Menjadi Pengurus Organisasi Siswa atau Mahasiswa, Mengapa Tidak?

Oleh : Sudarta SE, MM
Dosen Manajemen UM Palembang.
KoranRakyat.co.id-Awal tahun ajaran atau tahun akademik selalu menjadi momen penuh harapan sekaligus ketegangan. Di sekolah maupun di kampus, suasana berubah riuh saat tiba masa pergantian kepengurusan organisasi.
Banyak siswa dan mahasiswa sebenarnya memiliki kemampuan, ide segar, dan kepedulian tinggi untuk memajukan organisasi. Namun, ketika harus melangkah maju mencalonkan diri sebagai ketua, kaki terasa berat melangkah. Jantung berdegup kencang, telapak tangan berkeringat, dan pikiran dipenuhi keraguan: “Apakah saya mampu?” “Bagaimana jika salah bicara?” “Apa nanti ditertawakan senior?”
Perasaan grogi, lutut gemetar, atau suara yang sedikit bergetar saat tampil di depan umum—terutama di hadapan mereka yang lebih senior—adalah hal yang sangat wajar. Bahkan pemimpin besar pun pernah merasakannya. Namun sering kali, keraguan inilah yang membuat potensi besar tidak tersalurkan, dan organisasi kehilangan pemimpin yang seharusnya mampu membawa perubahan.
Selain penguasaan materi dan gagasan yang matang, kepercayaan diri adalah modal utama yang membuat orang lain percaya pada kita. Kepercayaan diri bukan berarti merasa paling hebat atau tidak takut salah, melainkan keyakinan bahwa kita siap belajar, berusaha sebaik mungkin, dan layak mendapat kesempatan untuk mengabdi.
Mengapa Kita Perlu Percaya Diri?
Ketika kita mencalonkan diri sebagai pemimpin organisasi, yang kita tawarkan bukan sekadar jabatan, melainkan niat tulus untuk melayani teman-teman, menyatukan langkah, dan mewujudkan cita-cita bersama. Kepercayaan diri membuat pesan yang kita sampaikan sampai dengan jelas, membuat teman-teman merasa tenang dan yakin bahwa mereka memilih orang yang tepat. Sebaliknya, jika kita sendiri ragu, bagaimana mungkin orang lain berani mempercayakan tanggung jawab besar kepada kita?
Tips Ringan Tampil Percaya Diri Tetapi Tetap
Berikut langkah sederhana yang bisa Anda latih, khususnya bagi Anda yang baru pertama kali maju mencalonkan diri:
- Mulai dari Niat yang Benar
Saat berdiri di depan, ingatlah: “Saya ke sini bukan untuk pamer atau mencari nama, tapi ingin berbuat baik dan melayani.” Niat tulus melayani akan menyingkirkan rasa takut dinilai atau dikritik, dan membuat hati menjadi tenang.
- Kuasai Apa yang Ingin Disampaikan
Anda tidak perlu menghafal kata demi kata. Cukup pahami gagasan utama: apa yang ingin diubah, apa kelebihan Anda, dan bagaimana cara mencapainya. Penguasaan materi adalah obat paling ampuh untuk menghilangkan grogi.
- Bicara Jelas, Tenang, dan Tidak Terburu-buru
Jika suara bergetar, tarik napas dalam-dalam sebentar lalu lanjutkan. Ucapkan kata dengan tegas namun lembut. Hindari kata pengisi seperti “anu”, “eh”, atau “kayaknya” berlebihan. Gunakan kalimat pasti: “Saya berpendapat…” atau “Saya mengusulkan…”
- Bahasa Tubuh yang Sopan dan Tegap
– Berdirilah tegak, jangan membungkuk atau menyandarkan badan.
– Tataplah wajah hadirin secara bergantian, sesekali senyum. Tidak perlu menatap tajam, cukup tatap dengan ramah.
– Tangan diletakkan di samping badan atau di depan perut dengan tenang, jangan dimasukkan ke saku atau saling memeluk erat.
- Hargai Semua Orang yang Hadir
Awali dan akhiri dengan salam serta ucapan terima kasih. Saat merespons pendapat lain, gunakan kalimat penghargaan: “Terima kasih atas pertanyaannya, mas/mbak/pak/bu. Pandangan itu sangat berharga, izinkan saya menjelaskan…” Sikap menghargai justru menunjukkan jiwa pemimpin yang berkelas.
- Berani Mengakui Batas Kemampuan
Jika ada pertanyaan yang belum Anda ketahui jawabannya, katakan dengan tenang: “Maaf, untuk data itu saat ini belum saya miliki secara pasti. Nanti akan saya telusuri dan sampaikan segera.” Mengakui hal ini justru membuat orang lain menghargai kejujuran dan kedewasaan Anda.
- Ingat: Tidak Ada yang Sempurna
Senior pun pernah berada di posisi Anda sekarang. Mereka memahami perasaan Anda. Mereka lebih menghargai calon pemimpin yang berani maju dengan niat baik daripada yang diam saja karena takut salah. Lakukan yang terbaik, sisanya biarkan orang lain yang menilai.
Menjadi ketua organisasi adalah langkah awal belajar memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain. Jangan biarkan rasa takut mengalahkan potensi yang Allah titipkan kepada Anda. Majulah dengan hati yang tenang, sikap yang sopan, dan keyakinan bahwa usaha tulus tidak akan sia-sia. Siapa tahu, dari langkah kecil ini lahir pemimpin masa depan yang dicintai dan bermanfaat bagi banyak orang. (*)

