12 Juni 2026

Wonosobo Luncurkan Tiga Inovasi Prolanis, Dekatkan Layanan Kesehatan ke Masyarakat

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Peluncuran tiga inovasi layanan kesehatan untuk memperkuat pengendalian penyakit kronis digelar di Puskesmas Sukoharjo I, Rabu (10/6/2026). Inovasi tersebut meliputi MAS JO SI MANIS (Puskesmas Sukoharjo Sigap Sama Prolanis), SOPANDI (Sistem Observasi dan Pencatatan Prolanis di Desa), serta GULALI MANIS (Gerakan Unggulan Laboratorium Keliling Melalui Prolanis).

Ketiga inovasi tersebut diresmikan oleh Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat sebagai bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam memperkuat pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) sekaligus meningkatkan layanan bagi masyarakat yang hidup dengan penyakit kronis.

Dalam sambutannya, Afif menilai tantangan kesehatan masyarakat saat ini semakin kompleks. Menurutnya, peningkatan angka harapan hidup harus diiringi dengan langkah nyata untuk mengendalikan penyakit tidak menular, terutama hipertensi dan diabetes melitus yang masih menjadi persoalan kesehatan utama di daerah.

“Data menunjukkan, di Kabupaten Wonosobo terdapat lebih dari 136 ribu penderita hipertensi dan lebih dari 12 ribu penderita diabetes melitus. Hingga awal tahun 2026 masih terdapat sekitar 57 ribu penderita hipertensi dan lebih dari 10 ribu penderita diabetes yang belum terjangkau Program Pengelolaan Penyakit Kronis atau Prolanis. Ini menjadi perhatian serius kita bersama,” ujar Afif.

Ia menjelaskan, hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi serius, seperti stroke, gagal ginjal kronis, hingga penyakit jantung. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penderita, tetapi juga keluarga yang harus mendampingi dan menghadapi konsekuensi sosial maupun ekonomi yang ditimbulkan.

Karena itu, Afif menekankan pentingnya perubahan pola pelayanan kesehatan yang lebih aktif menjangkau masyarakat.

“Mendekatkan pelayanan, mengendalikan penyakit kronis, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat bukan sekadar slogan. Ini adalah arah yang harus kita tempuh bersama. Kita tidak boleh menunggu masyarakat datang dalam kondisi sakit, tetapi harus hadir lebih awal, lebih dekat, dan lebih peduli,” tegasnya.

Bupati juga memberikan apresiasi kepada Puskesmas Sukoharjo I bersama Dinas Kesehatan, Labkesda, BPJS Kesehatan, tenaga kesehatan, serta kader kesehatan yang telah menghadirkan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, ketiga inovasi tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni memperkuat upaya pencegahan, memperluas jangkauan pelayanan kesehatan, serta memastikan masyarakat mendapatkan pendampingan kesehatan secara berkelanjutan.

Afif mengaku bangga atas lahirnya inovasi tersebut di tengah keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki Puskesmas Sukoharjo I.

“Ini sebuah ide, gagasan, dan inovasi yang luar biasa dari Puskesmas Sukoharjo. Bagaimana dengan SDM yang terbatas mereka mampu memberikan pelayanan yang lebih maksimal dan totalitas kepada masyarakat. Harapannya penyakit-penyakit kronis dapat termonitor dengan jelas, didampingi, dimotivasi, dan ditangani sejak dini,” ungkapnya.

Ia berharap inovasi serupa dapat diterapkan di puskesmas lain melalui semangat kolaborasi dan berbagi praktik baik.

“Kita harus kompak dan saling mendukung. Jika ada inovasi yang baik di Sukoharjo, wilayah lain bisa meniru. Jika nanti ada inovasi baik dari puskesmas lain, maka yang lain juga bisa mengadopsi. Tujuan akhirnya adalah mewujudkan Wonosobo yang sehat,” katanya.

Afif menegaskan bahwa keberhasilan sebuah inovasi kesehatan harus diukur dari dampaknya terhadap masyarakat.

“Keberhasilan inovasi ini tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, tetapi dari semakin banyaknya masyarakat yang tetap sehat, produktif, dan terhindar dari komplikasi penyakit kronis. Karena masyarakat yang sehat merupakan modal terbesar untuk mewujudkan Wonosobo yang Sejahtera, Adil, dan Makmur,” pungkas Bupati.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan, mengatakan peluncuran inovasi tersebut merupakan bagian dari strategi penguatan pengendalian Penyakit Tidak Menular yang saat ini menjadi tantangan kesehatan terbesar di Kabupaten Wonosobo.

Data Dinas Kesehatan menunjukkan jumlah penderita hipertensi meningkat dari 107.394 orang pada 2023 menjadi 136.803 orang pada 2025. Adapun jumlah penderita diabetes melitus naik dari 7.722 orang menjadi 12.261 orang dalam kurun waktu yang sama.

“Angka ini menunjukkan bahwa pengendalian penyakit kronis harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan. Apalagi hipertensi dan diabetes yang tidak terkendali dapat menyebabkan komplikasi berat seperti stroke, gagal ginjal kronik, dan gagal jantung yang membutuhkan biaya pengobatan sangat besar,” jelas Jaelan.

Menurutnya, hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) juga menunjukkan masih banyak masyarakat yang masuk kelompok berisiko, seperti prehipertensi, prediabetes, dislipidemia, hingga hasil pemeriksaan EKG abnormal. Kondisi tersebut menegaskan perlunya penguatan intervensi promotif dan preventif agar masyarakat tidak mengalami kondisi kesehatan yang lebih berat.

Sebagai bagian dari solusi, Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) BPJS Kesehatan terus dikembangkan. Hingga Februari 2026, di Kabupaten Wonosobo telah terbentuk 133 Klub Prolanis Hipertensi dengan 6.796 peserta dan 51 Klub Prolanis Diabetes Melitus dengan 1.788 peserta. Namun, jumlah tersebut masih perlu ditingkatkan mengingat masih banyak desa dan kelurahan yang perlu dijangkau.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Puskesmas Sukoharjo I, Norman Kumoro, menjelaskan bahwa inovasi yang diluncurkan merupakan bentuk komitmen puskesmas dalam mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat.

Ia menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 1.700 penderita hipertensi dan 280 penderita diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo I. Namun, baru sekitar 480 orang yang dapat dikelola secara aktif melalui Program Prolanis.

“Melalui inovasi ini kami berharap semakin banyak masyarakat yang bisa mendapatkan pendampingan dan pelayanan kesehatan secara berkelanjutan. Kehadiran Bapak Bupati dan seluruh stakeholder hari ini menjadi energi positif bagi kami untuk terus konsisten memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.

Norman menjelaskan, MAS JO SI MANIS menerapkan pendekatan jemput bola melalui kunjungan langsung petugas kesehatan kepada masyarakat untuk melakukan skrining risiko, pemeriksaan kesehatan, edukasi kelompok, pemantauan kepatuhan pengobatan, hingga deteksi dini komplikasi penyakit kronis.

Sementara itu, SOPANDI dikembangkan sebagai sistem digital yang memungkinkan hasil pemeriksaan peserta Prolanis dicatat, dipantau, dan dilaporkan secara real time. Melalui sistem tersebut, peserta dapat menerima hasil pemeriksaan dan edukasi kesehatan melalui WhatsApp, sedangkan petugas memperoleh notifikasi dini apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan tindak lanjut segera.

Adapun GULALI MANIS merupakan inovasi hasil kolaborasi dengan UPTD Labkesda Wonosobo yang menghadirkan layanan laboratorium keliling langsung ke desa-desa. Melalui program ini, masyarakat tidak perlu datang ke fasilitas kesehatan untuk memperoleh pemeriksaan laboratorium penunjang sehingga deteksi dini dan pemantauan penyakit kronis dapat dilakukan lebih mudah dan terjangkau.

Antusiasme masyarakat terhadap program tersebut terus meningkat. Setiap bulan jumlah peserta Prolanis bertambah, bahkan melampaui kapasitas ideal klub yang ditetapkan BPJS Kesehatan. Meski demikian, Puskesmas Sukoharjo I tetap berupaya memberikan pelayanan kepada seluruh peserta yang membutuhkan pendampingan kesehatan, termasuk masyarakat yang belum menjadi peserta BPJS.

Melalui peluncuran ketiga inovasi tersebut, diharapkan upaya pengendalian penyakit kronis di Kabupaten Wonosobo semakin efektif, akses layanan kesehatan menjangkau lebih banyak masyarakat hingga tingkat desa, serta kualitas hidup masyarakat dapat terus meningkat secara berkelanjutan. (Diskominfo Wonosobo/Aris)