15 April 2026

Meski Harga Avtur Naik Tajam, Prabowo Turunkan Biaya Haji 2026 Rp 2 Juta    

KoranRakyat.co.id — Ditengah-tengah krisis global yang berdampak terhadap Indonesia khususnya yang berkaitan BBM Pemerintah masih memberi secercah harapan khususnya Jemaah haji 2026 yang akan berangkat dalam waktu dekat.

Dilansir Inilah.com Presiden RI Prabowo Subianto menetapkan penurunan biaya haji 2026 sebesar Rp 2 juta per jamaah, meski harga avtur global naik tajam dari Rp 13.656 per liter menjadi Rp 23.551 per liter.

Keputusan ini diumumkan saat taklimat di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Prabowo menegaskan bahwa kenaikan harga avtur tidak akan membebani jamaah haji. “Kita pastikan bahwa biaya haji tahun 2026 kita turunkan harganya sekitar Rp 2 juta,” ujarnya.

Pemerintah menekankan komitmen untuk melindungi masyarakat, termasuk lapisan paling bawah. “Walaupun harga avtur naik, tapi kita berani turunkan harga haji untuk tahun ini. Demikian komitmen pemerintah ini untuk melindungi rakyat paling bawah,” imbuh Prabowo.

Jamaah haji tawaf mengelilingi Ka'bah, 1 Juli 2022. TEMPO.CO

Prabowo juga kembali menyoroti prestasi pemerintah dalam penyelenggaraan haji. Ia menyebut bahwa antrean haji yang sebelumnya mencapai 48 tahun kini berhasil dipangkas signifikan.

“Mulai 2026 paling lama 26 tahun. Dan saya akan berjuang lebih ringkas lagi,” ujarnya.

Selain itu, Presiden menegaskan bahwa Indonesia untuk pertama kali mendapatkan kehormatan memiliki lahan di Arab Saudi sebagai perkampungan haji.

“45 hektare kita akan bikin perkampungan haji Indonesia. Saya juga sudah mengajukan dan disetujui, kita minta izin ke Kerajaan Saudi agar Indonesia punya terminal khusus haji,” kata dia.

Sebelumnya, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf  memastikan tambahan biaya operasional haji 2026 akibat lonjakan harga avtur tidak akan dibebankan kepada jemaah.

Kebijakan ini diambil di tengah meningkatnya biaya penerbangan imbas konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf menyampaikan, pemerintah telah menghitung kebutuhan anggaran untuk menutup kenaikan biaya tersebut.

Pada perhitungan awal BPIH 2026, rata-rata biaya penerbangan haji per jemaah berada di kisaran Rp33,5 juta. Namun, kondisi global seperti kenaikan harga avtur dan pelemahan nilai tukar berpotensi mendorong lonjakan biaya tersebut.

himpusnews

Selain itu, situasi geopolitik turut memengaruhi rute penerbangan. Maskapai kemungkinan harus melakukan pengalihan jalur untuk menghindari wilayah konflik, yang berdampak pada durasi perjalanan dan konsumsi bahan bakar.

“Kondisi politik juga memungkinkan dilakukan rerouting penerbangan untuk menghindari wilayah udara konflik. Untuk itu, Garuda Indonesia rute alternatif menyebabkan penambahan waktu perjalanan sekitar 4 jam, serta penambahan konsumsi avtur sekitar 12 ribu ton,” kata Gus Irfan.

Irfan menyebut, maskapai Garuda Indonesia mengusulkan tambahan biaya sebesar Rp7,9 juta per jemaah dengan asumsi harga avtur 116 dolar AS sen per liter. Sementara itu, Saudi Airlines mengajukan tambahan sekitar 480 dolar AS per jemaah pada asumsi harga avtur 137,4 dolar AS sen per liter.

“Dalam skenario tanpa perubahan rute, biaya rata-rata per jemaah naik menjadi sekitar Rp46,9 juta atau meningkat 39,85 persen. Sementara pada skenario perubahan rute, biaya meningkat lebih tinggi menjadi sekitar Rp50,8 juta atau naik hingga 51,48 persen,” ucap Irfan.

ist/net

Ia menilai, kondisi tersebut menunjukkan penyelenggaraan haji tahun depan menghadapi tekanan yang cukup kompleks dari faktor global. Oleh karena itu, diperlukan langkah efisiensi, penguatan koordinasi, serta strategi mitigasi untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan.

Dalam kontrak kerja sama antara Kementerian Haji dan Umrah dengan maskapai Garuda Indonesia dan Saudi Airlines, terdapat klausul force majeure yang memungkinkan penyesuaian terhadap kondisi tertentu melalui mekanisme musyawarah.

“Namun demikian, sampai saat ini belum ada pernyataan resmi terkait force majeure dari pihak yang berwenang, baik di Indonesia maupun di Arab-Saudi yang dapat menjadi dasar tersebut,” kata dia. (*)