Blackout Massal di Sumatera Bukan Sabotase, Ternyata Ini Biang Keroknya

KoranRakyat.co.id —–Banyak yang bertanya-tanya dengan analisa dan kesimpulan masing-masing penyebab ambruknya sistem kelistrikan yang membuat enam provinsi di Pulau Sumatera gelap gulita Sabtu (23/5/2026) lalu.
Lansir inilah.com akhirnya teka-teki penyebab ambruknya sistem kelistrikan yang membuat enam provinsi di Pulau Sumatera gelap gulita terkuak. Korps Bhayangkara memastikan petaka blackout massal tersebut murni karena masalah teknis dan faktor alam, bukan akibat aksi kriminal.
Kesimpulan tersebut diambil setelah penyidik mencermati kerusakan fisik pada infrastruktur jaringan yang lumpuh. Polisi mendapati bukti kuat bahwa kerusakan yang terjadi sama sekali tidak menunjukkan adanya intervensi manusia secara sengaja.

“Kenapa kami bisa pastikan kalau ini bukan sabotase, karena kerusakan atau putusnya kabel atau jaringan ini tidak rapi. Dia lebih bersifat berbentuk serabut, kalau itu sabotase pasti potongannya lebih rapi,” cetus Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Wakabareskrim) Irjen Nunung Syaifuddin saat menggelar konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Nunung menegaskan, kepolisian tidak mau berspekulasi tanpa dasar. Di samping memeriksa bukti fisik, Bareskrim Polri juga sudah bergerak meminta keterangan dari sejumlah saksi di lapangan guna mencaritahu duduk perkara dari hulu ke hilir.
Ia menjamin pengusutan pemadaman massal ini diproses tanpa ada yang ditutup-tutupi. “Seluruh proses investigasi kami lakukan secara profesional, transparan, dan komprehensif untuk memastikan penyebab utama kejadian secara ilmiah dan akuntabel,” urainya.

Dari hasil pelacakan awal, polisi mengindikasikan bahwa hantaman cuaca buruk menjadi pemicu utama robohnya interkoneksi kelistrikan di sana.
“Sampai dengan saat ini bisa kami pastikan tidak ditemukan adanya indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan dalam peristiwa tersebut,” kata Nunung.
“Dugaan sementara mengarah pada faktor teknis dan cuaca yang ekstrem yang menyebabkan gangguan sistem kelistrikan,” imbuh jenderal bintang dua tersebut.
Kasus blackout ini sebelumnya sempat memicu kepanikan warga pada Jumat (22/5) malam. Malapetaka sektor energi itu awalnya menghantam Provinsi Riau sekitar pukul 18.44 WIB, sebelum akhirnya efek domino pemadaman meluas ke Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, hingga Lampung.
PLN sendiri mengakui adanya kendala besar pada sistem transmisi bertegangan 150 kiloVolt (kV) serta sektor pembangkitan, yang berujung pada lepasnya interkoneksi antardaerat.
“Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Info sementara pukul 18.44 WIB sistem Sumatera Bagian Utara-Sumatera Bagian Tengah terpisah dan Sumatera Bagian Utara padam total,” bunyi rilis resmi PLN yang disiarkan saat malam kejadian. (*)
