8 Juli 2026

Bahaya Orang Bodoh Yang Tak Sadar Jika Ia Bodoh

Oleh : KH. Wahyudi Sarju Abdirrahim, Lc. M.M,

Anggota Majelis Tabligh PWM Jateng dan Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Muflihun Temanggung

 KoranRakyat.co.id –Dalam bentangan peradaban Islam, ilmu adalah mahkota yang paling berkilau. Ia bukan sekadar deretan kata di atas kertas, melainkan cahaya (nur) yang Allah titipkan ke dalam hati hamba-Nya untuk membedakan antara yang hak dan yang batil. Tanpa ilmu, manusia akan berjalan dalam kegelapan, meraba-raba kebenaran namun seringkali justru terperosok ke dalam jurang kesesatan.

Allah SWT telah memberikan maklumat yang tegas dalam Al-Qur’an bahwa kedudukan orang yang berilmu tidak akan pernah setara dengan mereka yang abai terhadap ilmu. Allah berfirman dalam QS. Al-Mujadilah: 11: “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Ayat ini menegaskan bahwa iman dan ilmu adalah dua sayap yang menerbangkan manusia ke posisi mulia, baik di hadapan penduduk bumi maupun di hadapan penduduk langit. Ada pesan menarik yang sering disampaikan para ulama: “Jadilah engkau orang yang alim (pengajar), atau pelajar, atau pendengar, atau pecinta ilmu, dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima (selain empat golongan tersebut), maka engkau akan binasa.”

Pesan ini sangat jelas: jika kita belum mampu menjadi ulama, jadilah murid. Jika tidak sanggup belajar secara formal, jadilah pendengar yang baik. Jika pun tidak, jadilah pembela dan pecinta ilmu. Namun, jangan sekali-kali menjadi golongan kelima, yaitu mereka yang tidak berilmu namun enggan belajar dan membenci ahli ilmu. Dunia hari ini sedang diuji dengan sebuah wabah yang lebih berbahaya dari penyakit fisik, yaitu Al-Jahlul Murakkab (kebodohan yang bertumpuk). Ini adalah kondisi di mana seseorang tidak tahu (bodoh), tetapi ia tidak menyadari kebodohannya dan merasa dirinya sangat paham.

Sungguh ironis, di zaman di mana akses informasi hanya sejauh ujung jari, banyak orang merasa telah menjadi “mufti” hanya setelah membaca satu-dua artikel di Google atau menonton potongan video pendek. Tanpa penguasaan bahasa Arab yang menjadi kunci gudang ilmu, tanpa kefasihan membaca Al-Qur’an, dan tanpa pernah mencicipi debu perjalanan menuntut ilmu di pesantren, mereka dengan lantang mengkritik para ulama besar. Mereka melupakan peringatan Rasulullah SAW tentang munculnya para pemimpin bodoh yang berbicara tanpa ilmu: “Manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Ketika mereka ditanya, mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menghormati ulama adalah bagian dari menghormati syariat itu sendiri. Bagaimana mungkin seseorang yang bahkan belum memahami kaidah bahasa Arab (Nahwu dan Shorof) berani meragukan pemikiran ulama yang telah menghafal ribuan hadis dan mendalami Istinbath (pengambilan hukum) selama puluhan tahun? Ulama adalah pewaris para Nabi (Al-Ulama Warasatul Anbiya). Mengkritik mereka dengan penuh kesombongan dan fanatisme buta bukanlah tanda kecerdasan, melainkan tanda matinya hati dan hilangnya adab. Kita harus tahu posisi diri; jika kita hanya seorang “penikmat layar,” janganlah berlagak seperti orang yang telah mendalami ribuan jilid kitab.

Ilmu dalam Islam bukanlah sekadar komoditas intelektual atau alat untuk memenangkan perdebatan di media sosial. Ilmu adalah amanah yang sangat berat. Hakikatnya, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin merunduk jiwanya, karena ia kian menyadari betapa luasnya samudera rahasia Allah dan betapa kecilnya kapasitas akal manusia. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fatir: 28).

Ayat ini menjadi barometer bagi kita semua: Jika ilmu yang kita miliki—atau yang kita rasa kita miliki—justru membuat kita menjadi sombong, gemar menghujat, dan merasa paling benar, maka ada yang salah dengan cara kita menyerap ilmu tersebut. Sebab, ilmu yang berkah akan melahirkan Khasyyah (rasa takut yang penuh pengagungan) kepada Allah, bukan justru melahirkan jempol yang liar untuk merendahkan sesama.

Di zaman fitnah ini, kita perlu berhenti sejenak dan menjaga lisan serta jempol kita dari godaan untuk menghakimi. Sebelum kita melontarkan kritik tajam kepada para ulama besar—mereka yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya, masa mudanya, dan tenaga mereka untuk menyelami kitab-kitab klasik serta menghafal untaian hadis—marilah kita berkaca pada cermin kejujuran, sudah sejauh mana kedalaman ilmu kita? Apakah kita memahami kaidah Ushul Fiqh, Musthalah Hadis, dan rahasia bahasa Arab, ataukah kita hanya sekadar “konsumen teks terjemahan” yang instan?  Sudahkah kita memenuhi syarat untuk berbicara? Mengomentari masalah agama tanpa perangkat ilmu yang memadai ibarat seorang awam yang mencoba mengajari dokter bedah tentang cara mengoperasi jantung; ia bukan hanya tidak sopan, tapi juga membahayakan.

Ada sebuah kebijaksanaan yang luhur dalam kalimat: “Rahimahullahu amra’an ‘arafa qadra nafsihi” (Semoga Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar kapasitas dirinya). Mengetahui posisi diri bukanlah tanda kelemahan, melainkan puncak dari kecerdasan emosional dan spiritual. Dengan tahu posisi, kita terjaga dari dosa lisan. Dengan tahu posisi, kita terhindar dari perilaku mencela mereka yang lebih alim.

Menghormati para ulama yang lurus adalah salah satu jalan pintas menuju keberkahan hidup. Kita menghormati mereka bukan karena pribadinya semata, melainkan karena ilmu yang mereka bawa adalah warisan dari Rasulullah SAW. Jangan sampai kita menjadi golongan yang digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang mengangkat “pemimpin-pemimpin bodoh” ( ru’usan juhhala ), lalu kita ikut tersesat bersama mereka hanya karena ego yang tidak mau tunduk pada kebenaran.

Mari kita kembalikan fungsi ilmu sebagai pembersih hati. Mari kita jadikan kerendahan hati sebagai pakaian sehari-hari. Ingatlah, bahwa keselamatan kita terletak pada kemampuan kita menahan diri dari berbicara tentang apa yang tidak kita ketahui secara mendalam. “Bicara tanpa ilmu adalah kesesatan, bicara dengan kesombongan adalah kehancuran.” (*)