13 Mei 2026

Cara Gen-Z Mengatasi Bahaya Algortima Media dalam Menciptakan HOAX

Oleh : Annisa Salsabila

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas Padang

Koran rakyat.co.id —New media merupakan tempat berbagi, menerima, serta mencari informasi masyarakat modern dalam bentuk format internet. Internet merupakan suatu hal yang dapat menghubungakan kita de­ngan seluruh dunia seingga dapat menciptakan demokrasi antar seluruh masyarakat dunia. Tapi nyatanya hal tersebut tidaklah semuanya benar. Karena ada sebuah perubahan dalam bagaimana cara informasi mengalir online, dan itu tidak terlihat. Hal tersebut dinamakan algoritma (Filter Buble). Dimana informasi yang didapat oleh satu orang akan berbeda dengan informasi yang di­da­­patkan oleh orang lainnya. Apabila dijadikan sebuah gambaran maka informasi yang di­dapatkan satu orang akan berbeda dengan 190 juta orang lainnya, dan hal itulah yang terjadi di la­man jejaring media setiap orang saat ini, yang pada akhirnya hanya memiliki satu sudut pandang.

Berbicara mengenai algoritma, terdapat sebuah ketimpangan lainnya, seperti penyebaran hoax. Mengapa demikian? karena kebanyakan orang cenderung percaya pada jenis berita satu arah yang dibesar-besarkan, jika hal tersebut sesuai dengan opini yang berkembang pada saat itu. Dengan kata lain seseorang percaya pada sebuah berita yang belum tentu benar, dikarenakan seseorang tersebut memiliki ketertarikan serta pemikiran yang sama terhadap berita tersebut.

ist

Hal ini juga tidak luput dari algoritma, yang mana apabila seseorang terus-menerus terpapar dengan informasi yang selalu dicarinya, maka disini dia hanya memiliki satu sudut pandang. Sehingga tidak menutup kemungkinan orang tersebut akan selalu mengikuti atau mempercayai informasi yang terus tersebar dilaman sosialnya tersebut, terlepas dia tau itu salah atau benar.

Hoax menjadi salah satu faktor dalam mengendalikan opini masyarakat saat ini, dengan dapat menahan ucapan dan juga terutama di saat dunia yang sudah serba online saat ini, kita juga diharuskan menahan jari untuk menyebarkan sebuah informasi yang tidak diketahui dan belum jelas kebenarannya. Karena dengan menahan satu ketikan dan ucapan kita bisa membantu dan mencerdaskan masyarakat bangsa agar dapat menjadi pribadi yang lebih lebih kuat. Berikut beberapa cara mengatasi beritas ata opini hox dilaman media social sekitar kita.

Menghindari Hoax dalam Algoritma Media

1.Verifikasi Informasi Sebelum di Bagikan

Jangan langsung percaya pada berita yang terlihat heboh atau mencolok. Banyak hoaks dibuat agar terlihat mendesak atau mengejutkan agar cepat viral. Baca isi berita secara lengkap dan jangan hanya terpaku pada judul, karena sering kali judul tidak mencerminkan isi sebenarnya. Gunakan alat bantu seperti situs fact-checking (misalnya TurnBackHoax.id, CekFakta.com) atau mesin pencari untuk melihat apakah informasi tersebut sudah diklarifikasi oleh sumber resmi. Bisa juga menggunakan AI untuk merangkum dan membandingkan informasi dari berbagai sumber.

Contoh:
Seseorang menerima pesan WhatsApp berisi kabar bahwa “makan mie instan saat haid bisa menyebabkan kanker rahim.” Sebelum membagikannya ke grup keluarga, ia mengecek informasi tersebut di situs TurnBackHoax.id dan menemukan bahwa kabar itu telah dinyatakan tidak benar oleh ahli gizi dan dokter.

2.Kurangi Interaksi dengan Konten Meragukan

Setiap klik, like, komentar, atau share memberi sinyal kepada algoritma media sosial bahwa Anda menyukai jenis konten tersebut. Akibatnya, konten serupa akan terus muncul di beranda Anda dan semakin banyak orang terpapar. Daripada berinteraksi, sebaiknya abaikan atau sembunyikan konten tersebut. Jika Anda yakin itu hoaks, gunakan opsi “laporkan” agar platform bisa menindak lanjut dan mencegah penyebaran lebih luas.

Contoh:
Di TikTok muncul video berjudul “Misteri Bank Indonesia Akan Bangkrut 2025?!”. Alih-alih menonton hingga habis, menyukai, atau meninggalkan komentar, pengguna memilih melewati video tersebut dan klik ‘tidak tertarik’, karena isi kontennya tidak mencantumkan data atau sumber resmi.

3.Gunakan Sumber Resmi yang Sudah Terferivikasi

Mengandalkan sumber terpercaya adalah langkah penting dalam melawan hoaks. Ikuti akun berita yang sudah terverifikasi seperti lembaga pemerintah, institusi pendidikan, atau organisasi yang punya reputasi baik. Hindari menyerap informasi dari akun anonim atau media tidak dikenal yang belum terdaftar di Dewan Pers. Selalu bandingkan satu informasi dengan sumber lainnya untuk memastikan kebenarannya.

Contoh:
Saat muncul isu kenaikan harga BBM di media sosial, seseorang mengecek langsung akun Instagram resmi @pertamina dan situs web Kominfo.go.id untuk mendapatkan informasi resmi, bukan hanya mengandalkan tangkapan layar dari akun anonim di Twitter.

4.Waspadai Judul Provokatif atau Viral

Judul hoaks sering menggunakan gaya provokatif dan memancing emosi seperti takut, marah, atau sedih. Ini sengaja dibuat agar orang tergoda untuk mengklik dan menyebarkan tanpa berpikir panjang. Biasakan membaca isi berita sampai tuntas dan jangan langsung mengambil kesimpulan dari judulnya. Judul yang sensasional belum tentu mencerminkan isi yang benar atau valid. karena hoaks sering menggunakan jenis judul yang dilebih-lebihkan, seperti mengandung clickbait, memicu emosi (marah, takut, sedih). dan biasakan membaca berita secara menyeluruh tidak hanya dari judulnya saja.

Contoh:
Sebuah artikel berjudul “TERUNGKAP! Obat Flu Penyebab Kematian di Balik Layar” muncul di Facebook. Alih-alih membagikannya, seseorang membaca isi artikelnya dan mendapati bahwa artikel itu hanya berisi opini tanpa bukti ilmiah atau tautan ke jurnal atau lembaga medis terpercaya.

5.Tingkatkan Literasi Digital

Dengan memahami cara kerja media dan algoritma, Anda akan lebih mampu memilah informasi yang muncul di lini masa Anda. Literasi digital membuat kita tidak mudah termakan oleh narasi menyesatkan. Caranya bisa melalui membaca buku, mengikuti pelatihan, atau mempelajari jurnal tentang hoaks, media, dan algoritma sosial media. Semakin tinggi literasi Anda, semakin kecil kemungkinan terjebak dalam pusaran informasi palsu. pelajari cara kerja algoritma media agar kita dapat tahu kenapa konten tertentu muncul diberanda kita, dengan cara perbanyak membaca buku atau jurnal-jurnal terkait dan terpercaya.

Contoh:
Mahasiswa mengikuti webinar tentang “Disinformasi di Era Digital” yang diadakan oleh Kominfo. Setelah itu, ia mulai lebih kritis dalam membaca berita, memahami algoritma media sosial, dan mengajarkan temannya untuk tidak hanya mengandalkan satu sumber informasi saja.

6.Gunakan Penjelajahan Privat (Incognito Mode)

Mode incognito atau privat pada browser mencegah penyimpanan riwayat pencarian dan cookies. Ini membantu mengurangi pengaruh algoritma yang biasanya menampilkan konten berdasarkan kebiasaan pencarian Anda. Dengan menjelajah secara privat, Anda bisa menghindari terbentuknya “filter bubble” — kondisi saat Anda hanya terpapar informasi yang sesuai dengan pandangan pribadi dan tidak melihat sudut pandang lain.

Contoh:
Seseorang ingin mencari informasi tentang teori konspirasi tertentu yang sedang viral. Ia menggunakan mode incognito di Google Chrome agar tidak membuat riwayat pencarian yang akan memengaruhi algoritma media sosialnya di kemudian hari.

7.Laporkan Hoaks ke Platform

Jika Anda menemukan konten yang terbukti hoaks, jangan diam saja. Gunakan fitur “laporkan” di media sosial agar sistem dan moderator dapat menindak konten tersebut. Semakin banyak orang melaporkan, semakin cepat konten hoaks diturunkan atau diberi label peringatan. Ini adalah kontribusi kecil tapi berdampak besar untuk menjaga ekosistem digital tetap sehat.

Contoh:
Di Facebook, seseorang menemukan postingan viral yang menyebut vaksin COVID-19 mengandung chip pelacak. Ia mengklik tiga titik di pojok kanan atas postingan, memilih “Laporkan Postingan”, lalu menandainya sebagai “Berita Palsu” agar Facebook meninjau dan mengambil tindakan.

Maka dari itu, sebagai pengguna media sosial ada baiknya kita tidak hanya terfokus pada satu sudut pandang saja, dianjurkan bagi tiap-tiap orang memiliki literasi dalam bermedia, karena kita sudah mengetahui bahwasannya sebuah website atau applikasi akan menfilter apa saja yang selalu kita lihat, kunjungi, komentar dan pada akhirnya media tersebut menyesuaikannya.

Kesimpulannya, jadilah pengguna media yang baik dengan tidak hanya melihat informasi dengan satu sudut pandang “mata kuda”, sehingga kita tidak memberi makan algoritma dengan konten negatif. (*)