2 Juli 2026

Tanggung Jawab Perbuatan Manusia

Oleh : KH. Wahyudi Sarju Abdurrahimn, Lc, M.M

Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Muflihun Temanggung

KoranRakyat.co.id —-Di jantung Ilmu Kalam, terdapat satu perdebatan yang paling menyentuh sisi fundamental kemanusiaan yaitu seputar hakikat perbuatan manusia. Perdebatan ini tidak lahir dari rasa ingin tahu yang dingin, melainkan dari upaya keras manusia untuk memahami bagaimana keadilan Tuhan bekerja di tengah realitas dunia yang penuh pilihan.

Pertanyaan ini memicu kegelisahan intelektual yang sangat mendalam: Jika Tuhan Maha Kuasa atas segala sesuatu, apakah manusia benar-benar bebas menentukan langkahnya, ataukah kita semua sebenarnya hanya sedang memerankan naskah takdir yang sudah rampung ditulis sebelum waktu dimulai? Jawaban atas teka-teki ini menjadi pembeda utama yang membentuk wajah unik setiap aliran Kalam. Setikdanya ada tiga aliran, yaitu Jabbariyah, Qadariyah (Muktazilah) dan Asy’ariyah.

Jabariyah (Determinisme Mutlak):

Dalam dunia teologi, Jabariyah berdiri sebagai kutub ekstrem yang memandang semesta melalui lensa determinisme mutlak. Mereka membayangkan Tuhan bukan sekadar pengatur, melainkan satu-satunya aktor sejati di panggung eksistensi. Di hadapan kemahakuasaan yang absolut ini, sosok manusia meluruh; kita tidak lebih dari sekadar perantara bagi kehendak-Nya yang tak terbendung.

Bagi kaum Jabariyah, konsep “pilihan” adalah ilusi yang manis namun keliru. Mereka menegaskan bahwa manusia tidak memiliki andil sedikit pun dalam setiap jengkal tindakannya. Jika kita melihat seseorang sedang melangkah, bagi Jabariyah, orang tersebut tidak sedang “berjalan” atas kemauannya sendiri. Ia digerakkan, persis seperti air yang mengalir mengikuti lekuk sungai atau daun kering yang menari ditiup angin. Air tidak memilih untuk mengalir, dan daun tidak memilih untuk jatuh; keduanya hanyalah objek yang tunduk pada hukum gerak yang diciptakan Tuhan.

Segala perbuatan manusia—baik itu tindakan mulia maupun dosa—hanyalah sebuah metafora. Secara bahasa, kita mungkin berkata “manusia bekerja,” namun secara hakikat, Tuhanlah yang sedang bekerja melalui dirinya. Manusia ibarat sebuah pena di tangan seorang penulis; pena itu bergerak, menorehkan tinta, dan membentuk kata-kata, tetapi tidak sedetik pun pena itu memiliki kendali atas apa yang ia tulis.

Pandangan ini membawa kita pada sebuah kepasrahan yang total dan radikal. Di sini, kebebasan individu dianggap sebagai bentuk kesombongan yang mencoba menandingi otoritas ilahi. Dalam sunyinya ajaran Jabariyah, manusia adalah wayang yang tak punya kuasa atas talinya sendiri, sepenuhnya hanyut dalam arus besar skenario Tuhan yang sudah baku dan tak terelakkan.

Qadariyah & Mu’tazilah (Libertarianisme):

Jika Jabariyah adalah sebuah kepasrahan yang sunyi, maka Qadariyah dan Mu’tazilah hadir sebagai gemuruh kedaulatan manusia. Mereka berdiri tegak di kutub seberang, meyakini bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai robot atau wayang, melainkan sebagai subjek merdeka yang dibekali dengan kemauan bebas (free will). Di titik ini, manusia bukan lagi sekadar penonton dalam drama kehidupannya sendiri, melainkan sutradara atas setiap langkah yang ia ambil.

Inti dari pemikiran ini adalah kepercayaan bahwa Tuhan, dalam kemurahan-Nya, telah menghibahkan sebagian “kedaulatan” kepada hamba-Nya. Bagi mereka, manusia adalah pencipta bagi perbuatannya sendiri. Setiap keputusan—baik itu uluran tangan untuk menolong maupun niat buruk untuk menyakiti—adalah hasil dari kerja kehendak manusia yang otonom. Tuhan memberikan potensi dan ruang, namun manusialah yang memegang kemudi untuk menentukan arah.

Logika mereka sangat sederhana namun tajam: jika manusia tidak bebas memilih, maka seluruh tatanan moral agama akan runtuh. Bagaimanakah Tuhan yang Maha Adil bisa memberikan pahala atas sebuah kebaikan jika manusia dipaksa melakukannya? Dan bukankah menjadi sebuah kezaliman jika Tuhan menyiksa seseorang atas dosa yang sudah “diskenariokan” sebelumnya?

Bagi kaum Mu’tazilah, keadilan Tuhan adalah harga mati. Agar konsep pahala, siksa, dan tanggung jawab menjadi bermakna, manusia harus memiliki kendali penuh atas pilihannya. Dalam pandangan ini, kehidupan adalah sebuah ujian yang jujur; sebuah ruang di mana martabat manusia dipertaruhkan lewat kemampuan mereka untuk membedakan yang benar dari yang salah secara mandiri. Manusia adalah pemilik penuh atas sejarahnya, yang dengan tangannya sendiri, melukis nasib di atas kanvas kehidupan yang telah disediakan sang Pencipta.

Asy’ariyah (Sintesa Kasb):

Di tengah ketegangan antara determinisme Jabariyah dan kebebasan mutlak Mu’tazilah, Asy’ariyah hadir sebagai penengah yang mencoba merajut benang-benang kusut teologi melalui teori Kasb atau “perolehan.” Mereka menyadari bahwa jika manusia terlalu pasif, martabatnya hilang; namun jika manusia dianggap sebagai pencipta mandiri, maka kemahakuasaan Tuhan seolah terbagi. Di sinilah Asy’ariyah membangun jembatan yang halus untuk mendamaikan keduanya.

Dalam pandangan ini, hubungan antara Tuhan dan manusia digambarkan secara lebih berlapis. Secara hakikat, Tuhan tetaplah pemegang otoritas tunggal yang menciptakan daya dan perbuatan di alam semesta. Namun, manusia tidak dibiarkan menjadi penonton yang pasif. Manusia memiliki peran untuk “menjemput” atau menyelaraskan kehendaknya dengan perbuatan yang diciptakan Tuhan tersebut. Saat seseorang memutuskan untuk melangkah, Tuhanlah yang menciptakan kekuatan untuk berjalan, tetapi manusia “mengakuisisi” atau memiliki niat atas gerakan itu dalam kesadarannya.

Konsep Kasb ini memastikan bahwa meskipun Tuhan adalah sumber dari segala energi dan kejadian, tanggung jawab moral tetap melekat erat pada pundak manusia. Manusia bukanlah pencipta perbuatan, melainkan “pemilik” dari pilihan yang ia ambil. Ibarat seorang penumpang yang setuju untuk ikut dalam sebuah perjalanan, meskipun ia tidak membangun jalannya atau menciptakan mesin kendaraannya, ia tetap bertanggung jawab atas keputusan untuk naik ke sana.

Dengan cara ini, Asy’ariyah berhasil menjaga kemahakuasaan Tuhan agar tetap utuh tanpa harus mengorbankan keadilan-Nya. Pahala dan siksa menjadi masuk akal karena meskipun Tuhan yang mewujudkan perbuatan tersebut, manusialah yang secara sadar memilih untuk menyelaraskan dirinya dengan kebaikan atau keburukan. Kehidupan, dalam perspektif ini, adalah sebuah harmoni antara ciptaan Tuhan yang maha luas dan pilihan manusia yang personal.

Perdebatan ini krusial karena ia menentukan bagaimana seorang Muslim memandang hidupnya. Apakah ia menjadi pribadi yang pasrah dan fatalistik, atau menjadi pribadi yang optimis dan penuh inisiatif karena merasa setiap tetap peluhnya bernilai di hadapan hukum keadilan Tuhan? Inilah yang menjadikan diskusi perbuatan manusia bukan sekadar teori kering, melainkan ruh yang menggerakkan etika dan peradaban Islam.

Jika seseorang terjebak dalam pemahaman determinisme yang ekstrem, ada risiko besar ia akan jatuh ke dalam lubang fatalisme. Hidup dipandang sebagai sebuah skenario yang sudah selesai ditulis, di mana usaha dianggap sia-sia karena hasil akhirnya telah dikunci. Sikap ini sering kali melahirkan pribadi yang pasif, mudah menyerah pada keadaan, dan kehilangan gairah untuk melakukan perbaikan sosial karena menganggap ketidakadilan atau kemiskinan sebagai “suratan takdir” yang tak boleh diganggu gugat.

Di sisi lain, keyakinan akan adanya andil manusia dalam setiap perbuatan melahirkan pribadi yang optimis dan penuh inisiatif. Dalam pandangan ini, setiap tetap peluh dan setiap jam kerja keras memiliki nilai sakral di hadapan hukum keadilan Tuhan. Manusia merasa memiliki “saham” atas masa depannya. Kepercayaan bahwa Tuhan tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya menjadi bahan bakar bagi inovasi, etos kerja yang tinggi, dan keberanian untuk mengubah nasib.

Inilah yang menjadikan diskusi tentang perbuatan manusia sebagai ruh yang menggerakkan etika Islam. Sejarah mencatat bahwa saat umat Islam memadukan antara kepercayaan pada kekuasaan Tuhan dan tanggung jawab pribadi, lahirlah peradaban yang dinamis. Ia dapat membentuk manusia yang bertanggung jawab atas setiap tutur kata dan tindakannya. Ia juga dapat mendorong eksplorasi alam karena yakin bahwa Tuhan menyediakan ruang bagi manusia untuk mengelola bumi.(*)