23 Juli 2026

Ziarah ke Makam KRT Setjonegoro, Pemkab Wonosobo Rawat Semangat Perjuangan Pendiri Daerah

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala perangkat daerah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat melaksanakan ziarah ke makam Bupati Wonosobo pertama, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Setjonegoro, di Desa Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Selasa (21/7/2026). Prosesi tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada para pendiri daerah sekaligus refleksi atas perjalanan panjang sejarah Kabupaten Wonosobo.

Ziarah merupakan salah satu rangkaian menjelang puncak peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo yang secara rutin dilaksanakan setiap tahun. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan Wonosobo saat ini berdiri di atas fondasi perjuangan, persatuan, dan pengabdian para pendahulu.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan sejarah singkat KRT Setjonegoro, dilanjutkan doa dan tahlil bersama, kemudian diakhiri dengan tabur bunga di pusara sebagai simbol penghormatan atas jasa tokoh yang meletakkan dasar pemerintahan Kabupaten Wonosobo.

Dalam sambutannya, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menegaskan bahwa ziarah bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan ikhtiar menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah daerah dan perjuangan para pendiri Wonosobo.

“KRT Setjonegoro merupakan Bupati Wonosobo pertama. Ketika Perang Jawa meletus, Wonosobo menjadi salah satu basis penting perjuangan Pangeran Diponegoro. Kondisi alam berupa hutan belantara dan perbukitan menjadikan wilayah ini sebagai tempat strategis untuk menyusun kekuatan dan strategi perjuangan melawan kolonial Belanda,” ujar Afif.

Ia menjelaskan, keberadaan KRT Setjonegoro di wilayah Ledok dapat ditelusuri melalui berbagai sumber sejarah, termasuk laporan pemerintah kolonial Belanda setelah berakhirnya Perang Diponegoro. KRT Setjonegoro juga dikenal sebagai tokoh yang memindahkan pusat pemerintahan dari Selomerto ke kawasan yang kini menjadi pusat Kota Wonosobo, sehingga menjadi tonggak penting dalam perkembangan pemerintahan dan pembangunan daerah.

Menurut Afif, jasa dan perjuangan para pendahulu harus terus dikenalkan kepada generasi muda agar sejarah daerah tidak terlupakan. Ia menilai kemajuan yang dirasakan Wonosobo saat ini merupakan hasil dari perjuangan panjang yang telah dirintis para pendiri daerah.

“Tradisi ziarah ini penting untuk terus dilestarikan agar generasi penerus mengenal sejarah daerahnya dan menghargai perjuangan para pendahulu. Kemajuan Wonosobo yang kita rasakan hari ini merupakan hasil dari pengorbanan dan kerja keras para leluhur,” tambahnya.

Pada peringatan Hari Jadi ke-201 tahun ini, Pemerintah Kabupaten Wonosobo mengusung tema “Nyawiji Makarti Wonosobo Loh Jinawi”. Tema tersebut mencerminkan semangat persatuan, sinergi, dan gotong royong sebagai fondasi utama dalam mewujudkan pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Semangat tersebut dinilai sejalan dengan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pendiri Wonosobo, yakni kebersamaan dalam menghadapi tantangan serta pengabdian tanpa pamrih demi kepentingan masyarakat.

Melalui tema tersebut, pemerintah juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus memperkuat kolaborasi dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan, terutama di bidang ketahanan pangan dan energi sebagai fondasi menuju Wonosobo yang tangguh, mandiri, dan sejahtera.

Ziarah ke makam KRT Setjonegoro menjadi penutup rangkaian ziarah ke makam para tokoh pendiri dan pejuang Wonosobo yang telah dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Wonosobo menjelang Hari Jadi ke-201.

Sebelumnya, rombongan telah melaksanakan ziarah ke makam KH Muntaha Al-Hafidz di Deroduwur, Mojotengah; Ki Ageng Wanasaba di Plobangan, Selomerto; Tumenggung Jogonegoro di Pakuncen, Selomerto; Tumenggung Selomanik di Kaliwiro; Tumenggung Mangun Kusumo dan Tumenggung Tjokrohadisoerjo di Ketinggring; KH R. Abdul Fatah di Sigedong, Kepil; serta KH Asmorosufi di Sapuran.

Selain menjadi bentuk penghormatan kepada para tokoh pendiri daerah, rangkaian ziarah tersebut juga dimaknai sebagai media edukasi sejarah bagi generasi muda agar semakin mengenal perjalanan Wonosobo, menumbuhkan rasa cinta terhadap daerah, memperkuat semangat persatuan, serta mendorong kepedulian untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan.

Pemerintah Kabupaten Wonosobo berharap peringatan Hari Jadi ke-201 tidak hanya dimaknai sebagai perayaan bertambahnya usia daerah, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kolaborasi, gotong royong, dan tekad bersama untuk melanjutkan perjuangan para pendiri dalam mewujudkan Wonosobo yang semakin maju, lestari, mandiri, dan menyejahterakan seluruh masyarakat. (Adv/Aris)