30 April 2026

Debat Cawabup Lahat Panas, Budiarto dan Widia Saling ‘Serang’ Soal Tupoksi DPRD

LAHAT | Koranrakyat.co.id – Debat Publik tahap kedua pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Lahat, yang berlangsung di Hotel Santika Lahat, Rabu (20/11/2024), sempat memanas.  Hal itu terjadi pada sesi tanya jawab paslon, dimana masing-masing Cawabup mulai mengulik fungsi dan tugas masing-masing. Apa saja yang sudah dikerjakan untuk rakyat ketika masih menjabat di pemerintahan, baik eksektif maupun legislatif.

Pertanyaan yang sempat membuat ‘tegang’ suasana, dilontarkan oleh Budiarto Masrul, Cwabup Nomor Urut 01 kepada Cawabup 02, Widia Ningsih. Budiarto bertanya apa saja yang telah dilakukan Widia ketika menjabat anggota DPRD Lahat, terhadap masalah kemacetan dan debu batubara. Bahkan kedua persoalan tersebut, masih menjadi masalah serius bagi masyarakat di Kikim Area dan Merapi Area, Kabupaten Lahat.

Menjawab pertanyaan itu, dengan ‘enteng’ Winda mengatakan bahwa persoalan itu bukan kewenangan DPRD. Tupoksi DPRD, menurutnya hanya sebagai lembaga Budgeting, kontrol sosial dan pembuat Undang-undang atau peraturan daerah. Mendengar jawaban ini, Budiarto pun hanya tersenyum.

“Tampaknya meskipun pernah menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi, sepertinya pak Budiarto ini kurang memahami tugas dan tanggung jawab dari anggota DPRD, dimana tugas DPRD itu antara lain Control Social, Budgeting dan Legislasi membuat dan mengesahkan peraturan daerah,” ungkap Widia mencoba men-skakmat, yang justru lagi-lagi membuat Budiarto tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

Suara riuh pun langsung terdengar, ketika Budiarto mengatakan justru Widia Ningsih lah, tidak faham dengan Tupoksi DPRD, meskipun sudah pernah menjadi anggota legsislatif. Budiarto justru menilai Widia hanya mengenal Tupoksi DPRD tapi tidak mengerti penjabarannya.

Budiarto pun langsung memberikan tanggapan, bahwa salah satu fungsi legislatif adalah control social terhadap pelaksanaan kebijakan pemerintah (ekseskutif). itulah yang merupakan kewenangan bagi seorang anggota DPRD untuk memantau kebijakan pemerintah di lapangan terlebih yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Seperti masalah Kemacatan dan Debu Batubara tersebut.

Dikatakan, kedua masalah ini bisa diatasi andai saja DPRD memberikan kritik dan meminta pemerintah membuat kebijakan yang adil untuk mengatasi persoalan ini. Apakah itu pernah dilakukan?

“Sepertinya ibu Widia ini masih kurang memahami tugas dan fungsi Anggita DPRD, dimana sebenarnya DPRD itu, termasuk unsur pimpinannya, juga punya hak untuk melakukan pengawasan terhadap segala akibat kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Seperti ketika saya masih anggota DPRD Provinsi. Saya juga ikut mengawasi dan membicarakan bagaimana solusi terkait kemacetan dan debu angkutan batubara yang ada di Merapi Area,” tegas Budiarto disambut tepuk tangan dan riuh suara para pendukungnya.

Jawaban ‘telah’ dari Budoarto ini, alhasil memuat Cawabup 02 itu menjadi terdiam. Para audien yang hadirpun memberikan apresiasi kepada pasangan calon 01, yakni Yulius Maulana dan Buudiarto Marsul.  Dan sesi berikutnya pertanyaan diarahkan kepada Cawabup 03, Haryanto.

Terpaku Teks

Sementara itu untuk Paslon nomor urut 3, Cawabup Haryanto, terlihat sangat grogi ketika menerima pertanyaan, dan semuanya dijawab terpaku pada teks yang sudah dibuatkan oleh tim suksesnya. Disamping itu saat menjawab pertanyaan, Cawabup ini terkesan kurang menguasai materi.

EF, salah seorang warga yang juga ikut nonton debat itu berkomentar, terkait pendapat Widia Ningsih yang terlihat kurang faham tugas sebagai anggota DPRD Lahat. Bagi EF Widia mungkin bukan tidak mengerti bahwa Jabaran dari social control sebagai anggota DPRD Kabupaten Lahat.

“Dia itu bukan tidak mengerti, tapi tidak mau atau tidak bisa, pasalnya usaha angkutan batubara milik keluarganya juga ikut menciptakan debu dan kemacetan itu, makanya si Widia belum berani mengambil langkah konkret untuk atasi masalah tersebut,” ucapnya.

Selanjutnya salah seorang penggiat media social, yang menyaksikan langsung melalui live YouTube, usai debat memberikan penilaian tersendiri, yang mengisyaratkan Paslon 1 menguasai materi, Paslon 2 tidak mengerti tugas pokok dan fungsi DPRD dan Paslon 3 sangat grogi, tidak menguasai materi debat dan suara tidak jelas. Sehingga Budiarto pun sempat meminta diulang pertanyaannya.

Adapun kesimpulkan penggiat media sosial ini menngkalsifikasikan tanggapannya sbb:

1. Budiarto Marsul terlihat lebih santai, tepat dan efisien, paham apa tugas dan wewenang Eksekutif dan legislatif, penjelasannya runut dan benar bukan ngalor ngidul.

2. Widya Ningsih terlihat sedikit gugup dan grogi, tidak paham tugas legislatif yakni Legislasi (membuat peraturan) Budgeting (anggaran) dan Control (Pengawasan).

Dan terakhir Wabup Paslon 3, Haryanto, dinilai tidak menarik, suaranya tidak jelas, monoton karena terpaku dengan teks.

Hadir dalam acara debat publik ke-dua tersebut Perwakilan Bupati Lahat, Dandim 0405 Lahat, Kapolres Lahat, Kajari Lahat, Kepala Pengadilan Lahat dan tamu undangan lainnya, serta seluruh tim pemenangan masing masing Paslon Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Lahat. (lh)