17 April 2026

Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Bubar di Tengah Saling Ancam Gegara Ulah Israel  

KoranRakyat.co.id — Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS)-Iran terancam bubar di tengah saling ancam gegara ulah  Zionis Israel.

Dilansir Inilah.com, kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini berada di ujung tanduk. Alih-alih meredakan eskalasi, kedua kubu justru saling lempar ancaman untuk membatalkan gencatan senjata. Pemicu utamanya tak lain adalah manuver Israel yang dianggap menjadi ‘biang kerok’ perusak perdamaian.

Ketegangan baru ini meletus setelah militer Israel menolak mengerem mesin perangnya. Sejak gencatan senjata resmi diberlakukan pada Rabu (8/4/2026), rezim Zionis justru melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Lebanon. Laporan terbaru menyebutkan gempuran mematikan tersebut telah merenggut nyawa 254 orang dan menyebabkan 1.165 lainnya terluka parah.

Ultimatum Keras Teheran

Bagi Iran, serangan Israel ke Lebanon adalah bentuk pengkhianatan terhadap substansi kesepakatan. Melansir kantor berita Tasnim, sumber internal di Teheran menegaskan bahwa pemerintah Iran tengah meninjau serius manuver Israel yang dinilai sebagai “pelanggaran yang terus berlanjut”.

Teheran memberikan ultimatum yang sangat jelas: jika serangan ke sekutunya tidak segera dihentikan, Iran siap menarik diri sepenuhnya dari meja perundingan.

“Iran akan keluar dari perjanjian jika rezim Israel terus melanggar gencatan senjata dengan menyerang Lebanon,” tegas sumber tersebut, seperti dikutip Middle East Monitor.

Berdasarkan interpretasi Iran, gencatan senjata yang disepakati dengan Washington seharusnya bersifat komprehensif, yakni mencakup penghentian agresi di seluruh front pertempuran, tak terkecuali di Lebanon.

Ancaman Balasan Donald Trump

Gertakan Teheran langsung disambut dengan respons agresif dari Washington. Presiden AS, Donald Trump, menggunakan platform Truth Social untuk melancarkan ancaman balasan. Trump menegaskan, jika Iran berani membatalkan atau melanggar “perjanjian yang sebenarnya”, militer AS siap memberikan mimpi buruk bagi Teheran.

“Jika hal itu tidak terjadi, yang mana sangat tidak mungkin, maka serangan akan kembali dilakukan, yang lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari yang pernah dilihat siapa pun,” tulis Trump dengan nada provokatif.

Trump mematok syarat mutlak bagi Iran selama dua pekan masa gencatan senjata ini. Pertama, Iran harus menghentikan segala upaya untuk memperoleh senjata nuklir. Kedua, Teheran wajib menjamin bahwa perairan strategis Selat Hormuz tetap “terbuka dan aman” bagi arus ekonomi global.

“Selama kurun waktu ini, militer kami yang hebat akan mempersiapkan diri dan beristirahat untuk menantikan penaklukan berikutnya,” tambah Presiden ke-47 AS tersebut.

Nasib Negosiasi di Pakistan

Kini, nasib stabilitas Timur Tengah digantungkan pada seutas benang yang sangat rapuh. Perang urat saraf dan saling ancam ini menebarkan pesimisme jelang negosiasi tingkat tinggi yang rencananya akan digelar di Islamabad, Pakistan, pada 10 April mendatang.

Dunia kini menanti, apakah diplomasi di meja perundingan mampu meredam ego para pemimpin negara, atau justru ‘ulah’ Israel di Lebanon akan menjadi pemantik meledaknya perang terbuka yang jauh lebih dahsyat. (*)