24 Juni 2026

ADBAR: Prinsip Islami dalam Mengelola Hidup, Dunia, dan Organisasi dengan Orientasi Akhirat

Prof. Dr. Ir. H. Supli Effendi Rahim, M.Sc

Dosen Universitas Muhammadiyah Palembang

Hidup Hanya Tiga Hari

KoranRakyat.co.id —Dalam tradisi hikmah Islam, hidup sering digambarkan hanya terdiri dari tiga hari: kemarin yang telah pergi dan tak bisa kembali, esok yang belum tentu datang, dan hari ini yang menjadi satu-satunya peluang berbuat. Maka, orang bijak memanfaatkan hari ini seolah-olah ini hari terakhirnya. Kesadaran ini menjadikan hidup lebih ikhlas, tidak serakah, lebih bersahabat dengan lingkungan, dan rendah hati kepada sesama.

Untuk itu, diperlukan prinsip hidup yang mampu menyeimbangkan antara tanggung jawab dunia dan orientasi akhirat. Salah satu konsep yang relevan, padat, dan aplikatif adalah konsep ADBAR—singkatan dari:  Akhirat sebagai orientasi utama, Dunia dikelola dengan baik, Berbuat baik, dan Anti Rusak. Prinsip ini bukan hanya penting dalam kehidupan pribadi, tapi juga sangat baik diterapkan dalam mengelola organisasi kemasyarakatan dan kelembagaan, agar visi dunia dan akhirat tetap terjaga secara kolektif.

  1. Akhirat Sebagai Orientasi Utama

Segala aktivitas hidup hendaknya ditujukan untuk akhirat, karena akhirat adalah tujuan utama setiap Muslim. Ketika akhirat menjadi orientasi, seseorang akan menjaga integritas, beramal dengan ikhlas, berlaku adil, dan menjadikan ibadah sebagai pilar hidup. Sholat, zakat, puasa, dan haji dijalankan bukan sekadar rutinitas, tapi pembentuk karakter dan akhlak.

Allah SWT berfirman: “Carilah dengan apa yang telah Allah berikan kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Rasulullah SAW juga bersabda:  “Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya… maka dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.” (HR. Ibnu Majah)

  1. Dunia Dikelola dengan Baik dan Profesional

Islam tidak memisahkan spiritualitas dari urusan dunia. Dunia adalah ladang amal, dan pengelolaannya harus dilakukan dengan serius. Kita diperintahkan untuk menguasai ilmu, memanfaatkan teknologi, membentuk tim kerja yang solid, dan bekerja dengan prinsip efektivitas serta efisiensi.

Dalam konteks organisasi, penting untuk menyusun perencanaan strategis yang matang, menyosialisasikannya secara jelas kepada semua pihak, mengimplementasikannya secara konsisten, dan melakukan pengawasan berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang baik, organisasi akan berjalan profesional, akuntabel, dan tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam.

Firman Allah: “Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan menjadikan kalian sebagai pemakmurnya.” (QS. Hud: 61)

Sabda Nabi SAW : “Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah satu dari kalian bekerja, maka dia menyempurnakannya.” (HR. Thabrani)

  1. Terus-Menerus Berbuat Baik

Berbuat baik adalah ruh dari setiap amal. Kebaikan tidak hanya terbatas pada individu, tetapi juga kepada masyarakat, lingkungan, dan bahkan sistem sosial. Segala anugerah seperti ilmu, harta, pangkat, dan kekuasaan harus digunakan untuk memperluas manfaat.

Dalam mengelola organisasi, prinsip ini bisa diterjemahkan ke dalam pelayanan publik yang adil, transparan, dan berpihak kepada kemaslahatan umum. Organisasi yang dibangun atas dasar kebaikan akan terus tumbuh menjadi tempat yang amanah, inklusif, dan berkeadaban.

Firman Allah: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan (baik).” (QS. An-Nahl: 90)

Sabda Nabi SAW :  “Sesungguhnya Allah telah menetapkan berbuat baik atas segala sesuatu.” (HR. Muslim)

  1. Menjauhi dan Mencegah Kerusakan (Anti Rusak)

Islam sangat menekankan prinsip anti kerusakan. Kerusakan yang dimaksud bisa berupa korupsi, kezaliman, perusakan lingkungan, hingga pengkhianatan terhadap amanah. Dalam organisasi, kerusakan bisa terjadi dalam bentuk penyalahgunaan wewenang, manipulasi data, atau ketidaktransparanan.

Maka, setiap kebijakan dan tindakan organisasi harus selalu ditimbang berdasarkan perintah dan larangan Allah. Prinsip *anti-rusak* menjaga sistem dari kehancuran dan memastikan keberlanjutan.

Firman Allah: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)

Sabda Rasulullah SAW : “Seorang Muslim sejati adalah yang tidak menyakiti Muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Prinsip ADBAR untuk Individu dan Organisasi

Konsep ADBAR tidak hanya relevan untuk kehidupan pribadi, tetapi juga sangat *baik diterapkan dalam pengelolaan organisasi kemasyarakatan dan kelembagaan*. Ketika orientasi akhirat dijadikan kompas, dunia dikelola secara profesional, kebaikan dijadikan nilai utama, dan kerusakan dijauhi, maka institusi akan tumbuh menjadi rahmat bagi masyarakat.

Akhirnya, siapa yang mampu menjaga prinsip ini akan memperoleh keberhasilan sejati, sebagaimana janji Allah: “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah menang.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjalani hidup dengan prinsip ADBAR —hidup yang lurus, terarah, bermanfaat, dan bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat. (*)