18 Agustus 2026

Wonosobo Bawa Tradisi Balon Udara ke Panggung Internasional di Meksiko

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Komunitas Balon Udara Wonosobo akan membawa tradisi balon udara khas daerah ke panggung internasional. Mereka mendapat kesempatan mewakili Indonesia dalam Festival Internacional Del Globo yang digelar di Tahmek, Yucatán, Meksiko, pada 22-23 Agustus 2026.

Festival tersebut mempertemukan pegiat balon udara dari berbagai negara dengan karya dan karakter balon yang beragam. Selain menjadi ruang untuk menyaksikan penerbangan balon, festival ini juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk memperkenalkan tradisi balon udara dari daerah asalnya.

Kesempatan bagi Komunitas Balon Udara Wonosobo berawal dari hubungan mereka dengan pegiat balon udara asal Brasil dan Kolombia yang pernah berkunjung ke Wonosobo sekitar dua tahun lalu. Keduanya kemudian merekomendasikan Indonesia kepada penyelenggara festival di Meksiko.

“Dua tahun sebelumnya ada teman-teman dari Brasil dan Kolombia yang datang ke Wonosobo. Mereka sering mengikuti festival balon di luar negeri, termasuk di Meksiko dan Kolombia,” kata Ketua Komunitas Balon Udara Wonosobo, Agam Setyobudi, saat dikonfirmasi melalui telepon pada Senin (17/08/2026).

Rekomendasi tersebut berlanjut dengan komunikasi antara penyelenggara festival dan komunitas di Wonosobo. Indonesia kemudian mendapat kesempatan untuk ambil bagian dalam festival yang berlangsung di Tahmek.

Untuk mengikuti festival itu, Komunitas Balon Udara Wonosobo menyiapkan dua balon. Salah satunya membawa konsep persahabatan Indonesia dan Meksiko, dengan desain yang memadukan sejumlah unsur budaya dari kedua negara.

Pengerjaan balon dilakukan secara gotong royong. Sekitar 20 tim dari komunitas balon udara terlibat dalam proses pembuatan, sementara balon lainnya dikerjakan dengan dukungan sejumlah sponsor, termasuk perusahaan dan universitas.

Dukungan terhadap proyek tersebut juga datang dari luar Wonosobo. Sejumlah pihak dari Kalimantan hingga Purwokerto turut membantu persiapan keberangkatan komunitas ke Meksiko.

Proses produksi dua balon membutuhkan waktu sekitar 30 hari. Masing-masing tim mengerjakan bagian yang telah ditentukan berdasarkan desain sehingga setiap potongan harus dibuat dengan ukuran yang presisi.

Tantangan muncul ketika tim harus mencari kertas dengan warna tertentu yang tidak tersedia di Wonosobo. Bahan tersebut akhirnya dicari melalui toko daring.

Selain persoalan bahan, pengerjaan secara kolektif membuat koordinasi menjadi bagian penting dalam proses produksi. Kesalahan ukuran meski hanya satu atau dua sentimeter dapat memengaruhi bagian lain dan akhirnya mengubah bentuk keseluruhan balon.

“Karena dibuat oleh banyak orang dan banyak tim, kalau ada salah satu yang salah, misalnya salah satu atau dua sentimeter, otomatis akan berdampak ke semua,” ujar Agam.

Dalam merancang tampilan balon, komunitas tidak hanya memasukkan identitas Wonosobo. Unsur Indonesia dipadukan dengan elemen Meksiko untuk menggambarkan hubungan kedua negara.

Desain tersebut memuat ornamen batik, tulisan Wonosobo, serta figur dengan pakaian tradisional. Menurut Agam, bentuk balon juga menjadi bagian yang membedakan karakter balon dari satu negara dengan negara lainnya.

Balon Wonosobo selama ini memiliki bentuk yang menjadi ciri tersendiri. Sementara balon Kolombia banyak menggunakan bentuk bintang, sedangkan balon Brasil cenderung lonjong dengan bagian atas menyerupai sanggul.

Di tengah persiapan tersebut, persoalan anggaran menjadi salah satu kendala. Komunitas semula berencana mengirim dua orang ke Meksiko, tetapi keterbatasan dana membuat hanya satu orang yang akhirnya diberangkatkan.

Anggaran yang tersedia sekitar Rp50 juta dan belum mencukupi seluruh kebutuhan, mulai dari produksi balon hingga biaya keberangkatan.

“Karena keterbatasan anggaran, akhirnya berangkat cuma satu orang. Saya sendiri masih perlu mengeluarkan biaya pribadi,” katanya.

Selama pelaksanaan festival, Agam juga akan mendapat bantuan dari pegiat balon udara asal Brasil dan Kolombia. Sementara Pemerintah Kabupaten Wonosobo melalui Dinas Pariwisata memberikan dukungan anggaran dan moral.

Komunitas turut mengajukan proposal kepada kementerian, sejumlah perusahaan besar, dan BUMN untuk mendapatkan tambahan dukungan.

Selain mempersiapkan kebutuhan keberangkatan, komunitas juga harus memahami mekanisme penerbangan balon yang diterapkan di Tahmek. Aturan tersebut berbeda dengan cara penerbangan balon yang selama ini dilakukan di Wonosobo.

Di Wonosobo, balon umumnya diterbangkan dalam kondisi ditambatkan. Sementara di Tahmek, dua balon yang dibawa dari Indonesia akan dilepas mengikuti ketentuan yang berlaku di sana.

“Kami selaku tamu harus menghormati aturan yang ada di situ. Kalau di sana dilepas, ya kita dilepas,” jelasnya.

Perbedaan lainnya terdapat pada waktu penerbangan. Jika penerbangan balon di Wonosobo umumnya dilakukan pada pagi hari, di Tahmek penerbangan dapat berlangsung hingga malam.

Untuk menyesuaikan kebutuhan teknis di lokasi, tidak seluruh komponen dibawa dari Indonesia. Salah satunya plengker akan dibuat di Meksiko dengan bantuan tim setempat. Komunitas Wonosobo membawa balon beserta ukuran yang dibutuhkan sebagai acuan pembuatan komponen tersebut.

Proyek pembuatan balon untuk festival di Meksiko juga melibatkan komunitas dari berbagai daerah. Berdasarkan data yang disiapkan Komunitas Balon Udara Wonosobo, ada 19 komunitas yang ikut terlibat, yakni PSG Sukoyoso, SNMC, BUBA, Next Gen, Lemot Gank, Kuproy Team, Decker Street Salaf, GLK Kalikuning, Yeriv Reborn, Surya Kejiwan, Komplong Team, Sangga Langet, Gondang Balon Creative, The Aviators, Pandawa, GMS, Depaker, Lersindparg, dan OBBC.

Menurut Agam, keterlibatan banyak tim tersebut tidak terlepas dari tingginya minat untuk ikut dalam proyek tersebut. Saat komunitas membuka kesempatan bagi tim lain yang ingin bergabung, sejumlah komunitas langsung menyatakan kesediaannya.

Bagi para pembuat balon, keterlibatan itu sekaligus menjadi pengalaman baru karena untuk pertama kalinya karya balon udara tradisional Wonosobo dibawa dan ditampilkan di luar negeri.

Agam berharap keikutsertaan di Meksiko menjadi kesempatan untuk memperkenalkan tradisi balon udara Wonosobo ke tingkat internasional dan mendorong lebih banyak wisatawan mengenal tradisi tersebut.

“Harapan kami Indonesia semakin dikenal masyarakat dunia, terutama Wonosobo. Kami punya tradisi yang memang tidak ada di semua negara,” ujarnya.

Ia berharap pengenalan tersebut nantinya dapat mendorong wisatawan mancanegara datang ke Indonesia, khususnya Wonosobo. Menurutnya, semakin banyak orang mengenal tradisi tersebut, semakin besar pula peluangnya untuk dikembangkan sebagai bagian dari daya tarik wisata daerah dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Agam juga berharap pengalaman mengikuti festival di Meksiko dapat membuka peluang bagi pegiat balon udara dari negara lain untuk datang langsung ke Wonosobo.

“Kami berharap tahun depan mereka bisa datang ke Wonosobo, datang ke Indonesia, untuk menikmati festival yang lebih megah,” pungkasnya. (Aris)