30 Agustus 2026

SURAT TERBUKA DARI AKADEMISI

 

Kepada Yth.

Presiden Republik Indonesia

di Jakarta

KoranRakyat.co.id —Perihal: Memohon Perhatian dan Kebijakan Strategis terhadap Konektivitas Bengkulu–Lubuk Linggau serta Pengembangan Koridor Pelabuhan Pulau Baai–Muara Enim

Dengan hormat

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Saya, Supli Effendi Rahim, Dosen dan Kaprodi S2 Ilmu Pertanian PPs UM Palembang, menyampaikan surat terbuka ini sebagai bentuk kepedulian akademik terhadap masa depan pembangunan ekonomi dan konektivitas wilayah Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Bapak Presiden yang kami hormati,

Bengkulu memiliki potensi ekonomi yang besar, khususnya di bidang pertanian, perkebunan, kelautan, perikanan, serta sumber daya alam. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan nilai tambah yang optimal karena masih menghadapi persoalan konektivitas, biaya logistik, akses pasar, dan keterhubungan dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera.

Dalam perspektif pembangunan wilayah, Jalan Tol Bengkulu–Lubuk Linggau bukan sekadar proyek jalan. Jalan tersebut merupakan instrumen strategis untuk membuka keterisolasian wilayah, memperpendek rantai distribusi, meningkatkan mobilitas barang dan manusia, memperluas pasar produk pertanian, serta menarik investasi.

Lebih jauh lagi, konektivitas Bengkulu seharusnya tidak berhenti pada Lubuk Linggau. Perlu dipikirkan suatu koridor ekonomi Bengkulu–Lubuk Linggau–Muara Enim yang terintegrasi dengan Pelabuhan Pulau Baai.

Bayangkan apabila hasil kopi, karet, sawit, perikanan, hortikultura dan berbagai produk pertanian dari Bengkulu dapat bergerak lebih cepat menuju pusat industri dan pasar Sumatera Selatan, sekaligus menuju pelabuhan untuk pasar nasional dan ekspor.

Maka yang dibangun bukan hanya jalan.

Yang dibangun adalah ekosistem ekonomi.

Yang dibangun adalah kesempatan petani mendapatkan pasar yang lebih luas. Yang dibangun adalah peluang industri pengolahan tumbuh di daerah. Yang dibangun adalah lapangan pekerjaan. Yang dibangun adalah daya saing daerah.

Karena itu, kami memohon kepada Bapak Presiden agar pembangunan konektivitas Bengkulu memperoleh perhatian strategis dalam kebijakan pembangunan nasional.

Apabila keterbatasan fiskal menjadi kendala, kiranya pemerintah dapat mempertimbangkan strategi pembangunan bertahap dan terpadu, termasuk optimalisasi skema KPBU, penguatan jalan nasional dan jalan logistik, pengembangan Pelabuhan Pulau Baai, serta penyusunan studi kelayakan koridor ekonomi Bengkulu–Lubuk Linggau–Muara Enim.

Kami tidak sedang meminta pembangunan infrastruktur hanya berdasarkan pertimbangan emosional daerah.

Kami justru mengusulkan agar keputusan tersebut dilakukan berdasarkan kajian ilmiah dan perhitungan manfaat ekonomi yang terukur.

Pertanyaan utamanya bukan semata-mata berapa biaya yang diperlukan untuk membangun jalan, tetapi:

Berapa besar biaya logistik yang dapat dihemat?

Berapa besar nilai tambah pertanian yang dapat diciptakan?

Berapa banyak investasi yang dapat masuk?

Berapa banyak lapangan pekerjaan yang dapat dibuka?

Dan berapa besar peningkatan kesejahteraan masyarakat yang dapat dihasilkan?

Jika manfaat ekonominya jauh lebih besar daripada biaya sosial dan investasinya, maka pembangunan konektivitas tersebut layak dipandang sebagai investasi pembangunan jangka panjang, bukan sekadar pengeluaran pemerintah.

Bapak Presiden yang kami hormati,

Dari sudut pandang ilmu pertanian, jalan yang baik akan menjadi lebih bermakna apabila mampu membawa hasil pertanian dari kebun dan desa menuju pasar dengan biaya yang lebih rendah dan waktu yang lebih singkat.

Petani tidak cukup hanya diberi bantuan produksi.

Petani juga harus diberikan akses menuju pasar.

Dan salah satu bentuk akses pasar tersebut adalah infrastruktur transportasi yang efisien.

Karena itu, kami berharap pemerintah pusat dapat melihat Bengkulu bukan sebagai daerah yang berada di ujung jaringan ekonomi Sumatera, tetapi sebagai pintu strategis Indonesia bagian barat melalui konektivitas darat dan Pelabuhan Pulau Baai.

Kami percaya bahwa pembangunan yang baik bukan hanya membangun pusat pertumbuhan yang sudah maju, tetapi juga membuka wilayah yang memiliki potensi agar mampu menjadi pusat pertumbuhan baru.

Semoga Bapak Presiden berkenan memberikan perhatian terhadap aspirasi ini dan mendorong kajian yang lebih komprehensif mengenai masa depan konektivitas Bengkulu–Lubuk Linggau serta alternatif pengembangan koridor *Pelabuhan Pulau Baai–Muara Enim*.

Surat terbuka ini kami sampaikan bukan atas nama kepentingan pribadi, melainkan sebagai sebuah *gagasan akademik dan kepedulian terhadap pembangunan wilayah, pertanian, konektivitas, dan kesejahteraan masyarakat*.

Semoga ikhtiar ini menjadi bagian dari usaha bersama untuk menghadirkan pembangunan Indonesia yang semakin merata, produktif, dan berkeadilan.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Palembang, 2026

Hormat saya,

Prof. Dr.Ir H Supli Effendi Rahim

Dosen dan Kaprodi S2 Ilmu Pertanian

PPs UM Palembang