7 Juni 2026

Yang Dibutuhkan Kail, Bukan Ikan.


H Albar S Subari SH,MH

Mantan Instruktur SP2W. Ketua Koordinator Penerima Beasiswa Supersemar Unsri.

KoranRakyat.co.id —-Selogan ‘ yang dibutuhkan kail, bukan ikan,” populernya di Era Orde Baru, saat presiden Republik Indonesia bapak H. Soeharto mencanangkan program Hidup di atas kaki sendiri. Dampaknya membawa kemajuan negara menjadi makmur rakyat mudah mendapatkan sandang, pangan papan.

Semua cerita sudah berlalu, namun hanya kenangan dalam episode bernegara.

Kenapa harus kail yang diberikan oleh negara: karena dengan alat itu rakyat dapat melakukan aktivitas mencari rezeki dengan berusaha sendiri pergi memancing di mana sumber rezeki yang melimpah.

Di sisi lain pemerintah menyiapkan sarana dan prasarana sehingga masyarakat berbondong-bondong bondong menuju ke lokasi yang banyak ikannya. Dan dapat memilih ikan mana yang sesuai dengan seleranya.( Ikan patin, baung, gabus , sepat sampai ikan asin semua tersedia, tinggal mereka yang berusaha sendiri untuk mendapatkan nya. ( Sebagai ilustrasi/ gambaran di masa lalu).

ilustrasi lahan baru/sinar tani

Saya teringat di zaman itu ada pencanangan gerakan ” pembukaan satu juta hektar percetakan lahan sawah di Kalimantan”. Diantara nya diikuti oleh para alumni dari setiap perguruan tinggi negeri/ swasta saat itu, untuk ikut berperan. Yang mana sebelumnya kita dilatih dan di berikan pembekalan melalui yang namanya SP2W. ( Semua nya ada mahasiswa penerima beasiswa siswa Supersemar).

Beberapa kali melakukan pelatihan yang di pusatkan di pelatihan misal di Cilodong Jawa Barat dan beberapa kota di Indonesia.

Termasuk Palembang, Jambi, serta pengiriman tenaga SP2W ke beberapa kabupaten.

Penulis yang tergabung di program ini sebagai seorang instruktur pernah aktif mengirim tenaga sukarelawan beberapa tenaga alumni penerima beasiswa Supersemar ke kabupaten Bangka Belitung ( sebelum pemekaran).

Di lokasi di mana tenaga sukarelawan tersebut ditempatkan mereka akan melatih masyarakat sekitarnya untuk melakukan aktivitas sesuai dengan ilmu dan kondisi masing masing tempat untuk beberapa lama, bahkan ada yang sampai berumah tangga berasimilasi dengan penduduk setempat.

Apa yang kita lihat dewasa’ ini, generasi muda penerus bangsa Indonesia menuju satu abad kemerdekaan ( Indonesia Emas 2045). Banyak persoalan yang dihadapi.

Anak anak dari PAUD sampai Pendidikan Atas, bahkan sudah ada rencana Mahasiswa akan bisa menikmati hidangan yang mereka konsumsi tanpa harus pergi dulu mengail ikan di lubuk nya, tapi ikan sudah bisa datang sendiri. Begitu manja nya generasi melineal.

Tulisan ini hanya sekedar perbandingan dari satu generasi lansia yang masih sempat dan bersemangat bercerita buat kenangan setidaknya untuk dirinya sendiri. (*)