dan kemudian menjadi imam tetap Masjid Al-Burhan pada awal tahun 1990-an, fokus pengabdiannya beralih pada pembinaan generasi Al-Qur’an. Ia mendirikan lembaga tahfizh Al-Haqqah yang kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Ahlul Qur’an dan Pondok Pesantren Tahfizh Al-Lathifiyyah.

Dari lembaga-lembaga inilah lahir ratusan bahkan ribuan penghafal Al-Qur’an yang kini tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Sebagian menjadi guru, imam, dai, akademisi, dan pemimpin masyarakat. Apa yang ditanam Kiyai Nawawi puluhan tahun lalu terus tumbuh menjadi pohon ilmu yang memberikan manfaat bagi banyak orang.

Namun kontribusi beliau tidak berhenti pada dunia pesantren. Kiyai Nawawi memiliki pandangan bahwa Al-Qur’an harus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya di ruang kelas atau asrama santri. Karena itu, ia menggagas berbagai kegiatan khataman dan sima’an Al-Qur’an secara rutin. Bahkan pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, ia membawa lantunan Al-Qur’an ke ruang publik melalui kegiatan sima’an di kawasan pedestrian Jalan Jend. Sudirman Palembang, yang tetap berlangsung hingga saat ini dan beralih di car free night Jalan Kolonel Atmo Palembang. Gagasan ini menunjukkan cara pandang beliau yang progresif namun tetap berakar pada tradisi. Baginya, dakwah tidak boleh terkurung di dalam tembok masjid. Al-Qur’an harus hadir di tengah denyut nadi kehidupan masyarakat, menyapa semua kalangan, dan menjadi bagian dari budaya publik.

Di bidang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Kiyai Nawawi juga memainkan peran yang sangat penting. Ia bukan hanya peserta berprestasi, tetapi juga pembina dewan hakim dan penggerak berbagai program pembinaan para qurra’ dan huffaz al-Qur’an. Melalui tangan dinginnya, Sumatera Selatan melahirkan banyak generasi Qur’ani yang mampu berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.

Sebagai Imam Besar Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo Palembang sejak tahun 2007, Kiyai Nawawi dikenal sebagai sosok yang teguh menjaga tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jama’ah. Ia mempertahankan amaliah yang diwariskan para ulama terdahulu, bukan karena sikap anti-perubahan, tetapi karena meyakini bahwa tradisi yang baik merupakan hasil kebijaksanaan panjang para pendahulu. Dalam dirinya berpadu keteguhan prinsip dan kelembutan akhlak.

Banyak santri mengenang bagaimana beliau rela naik angkutan umum untuk mengantar mereka mengisi khutbah, menjadi imam, atau memberikan ceramah di berbagai tempat, sebagai bentuk pengkaderan. Ia tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an melalui lisan, tetapi juga melalui keteladanan. Baginya, seorang guru bukan sekadar pengajar, melainkan pembimbing yang hadir dalam setiap tahap perjalanan spiritualitas murid-muridnya.

Pada tangga; 27 Juni 2021, Kiai Nawawi berpulang ke rahmatullah setelah menjalani perawatan akibat sakit yang dideritanya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Sumatera Selatan. Namun sesungguhnya, sosk seperti beliau tidaklah benar-benar pergi. Qs. Ali Imran : 169 menyebutkan “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang wafat di jalan Allah itu benar-benar mati. Bahkan mereka itu hidup dan mendapatkan rizki di sisi Tuhannya”. Jejak Kiayi Nawawi tetap hidup dalam ribuan hafalan Al-Qur’an yang terus dibaca para santrinya, dalam pesantren yang terus berkembang, dalam tradisi keilmuan yang tetap terjaga, dan dalam doa-doa yang senantiasa mengalir dari lisan-lisan para muhibbin dan murid-muridnya.

Kisah hidup Kiyai Kiagus Ahmad Nawawi Dencik Al-Hafizh mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mencapai kemuliaan. Dari seorang anak kampung yang tidak mampu membeli sepatu sekolah, ia tumbuh menjadi ulama Al-Qur’an yang menerangi Sumatera Selatan. Dari sandal plastik yang diikat dengan tali, ia melangkah menuju kemuliaan yang tidak dapat diukur oleh harta dan jabatan, melainkan oleh ilmu, ketulusan dan keberkahan.

Pada akhirnya, warisan terbesar Kiyai Nawawi bukanlah bangunan pesantren, jabatan atau prestasi yang pernah beliau raih. Warisan terbesarnya adalah lahirnya generasi-generasi pecinta Al-Qur’an yang akan terus menjaga cahaya kitab suci itu dari satu zaman ke zaman berikutnya. Wallahu a’lam. (*)