Perang, Propaganda, dan Narasi Konspirasi: Ujian Keadilan Berpikir Umat

Oleh: Asruri Muhammad
Pemerhati Sosial Keagamaan
KoranRakyat.co.id —Di tengah memanasnya konflik global—khususnya yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat—beredar berbagai narasi di tengah umat. Sebagiannya menyebut konflik ini sekadar propaganda. Bahkan ada yang melangkah lebih jauh: mengaitkannya dengan klaim bahwa Syiah adalah buatan tokoh Yahudi, atau bahwa Syiah dan Yahudi memiliki satu kepentingan tersembunyi.
Narasi seperti ini mudah diterima karena menawarkan penjelasan yang sederhana. Namun, apakah ia benar-benar berdiri di atas pijakan ilmu?
Sejarah Tidak Sesederhana Satu Tokoh
Dalam sebagian literatur Ahlus Sunnah, nama Abdullah bin Saba memang disebut sebagai sosok yang membawa pemikiran ghuluw terhadap Ali radhiyallahu ‘anhu.
Sebagian ulama menerima riwayat tentang perannya. Namun pada saat yang sama, para sejarawan juga mencatat bahwa perkembangan Syiah tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik besar di masa awal Islam—terkait kepemimpinan, konflik, dan perbedaan ijtihad.
Karena itu, lebih adil jika dikatakan: andaikata pun peran itu ada, ia bukan satu-satunya faktor yang melahirkan dan mengembangkan Syiah.
Menyederhanakan sejarah panjang umat hanya pada satu aktor justru berisiko mengaburkan realitas yang lebih luas.
Antara Kritik dan Keadilan
Ahlus Sunnah tentu memiliki kritik mendasar terhadap berbagai penyimpangan dalam pemikiran Syiah. Ini bagian dari menjaga kemurnian aqidah.
Namun, dalam waktu yang sama, Ahlus Sunnah juga dikenal dengan prinsip:
* Adil dalam menilai
* Tidak berlebihan (tidak ghuluw)
* Tidak membangun kesimpulan tanpa dasar yang kuat
Mengaitkan seluruh fenomena Syiah dengan satu teori konspirasi global, atau bahkan dengan pendekatan “genetik”, bukanlah pendekatan ilmiah yang kokoh.
Realitas Politik: Konflik yang Nyata dan Kompleks
Jika narasi “satu kepentingan” itu benar, maka hubungan antara Iran dan Israel seharusnya harmonis. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Iran dikenal sebagai pihak yang berseberangan keras dengan Israel, bahkan mendukung kelompok seperti Hezbollah dalam konflik regional.
Ini menunjukkan bahwa realitas geopolitik tidak bisa direduksi menjadi satu pola konspirasi sederhana.
Propaganda Itu Ada, Tapi Realitas Tetap Nyata
Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam konflik global, propaganda memainkan peran penting. Negara membangun narasi untuk memengaruhi persepsi publik.
Namun menyimpulkan bahwa seluruh konflik hanyalah “sandiwara” juga tidak tepat.
Yang lebih mendekati kenyataan adalah:
konflik itu nyata, tetapi sering dikelola agar tidak meledak menjadi perang besar.
Di sinilah umat perlu berhati-hati: tidak menelan mentah-mentah propaganda, tapi juga tidak menafikan realitas.
Ujian Keadilan Berpikir
Berbuat adil memang tidak mudah. Terlebih ketika menyangkut isu yang sudah lama hidup dalam kesadaran kolektif umat. Namun justru di situlah letak kemuliaannya.
Keadilan bukan hanya dalam sikap kepada kawan dan lawan,
tapi juga dalam cara kita memahami informasi.
Ketika umat terbiasa dengan narasi yang terlalu disederhanakan:
* daya kritis melemah
* emosi lebih dominan
* ruang untuk manipulasi semakin terbuka.
Padahal Islam mengajarkan tabayyun, kehati-hatian, dan kejujuran dalam menyampaikan ilmu.
Menjaga Kejernihan di Tengah Gelombang Narasi
Di zaman ini, bukan hanya peluru yang berterbangan,
tapi juga narasi yang saling bersaing memperebutkan keyakinan manusia.
Di tengah itu, tugas kita bukan sekadar memilih siapa yang kita dukung, tapi memastikan bahwa cara kita memahami tetap jernih dan adil.
Karena bisa jadi, yang paling berbahaya bukan musuh di luar, tapi cara berpikir yang tidak lagi terjaga.
Doa dan Harapan
Yaa Allah, ampunilah hamba-Mu yang dha’if ini.
Bagi kami, banyak hal terasa mustahil. Namun bagi-Mu, tidak ada yang mustahil. Engkau Maha Bijaksana, Maha Adil, Maha Mengetahui, dan Maha Berkehendak atas segala sesuatu.
Jika Syiah dan Sunni adalah hamba-hamba-Mu, dan sama-sama mengaku sebagai umat Nabi-Mu, maka kami berharap—dengan segala keterbatasan kami—Engkau bukakan jalan bagi persatuan di antara mereka.
Jika belum mampu bersatu dalam akidah, maka satukanlah hati mereka dalam menolak kezaliman, dalam membela kemanusiaan, dan dalam menegakkan keadilan.
Satukan langkah mereka untuk meninggikan kalimat-Mu, menghadirkan kemuliaan bagi kaum muslimin, dan menjaga kehormatan umat ini.
Yaa Allah, jangan Engkau jadikan perbedaan sebagai sebab perpecahan yang melemahkan, tetapi jadikan ia sebagai ujian yang menguatkan dan mendewasakan.
Mungkin bagi sebagian kami, harapan ini terasa jauh, bahkan terdengar mustahil. Namun bukankah Engkau Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati?
Jika Engkau berkehendak, yang jauh bisa Engkau dekatkan, yang retak bisa Engkau rekatkan, dan yang mustahil bagi kami menjadi mungkin di sisi-Mu.
Maka kami tidak memastikan hasilnya, ya Allah. Kami hanya menjaga agar hati ini tetap bersih dalam berharap.
Sesungguhnya Engkau Maha Mampu atas segala sesuatu. (*)
