Sosialisasi DAK 2026, DPUPR Wonosobo Dorong Peningkatan Akses Air Minum dan Sanitasi Aman

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Pemerintah Kabupaten Wonosobo melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) menggelar Sosialisasi Kabupaten Kegiatan Dana Alokasi Khusus (DAK) serta APBD Bidang Air Minum dan Sanitasi Tahun 2026 di Pendopo Bupati Kabupaten Wonosobo, Rabu (21/1/2026).
Kegiatan tersebut diikuti oleh kepala desa yang menjadi penerima program DAK Air Minum dan Sanitasi Tahun 2026, serta para fasilitator dan pendamping masyarakat yang akan terlibat langsung dalam pelaksanaan program di lapangan. Sosialisasi ini bertujuan menyamakan persepsi sekaligus memperkuat kesiapan desa dalam mengelola program berbasis masyarakat secara berkelanjutan.
Kepala DPUPR Kabupaten Wonosobo, Nurudin Ardiyanto, menyampaikan bahwa pada tahun 2026 pemerintah daerah mengalokasikan anggaran sekitar Rp7,5 miliar untuk kegiatan air minum dan sanitasi yang akan dilaksanakan di 10 desa.
“Hari ini sosialisasi kabupaten tentang kegiatan DAK Air Minum dan Sanitasi serta APBD Kabupaten untuk kegiatan air minum dan sanitasi dengan total anggaran sekitar 7,5 miliar. Dan dilaksanakan di 10 lokasi desa yang dilaksanakan berbasis masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Kabupaten Wonosobo saat ini telah memiliki 185 Badan Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (BP SPAM) yang tersebar di desa-desa. Seluruhnya terus dipantau untuk memastikan akses air minum dan sanitasi berjalan dengan baik, meskipun hingga kini belum ada desa yang mencapai 100 persen akses sanitasi aman.
“Belum ada yang 100 persen memiliki sanitasi aman. Maka setiap tahun punya peluang untuk mendapatkan alokasi akses sanitasi aman,” katanya.

Nurudin menegaskan bahwa penentuan desa penerima program dilakukan melalui skala prioritas yang mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, kecukupan sumber daya air, serta kinerja pengelolaan BP SPAM. Ia menekankan pentingnya peran kepala desa dan pendamping masyarakat agar infrastruktur yang dibangun dapat dikelola secara berkelanjutan.
“Kami tentunya tidak ingin bahwa apa yang dibangun oleh masyarakat sendiri tidak terkelola dengan baik. Maka salah satu faktor penilaian yang diberikan untuk alokasi berikutnya itu adalah bagaimana desa mengelola air minum maupun sanitasinya setelah dibangun,” jelasnya.
Terkait sasaran kegiatan, Nurudin menyebut program difokuskan pada wilayah yang belum memiliki akses air minum dan sanitasi aman. Ia menjelaskan bahwa akses aman berbeda dengan sekadar tersedianya air.
“Hari ini di air minum yang kita bangun standarnya sama dengan PDAM dimana ada meteran air, ada keran air. Di situ ada kepedulian masyarakat terhadap pemantauan air berbagi dengan masyarakat yang lain,” ungkapnya.
Pelaksanaan kegiatan direncanakan berlangsung hingga Oktober 2026, dengan target percepatan sesuai kesiapan masyarakat dan dukungan fasilitator di masing-masing desa.
“Kalau masyarakatnya cepat tentu akan lebih cepat selesai. Dan ada pendamping kami,” ujarnya.
Berdasarkan data terakhir, capaian akses aman air minum di Kabupaten Wonosobo baru mencapai 51 persen. Indikatornya meliputi kontinuitas aliran air selama 24 jam serta kualitas air yang terjamin dan diuji secara berkala.
“Akses aman hari ini baru tercapai berdasarkan data bulan November itu 51 persen,” kata Nurudin.
Dari 10 lokasi program tahun 2026, jumlah penerima manfaat diperkirakan mencapai 1.310 jiwa untuk akses air minum dan 395 sambungan rumah untuk sanitasi.

Sementara itu, capaian akses sanitasi aman di Kabupaten Wonosobo masih berada di angka 36 persen. Menurut Nurudin, masih banyak septic tank milik warga yang belum memenuhi standar aman karena belum kedap dan berpotensi mencemari lingkungan.
“Hari ini aman adalah septic tank-nya kedap, kemudian ada pengelolaan secara biologis. Kemudian pada waktu tertentu disedot lumpurnya untuk kita olah di instalasi pengelolaan air limbah kita,” jelasnya.
Melalui sosialisasi ini, Pemkab Wonosobo berharap kepala desa dan fasilitator masyarakat memiliki pemahaman yang sama mengenai target, mekanisme, dan tanggung jawab pengelolaan program, sehingga upaya peningkatan akses air minum dan sanitasi aman dapat berjalan optimal dan berkelanjutan. (Aris)
