15 April 2026

Pesawat Garuda Bermasalah di Bandara Changi Singapura, Penumpang Dievakuasi Lewat Seluncuran Darurat

Singapura|KoranRakyat.co.id —Pesawat Garuda milik maskapan plat merah Indonesia dengan  seri GA829 bermasalah di Bandara Changi Singapura sehingga penumpang harus dievakuasi lewat seluncuran darurat.

Dilansir Inilah.com, langit Singapura mendadak menjadi saksi sebuah prosedur darurat yang mendebarkan. Maskapai nasional, Garuda Indonesia, menjadi sorotan tajam setelah salah satu armada pesawatnya dilaporkan mengeluarkan asap sesaat sebelum lepas landas di Bandara Internasional Changi, Rabu (25/3/2026).

Video amatir yang diunggah oleh akun Instagram @the.planet.enthusiast dengan cepat membelah jagat media sosial. Dalam tayangan tersebut, terlihat burung besi milik Garuda terparkir di apron Bandara Changi dengan kondisi yang tidak biasa: dikepung oleh armada pemadam kebakaran. Yang lebih mengejutkan, dua pintu belakang pesawat terbuka lebar dengan seluncuran darurat (escape slide) yang telah terkembang sempurna.

Informasi awal menyebutkan adanya masalah serius pada unit daya tambahan atau Auxiliary Power Unit (APU). Kabar yang beredar mengindikasikan bahwa sistem pemadam api otomatis pada pesawat sempat bekerja untuk meredam potensi kebakaran pada area tersebut.

Respons Cepat Awak Kabin di Tengah Krisis

Menanggapi kegaduhan yang beredar di ruang publik, manajemen Garuda Indonesia langsung memberikan klarifikasi resmi. Corporate Communications Division Head Garuda Indonesia, Dicky Irchamsyah, membenarkan bahwa insiden tersebut menimpa penerbangan GA829 rute Singapura-Jakarta pada Rabu, 25 Maret 2026.

Pesawat dengan jadwal keberangkatan pukul 12.55 waktu setempat itu sedianya membawa ratusan penumpang menuju Tanah Air. Namun, ketika proses finalisasi keberangkatan sedang berlangsung—di mana sebagian besar penumpang sudah duduk manis di kursi masing-masing—situasi berubah drastis.

“Awak pesawat mengidentifikasi adanya safety hazard pada area belakang (tail) pesawat yang berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan,” ujar Dicky dalam keterangan resminya.

Insting keselamatan awak kabin diuji dalam hitungan detik. Tanpa kompromi, kru pesawat mengambil keputusan krusial: mengarahkan penumpang untuk segera meninggalkan kabin. Evakuasi dilakukan secara terukur namun cepat, memanfaatkan akses keluar melalui garbarata (aerobridge) dan seluncuran darurat di dua pintu belakang.

Keselamatan di Atas Segalanya

indoAvation.plus

Keputusan mengembangkan escape slide bukanlah langkah yang diambil sembarangan. Dicky menegaskan bahwa tindakan tersebut adalah bagian dari upaya percepatan evakuasi guna memastikan seluruh nyawa di dalam pesawat terlindungi.

“Proses tersebut dilakukan guna memastikan proses evakuasi berlangsung cepat dan aman. Adapun seluruh penumpang berhasil turun dari pesawat dengan selamat,” tegasnya.

Meski sempat menimbulkan kekhawatiran bagi para penumpang, pihak maskapai memastikan bahwa penanganan di darat dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang ketat. Seluruh penumpang yang sempat terdampak akhirnya diberangkatkan ke Jakarta menggunakan pesawat pengganti di hari yang sama.

Tak hanya soal evakuasi, Garuda Indonesia juga mengonfirmasi bahwa seluruh hak penumpang terkait kompensasi keterlambatan telah dipenuhi sesuai dengan regulasi yang berlaku. Maskapai juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang muncul akibat kendala teknis ini.

Evaluasi Menyeluruh dan Prioritas Operasional

Bagi maskapai sekelas Garuda Indonesia, insiden sekecil apa pun di area teknis seperti APU adalah sinyal merah yang harus segera ditangani. Dicky menyatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan otoritas bandara dan pihak terkait untuk memastikan investigasi berjalan tuntas.

“Garuda Indonesia menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan penerbangan senantiasa menjadi prioritas utama dalam setiap aspek operasional,” ucap Dicky.

Pesawat yang mengalami kendala tersebut dilaporkan masih berada di lokasi parkir terpencil di Bandara Changi untuk menjalani pemeriksaan teknis lebih lanjut. Insiden ini menjadi pengingat bagi industri penerbangan bahwa sistem keselamatan yang bekerja dengan baik—termasuk ketanggapan awak kabin—adalah benteng terakhir yang menjaga kepercayaan publik terhadap transportasi udara. (*)