GO BABE, Cara DPUPR Wonosobo Bangun Semangat Gotong Royong Rawat Jalan

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Wonosobo menggerakkan Gotong Royong Babat Beset (GO BABE) untuk memperkuat pemeliharaan infrastruktur jalan sekaligus mendorong kembali semangat gotong royong masyarakat.
Dimulai sejak Juni 2026, kegiatan tersebut dilaksanakan rutin setiap Jumat. Jajaran DPUPR turun langsung ke lapangan untuk membersihkan rumput liar, mengikis sisi atau bahu jalan yang mengganggu, membersihkan saluran, hingga melakukan penanganan ringan pada bagian jalan yang rusak.

Sekretaris DPUPR Wonosobo, Afton Riza Fasani, S.T., mengatakan GO BABE menjadi salah satu upaya menjaga infrastruktur di tengah keterbatasan anggaran dan sumber daya. Terlebih, panjang jalan kabupaten yang menjadi kewenangan DPUPR mencapai sekitar 996 kilometer.
“Semua bergotong royong untuk menjaga sarana dan prasarana infrastruktur, terutama yang sudah kita jalankan saat ini, baru infrastruktur jalan,” kata Afton.
Dalam setiap kegiatan, sekitar 150–160 personel diterjunkan dan dibagi menjadi 10 kelompok. Total ruas yang ditangani berkisar 2,5–3 kilometer per kegiatan, dengan pembagian segmen sekitar 250–300 meter untuk setiap kelompok.
Lokasi pekerjaan ditentukan melalui survei UPT wilayah sehari sebelumnya. Prioritas diberikan pada ruas dengan lalu lintas cukup ramai tetapi tingkat kerusakannya belum terlalu parah.
“Kalau dia ramai dan jalan itu belum terlalu rusak, yang sementara kita kejar itu dulu. Karena kalau kita hanya mengerjakan berdasarkan laporan masyarakat, biasanya yang dilaporkan adalah jalan yang sudah dalam keadaan rusak. Sementara kalau jalan yang sudah rusak belum kita tangani lalu kita membersihkan jalan lain, itu juga kurang efisien,” jelasnya.

Pekerjaan GO BABE tidak sebatas membersihkan rumput. Petugas juga melakukan penambalan ringan, membersihkan saluran dan bahu jalan, memangkas gundukan maupun vegetasi yang mengganggu, serta menangani material longsoran apabila menghambat akses.
“Air itu salah satu yang paling tidak tahan terhadap jalan. Jadi air harus semaksimal mungkin bisa lari dari badan jalan,” ujar Afton.
Selain dilakukan secara internal, beberapa pelaksanaan GO BABE telah melibatkan masyarakat, antara lain di ruas Desa Mlandi menuju Ruas Rakai Panangkaran dan kawasan Lingkar Kertek. Menurut Afton, keterlibatan masyarakat menjadi tujuan penting karena pemerintah memiliki keterbatasan untuk menangani seluruh kebutuhan pemeliharaan jalan.
“Tidak semuanya dengan masyarakat, tetapi harapan kami, kami memberi contoh dulu. Nanti kalau sudah ada buktinya, mengajak masyarakat akan lebih mudah,” katanya.
Afton mengatakan Bupati Wonosobo sejak awal mengarahkan agar GO BABE tidak perlu diawali seremoni, tetapi langsung diwujudkan dalam kerja nyata.
“Sebenarnya Pak Bupati intinya mau meluncurkan GO BABE awalnya sekitar Juni atau Juli. Tapi arahan Pak Bupati, tidak usah launching, tidak usah seremonial-seremonial. Yang penting kerja dulu,” ungkapnya.

Dengan panjang jalan kabupaten sekitar 996 kilometer, DPUPR menilai pemeliharaan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Karena itu, GO BABE diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun rasa memiliki masyarakat terhadap infrastruktur.
“Kita ingin agar semuanya bisa bersama-sama, supaya masyarakat juga merasa memiliki. Kalau hanya diserahkan kepada pemerintah, dengan situasi seperti ini, kelihatannya tidak mampu. Harus bersama-sama,” tegas Afton.
Ke depan, DPUPR berharap masyarakat tidak hanya menggunakan infrastruktur yang telah dibangun atau diperbaiki, tetapi juga ikut menjaga dan merawatnya secara berkelanjutan. (Aris)

