8 September 2026

Dua Orangutan Serulingmas Zoo Banjarnegara Bersiap Dilepasliarkan ke Hutan Kalimantan

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Upaya konservasi orangutan terus dilakukan Serulingmas Zoo Banjarnegara. Dua orangutan koleksinya, Martin dan Naufal, kini menjalani persiapan untuk dikembalikan ke habitat alaminya di kawasan hutan Kalimantan.

Rencana tersebut menjadi bagian dari langkah menjaga keberlangsungan populasi orangutan di alam, terutama di tengah berbagai ancaman terhadap habitat satwa liar, mulai dari kerusakan lingkungan hingga kebakaran hutan.

Sebelum mengikuti program sekolah hutan, Martin dan Naufal harus melewati pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Dokter Hewan Serulingmas Zoo, Muhammad Tauhid Nursalim, mengatakan tahapan medis tersebut diperlukan untuk memastikan kedua orangutan berada dalam kondisi yang layak mengikuti proses rehabilitasi.

“Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi fisik dan kesehatan keduanya, termasuk pemeriksaan darah untuk memastikan tidak ada penyakit yang dapat mengganggu proses rehabilitasi maupun mengancam satwa lain di lokasi tujuan,” terangnya.

Hasil pemeriksaan kesehatan nantinya menjadi salah satu dasar untuk menentukan kesiapan Martin dan Naufal mengikuti tahapan berikutnya. Setelah dinyatakan sehat, keduanya masih harus menjalani sekolah hutan sebelum dapat dikembalikan ke alam.

Dalam tahapan tersebut, kemampuan dasar yang dibutuhkan orangutan untuk bertahan hidup di habitat liar akan kembali dilatih. Di antaranya kemampuan memanjat, menemukan sumber makanan, serta menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan di luar kandang.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah 2 BKSDA Jawa Tengah, Dharmawan, menjelaskan bahwa pelepasliaran satwa tidak dapat dilakukan secara langsung. Setiap individu harus melalui rangkaian persiapan untuk memastikan mampu bertahan hidup sekaligus tidak menimbulkan persoalan terhadap ekosistem di lokasi pelepasliaran.

“Artinya, pelepasliaran orangutan bukan sekadar memindahkan satwa dari kandang ke hutan. Ada proses panjang yang harus dilalui, mulai dari kesehatan, kemampuan bertahan hidup di alam, sembari memastikan hutan yang menjadi rumah baru benar-benar siap menerima mereka,” jelas Dharmawan.

Persiapan pelepasliaran Martin dan Naufal juga tidak terlepas dari keberhasilan Serulingmas Zoo dalam mengembangbiakkan orangutan. Hingga saat ini, lembaga konservasi tersebut telah mencatat tujuh kelahiran orangutan.

Direktur Serulingmas Zoo, Lulut Yekti, mengatakan pertumbuhan populasi tersebut sekaligus menghadirkan tantangan bagi pengelola, khususnya dalam penyediaan ruang dan fasilitas yang memadai bagi seluruh satwa.

“Bertambahnya populasi menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan satwa. Keterbatasan sarana dan prasarana membuat sebagian orangutan perlu dipersiapkan untuk program pelepasliaran,” ungkap Lulut.

Sejalan dengan program tersebut, Serulingmas Zoo juga terus mengembangkan perannya sebagai lembaga konservasi. Pengelolaan tidak lagi hanya diarahkan pada fungsi rekreasi, tetapi juga pada upaya perlindungan dan pelestarian satwa.

Kolaborasi bersama BKSDA Jawa Tengah dan Centre for Orangutan Protection turut diperkuat. Pengembangan kapasitas pengelola serta peningkatan kesejahteraan satwa menjadi bagian dari kerja sama tersebut, termasuk penerapan biosafety, biosecurity, dan pengayaan perilaku satwa.

Melalui rangkaian sekolah hutan dan tahapan rehabilitasi yang dijalani, Martin dan Naufal diharapkan semakin siap menghadapi kehidupan di alam liar. Program tersebut menjadi langkah penting sebelum keduanya benar-benar kembali ke habitat alaminya di hutan Kalimantan. (Aris)