Lapas Kelas II-A Bekasi Didik Warga Binaan Hingga Mampu Memiliki Penghasilan

KOTA BEKASI | Koranrakyat.co.id – Lapas Kelas II A, Bulak Kapal Kota Bekasi, ternyata bukanlah tempat yang menakutkan bagi para penghuninya. Konsep pembinaan benar-benar diwujudkan melalui berbagai program yang bermuara pada kemandirian dan mampu menghasil uang. Alhasil penjara kini berganti menjadi tempat yang ramah dan humanis bagi para terpidana maupun keluarga terpidana.
Hal ini diakui satu warga yang anak ke tiganya, berinisial (M) dihukum penjara karena tersandung kasus penggelapan dana perusahaan tempat anaknya bekerja. Ia mengutarakan, saat dirinya membesuk anak ketiga itu, ia langsung tertegun. Karena, sang anak bercerita bahwa ia dipenjara memperoleh ilmu keterampilan, bakhan diajak bekerja dan mendapatkan gaji ketika Lapas melakukan pembangunan fisik.
Anak saya dihukum selama 3 tahun, disebabkan judi online, karena dia menggepkan pakai uang perusahaan puluhan juta rupiah”, ujarnya Rabu (3 Juni 2026).
Dia juga menjelaskan anaknya telah dibina selama 1 tahun lebih dan telah mengajukan Pembebasan Bersyarat (PB), Alhamdulillah, PB telah dipenuhi, oktober 2026 ini insyaallah keluar dan bebas. Namun diwajibkan lapor tiap minggunya ke lapas yang telah ditetapkan dalam PB.
Saat ditanyakan perihal biaya yang ada selama di dalam lapas, beliau menyatakan hingga pengurusan PB, semuanya gratis. “Selama anak didalam, sama seperti diluar. Ada banyak pekerjaan yang dibayar / diupah, yang penting anaknya rajin. Waktu yang lalu saat ada pembangunan di dalam, seminggu ikut kerja bangunan di dalam lapas di bayar Rp.700.000 lebih”, ujarnya.
Lapas Kelas II A Bekasi mampu melakukan pembinaan dengan memanusiakan manusia dan merubah image penjara yang menakutkan menjadi tempat yang humanis dan ramah bagi warga binaan.
Salah satu petugas Lapas Kelas IIA Bekasi, Reza Pahlawan membenarkan adanya cerita dari M tersebut. “Memang benar, beberapa waktu yang lalu ada pembangunan yang melibatkan warga binaan, tentu aja dibayar oleh kontraktor.
Didalam juga terdapat peternakan ayam dan lele, juga ada kerajinan, pangkas rambut, membuat pohon bonsai, yang menghasilkan rupiah bagi para warga yang bekerja atau terlibat dalam proses”.
“Dilahan seluas 3 hektar memang tidak terlalu banyak kegiatan produktivitas, dari 1400 warga binaan, ada sekitar 200 orang yang ikut kerja dan itu semua tidak ada paksaan” ujar Reza.
“Lapas merupakan miniatur kehidupan masyarakat pada umumnya, Jadi didalam ada berbagai aktifitas dan rutinitas, ada yang bekerja, berolah raga, serta berbagai aktifitas lainnya. Selain ada program binaan dari Lapas, agar nantinya saat mereka kembali kepada masyarakat bisa menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat bagi keluarga dan lingkungannya” tutup Reza.
Berbagai istilah seperti penjara telah dirubah menjadi Lapas, yang dulunya disebut Napi telah dirubah menjadi warga binaan, hal ini dilakukan, agar masyarakat mau menerima para binaan yang telah bebas. Dan diharapkan agar para warga binaan yang telah bebas tidak merasa dikucilkan serta tidak mengulangi tindak pidana ataupun kegiatan yang bertentangan dengan Hukum Pidana.
Lapas Kelas IIA Bekasi melakukan berbagai metode agar warga binaan, nantinya dapat menjadi warga negara yang berproduksi serta bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.
(Maria G)
