29 Mei 2026

Dengan Strategi Senyap Sumbar Bisa Jadi Kiblat Ekonomi Syariah Nasional

KoranRakyat.co.id —–Di tengah perlambatan ekonomi global dan tekanan terhadap daya tahan ekonomi daerah, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) justru memilih jalur yang berbeda. 

Bukan hanya mengejar investasi konvensional atau industrialisasi biasa, Ranah Minang kini mempercepat pembangunan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah terintegrasi yang diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan baru daerah.

Mengutip laman mozaik.inilah.com dijelaskan langkah itu dinilai bukan sekadar program ekonomi biasa. Di balik penguatan sektor halal, keuangan syariah, hingga digitalisasi ekonomi umat, tersimpan strategi besar menjadikan Sumbar sebagai salah satu pusat ekonomi syariah nasional berbasis budaya lokal dan kekuatan sosial masyarakat.

Pemerintah daerah melihat ekonomi syariah bukan lagi sekadar simbol identitas religius, melainkan instrumen strategis menghadapi ancaman krisis ekonomi, memperkuat UMKM, hingga menjaga ketahanan sosial masyarakat.

Strategi Senyap

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menegaskan penguatan ekonomi dan keuangan syariah menjadi agenda penting pembangunan daerah ke depan. “Sumbar terus mendorong penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah yang terintegrasi sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Mahyeldi di Kota Padang, Senin (25/5/2026).

Di tengah persaingan antardaerah merebut investasi nasional, Sumbar justru mengembangkan pendekatan berbeda dengan menjadikan budaya lokal sebagai fondasi ekonomi modern.

Menurut Mahyeldi, falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” bukan hanya identitas budaya, tetapi modal sosial yang sulit dimiliki daerah lain dalam membangun ekonomi syariah yang kuat dan berkelanjutan. “Sumbar punya modal kuat menjadikan ekonomi syariah sebagai penggerak pertumbuhan baru yang manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat. Ini yang perlu kita optimalkan ke depannya,” tegas gubernur.

Strategi itu dinilai penting karena banyak daerah hanya fokus membangun industri halal di permukaan, tetapi gagal membentuk integrasi antara sektor riil, pembiayaan syariah, dan pemberdayaan masyarakat.

Mesin Baru

Perkembangan sektor halal di Sumbar kini bergerak semakin luas. Mulai dari kuliner halal, fesyen muslim, pariwisata halal, hingga pengelolaan zakat produktif mulai menjadi bagian penting aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.

Fenomena itu memperlihatkan ekonomi syariah di Sumbar tumbuh secara organik dari bawah, bukan semata proyek birokrasi pemerintah.

Dalam konteks nasional, model seperti ini dinilai strategis karena ekonomi syariah Indonesia selama ini masih menghadapi persoalan klasik, tingginya konsumsi produk halal, tetapi lemahnya penguasaan industri dan pembiayaan syariah domestik.

Karena itu, Sumbar mencoba membangun integrasi ekosistem agar pelaku UMKM halal tidak hanya mampu memproduksi barang, tetapi juga mendapatkan akses pembiayaan, digitalisasi pemasaran, hingga penguatan jejaring ekonomi umat. “Ekonomi syariah harus hadir sebagai kekuatan dan solusi nyata untuk membuka peluang usaha, memperkuat UMKM dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata dia.

Tantangan Besar

Meski memiliki modal budaya yang kuat, Pemerintah Provinsi Sumbar mengakui masih terdapat tantangan serius yang harus diselesaikan.

Salah satu persoalan utama ialah rendahnya literasi masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan syariah. Selain itu, integrasi antara industri halal dan sektor keuangan syariah juga dinilai belum optimal.

Jika tantangan ini tidak segera diatasi, ekonomi syariah dikhawatirkan hanya berkembang sebagai simbol identitas tanpa mampu menjadi kekuatan ekonomi nyata.

Karena itu, Mahyeldi menilai pengembangan ekonomi syariah harus dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan pemerintah daerah, lembaga keuangan, perguruan tinggi, pelaku usaha, hingga komunitas masyarakat.

Pendekatan kolaboratif ini dinilai penting karena persaingan ekonomi global ke depan bukan lagi sekadar perebutan sumber daya alam, tetapi perebutan ekosistem ekonomi berbasis kepercayaan, budaya, dan digitalisasi.

Sinyal Nasional

salah satu produk,UMKM Sumbar

Momentum penguatan ekonomi syariah Sumbar juga terlihat melalui berbagai agenda daerah, salah satunya DAUN Syariah Festival yang menjadi bagian dari rangkaian menuju Festival Ekonomi Syariah (FESyar) 2026.

Ajang tersebut diharapkan tidak hanya memperluas literasi dan inklusi ekonomi syariah masyarakat, tetapi juga mempertegas posisi Sumbar sebagai rujukan nasional pengembangan ekonomi syariah berbasis budaya dan inovasi digital.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar Mohamad Abdul Majid Ikram menyebut ekonomi dan keuangan syariah kini telah menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan. “Sumatera Barat memiliki modal budaya dan sosial yang sangat kuat untuk menjadi pusat pengembangan ekonomi syariah di Indonesia,” ujarnya.

Ia mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Sumbar saat ini tetap positif dengan capaian 5,02 persen.

Penguatan ekosistem ekonomi syariah diyakini mampu menjadi pendorong baru pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi ketidakpastian ekonomi global. (*)