Prestasi Atau Hanya Selembar Kertas.

Oleh: H Albar S Subari SH MH
Pengamat Sosial dan Budaya di Palembang
KoranRakyat.co.id —-Sebuah video yang viral menggambarkan ada seorang anak siswi yang sedang kecewa karena saat pengumuman namanya tidak ada alias tidak lulus ujian akhir. Padahal yang bersangkutan memiliki prestasi lebih dari kawan kawan nya yang lain. Sambil menangis dan kecewa yang bersangkutan membakar ( merobek robek sertifikat yang dia miliki).
Tentu ini menimbulkan suatu pertanyaan kenapa sampai hal itu terjadi. Tentu ada yang salah di dalam satu sistem kebijakan.
Kejadian kejadian serupa bukan hanya bagi siswi itu saja, namun itu hanya satu contoh fakta yang menggambarkan dari beribu peristiwa yang terjadi di masyarakat yaitu adanya suatu paradoks untuk menilai kualitas seseorang itu apakah hanya dinilai dari selembar kertas. Itupun masih diragukan keasliannya baik bentuk ataupun sejarah sampai terbit kertas yang dimaksud.
Sedangkan suatu prestasi tentu tidak diragukan lagi bahwa yang bersangkutan berkualitas memiliki prestasi tertentu. Karena orang yang berprestasi pasti sudah diuji di dalam gelanggang pertandingan atau kejuaraan.
Apalagi seorang siswa untuk mencapai puncak prestasi telah berjuang secara maksimal dan telah menghabiskan waktu belajarnya demi membawa nama sekolah nya minimal ataupun membawa nama kabupaten dan provinsi nya.
Cerita itu bukanlah hanya terjadi di lingkungan sekolah, namun patut diduga juga terjadi di semua bidang terutama di level pemerintahan.
Sudah menjadi rahasia umum contoh untuk menduduki sebuah jabatan publik di level pemerintahan yang diutamakan bukanlah prestasi dari seseorang yang dijadikan ukuran kalau pun masih ada itu kebetulan saja. Tapi umumnya ada faktor ex yang lebih dominan.
Kalau budaya ini tetap dibiarkan tidak akan mungkin kita dapat merealisasikan cita hukum yang terukir dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945.
Penulis sempat menghadiri acara pelepasan siswa siswi di sebuah pendidikan menengah pertama bahwa kelulusan seorang siswa ditentukan oleh jalur akademik dan jalur prestasi.
Artinya di sini jalur prestasi menjadi penentu kelulusan seseorang pelajar.
Sebagai contohnya bisa kita lihat seseorang olahragawan yang berprestasi di tingkat nasional maupun internasional oleh pemerintah diberi penghargaan antara lain diangkat menjadi karyawan dari suatu instansi pemerintah ataupun swasta.
Dengan cerita beberapa peristiwa tersebut bukan hanya merugikan secara pribadi juga berdampak pada peningkatan kualitas diri mereka. Salah satunya mereka trauma untuk mengejar prestasi yang setinggi-tingginya berakibat psikologi malas dan apatis mengejar nilai prestasi yang membanggakan. Tentu ini berdampak tidak langsung terhadap kemajuan dan prestasi negara di Medan pertarungan nasional maupun internasional.
Seorang karyawan/ pegawai malas untuk meningkatkan kualitas kerja semata mata menunggu perintah pimpinan, yang pimpinan sama menunggu pimpinan atasnya demikian sehingga menjadi karyawan atau pegawai yang manut ( bahasa daerahnya). Tanpa inspirasi apalagi prestasi karena mereka menduduki bukan karena prestasi tapi ada faktor lainnya ( tentu mereka sendiri yang tahu). (*)

