20 Mei 2024

Pelajaran dari Peristiwa di Jalan Tanjung Senai

Oleh : Drs H Iklim Cahya, MM (Wartawan/Pengamat Sosial dan Politik)

KOTA Indralaya bila dilihat dari keadaan lingkungannya seperti normal-normal saja. Tidak menyeramkan bagi siapapun, sebab warga yang berdiam di ibukota Kabupaten Ogan Ilir (OI) ini, sudah heterogen atau majemuk. Dengan istilah lain sudah berasal dari berbagai daerah di Sumsel bahkan Indonesia. Tak salah kalau Indralaya disebut Indonesia mini. Apalagi di Indralaya ada kampus Unsri, yang mahasiswanya berasal dari Aceh hingga Papua.

Begitu juga kondisi Kamtibmas, kalau dalam wilayah perkotaannya juga relatif aman. Paling terdengar sekali-kali ada Curanmor atau Curat. Itu pun di desa-desa atau kelurahan di sekitarnya. Karena itu sebagian warganya juga tidak takut untuk keluar malam.

Seperti malam itu, dua orang mahasiswa/mahasiswi Universitas Sriwijaya (Unsri), entah direncanakan atau secara spontanitas, “bersantai” di jalan Sakatiga-Tanjung Senai, Indralaya. Jalan umum menuju perkantoran Pemkab OI di kawasan Tanjung Senai.

Kedua mahasiswa ini ngekost di area Kelurahan Timbangan, di depan SPBU milik almarhum Romi Herton, mantan Walikota Palembang.

Keduanya secara berboncengan menaiki sepeda motor menuju ke TKP. Apakah mereka lewat jalur Jalintim atau melintas melalui jalan Desa Tanjung Pering, belum diketahui persis. Tapi diperkirakan keduanya melintas lewat Jalintim, jalur yang umum dilintasi kendaraan

Warga yang bersantai atau berjalan-jalan di kawasan Tanjung Senai, juga hal yang biasa, karena lokasi tersebut view-nya cukup indah dengan udara yang cukup bersih. Tapi umumnya warga datang di siang hari. Sangat jarang warga menikmati suasana Tanjung Senai di malam hari, kecuali ada pagelaran acara.

Tapi malam itu kedua mahasiswa tersebut, yang diduga sepasang kekasih, yakni Aldo Prasetio (19), mahasiswa FT Pertambangan dan Nazwa Keyzha Safira alias Kekey (18), mahasiswi Teknik Kimia. Malam itu seperti tiada takut, bersantai di kawasan tersebut, padahal sudah larut malam.

Banyak pertanyaan tentang hal tersebut, terutama dari para kalangan ulama. Tapi mungkin saja keduanya tidak terpikir, kalau kondisi yang sepi bisa mengundang niat jahat orang.

Dan rumus kejahatan/tindak pidana K = N + K (Kejahatan terjadi karena dipengaruhi dua faktor yakni niat dan Kesempatan), memang terbukti benar.

Dari keterangan pihak kepolisian, awalnya dua orang pelaku yang juga menunggang sepeda motor, bertanya kepada kedua mahasiswa tersebut. Apakah melihat ada orang yang mancing? Lalu setelah dijawab tidak ada, mereka berlalu.

Tapi kemudian kembali lagi, mengambil sepeda motor si mahasiswa tersebut secara paksa. Diduga dalam perjalanan mereka terpikir, bahwa ada kesempatan di depan mata.

Mahasiswa yang lelaki, Aldo Prasetio melawan tapi tak berdaya. Ia kena bogem mentah dan dipukul tersangka pelaku dengan gagang senpi rakitan. Kepala Aldi robek.

Kedua pelaku kemudian mengambil sepeda motor si mahasiswa, dan berupaya menjauh. Tapi sial pelaku yang menunggang sepeda motor si mahasiswa tersebut terjatuh. Keadaan itu membuat Aldo dan Kekey kembali mengejar mereka. Tapi naas Kekey yang sebetulnya bisa bela diri karate ini ditusuk dengan senjata tajam di punggung kirinya. Ia pun tewas. Kalau ia tidak ditusuk senjata tajam, dengan ilmu bela dirinya belum tentu Kekey kalah menghadapi si pelaku. Sementara pacarnya, Aldo Parestio (19), mahasiswa Teknik Pertambangan, kepalanya terluka robek, dipukul pelaku pakai pistol rakitan.  Peristiwa tersebut terjadi Sabtu 3 Februari 2024 lalu, sekitar pukul 00.30 WIB, di jalan yang membelah lebak Sakatiga Seberang – Tanjung Senai.

Kapolsek Indralaya, AKP Herman Romlie SH, melalui Kanit Reskrim Ipda M Agus Akbar SH, ketika ditanya wartawan, Sabtu pagi 3 Januari 2024, membenarkan telah terjadinya peristiwa naas tersebut.

Menurut polisi, malam itu kedua korban datang ke lokasi kejadian, berboncengan mengendarai sepeda motor. Lalu duduk mengobrol di jembatan pertama, dari arah Desa Sakatiga Seberang.

“Korban dihampiri dua orang pelaku, yang awalnya pura-pura bertanya apakah melihat temannya yang memancing,” ungkap Agus.

Menurut keterangan saksi Aldo, dua orang itu mengendarai motor Honda PCX warna hitam.  “Setelah dijawab tidak melihat, keduanya pergi. Tapi tak lama datang lagi,” sambungnya.

Kedatangannya kedua kali menghampiri korban, langsung mengeksekusinya. Pelaku yang mengenakan jaket hoodie warna hitam dan masker, merampas motor korban. Pelaku menodongkan senpi rakitannya.

Karena sempat melawan untuk mempertahankan sepeda motornya, korban Aldo dipukul kepalanya pakai senpi rakitan oleh pelaku yang postur tubuhnya agak gemuk. “Saat akan melarikan diri, pelaku yang ini terjatuh dari motor,” ungkapnya.

Korban Aldo kembali berusaha mengejar pelaku yang mengambil sepeda motornya itu. Sedangkan korban Kekey, juga menarik pelaku lain yang mengendarai sepeda motornya sendiri. Orang tersebut perawakannya tinggi.

“Tapi Kekey ditusuk pelaku pakai pisau, mengenai punggung kirinya,” sambung Agus. Kedua pelaku kemudian kabur membawa sepeda motor milik korban.

Aldo berlari mencari bantuan, sampai ke simpang gerbang kompleks perkantoran Pemkab OI. Mengajak orang yang ditemuiya, menjemput Kekey yang terluka di TKP awal.

Kekey segera dibawa ke Rumah Sakit (RS) Mahyuzahra Indralaya. Namun Kekey tak tertolong lagi, meninggal dunia. “Kami sudah melakukan Olah TKP, dan telah mendapat gambaran. Masih terus dilidik,” pungkas Agus.

Almarhumah Nazwa Keyzha Safira yang biasa disapa Kekey, asal Desa Sukanegara, Kecamatan Lahat, Kabupatan Lahat. Sedangkan korban Aldo, asal Desa Curup, Kecamatan  Tanah Abang, Kabupaten PALI. Keduanya indekos terpisah di Indralaya.

Almarhumah Kekey adalah anak dari anggota TNI-AD yang bertugas di Lahat, Nazir.  Nazir dikenal sebagai salah satu senpai (pelatih karate) di KKI Lahat.

Hal tersebut diketahui dari pesan WhatsApp yang beredar.

”Innalillahi wainnailaihi rojiun.Telah berpulang ke Rahmatullah, anak/adik kita Nazwa Keyza Safira (Kekey) , anak dari  saudara kita senpai Nazir (KKI Lahat).  Semoga almarhumah diampuni dosanya dan diterima amal ibadahnya.  Dan bagi keluarga senpai Nazir diberikan kesabaran yg seluas-luasnya.”

Musibah yang menimpa kedua korban, juga sudah beredar di grup-grup WA mahasiswa di berbagai fakultas hingga grup WA Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsri.

“Assalamualaikum. Bapak Ibu pimpinan Unsri, informasi sementara pagi ini bahwa semalam ada mahasiswa FT Tambang dan FT Kimia dibegal semalam di Tanjung Senai, 1 orang meninggal dunia. Pasien laki-laki bernama Aldo Parestio Teknik Pertambangan (dirawat di RS Mahyuzahra). Pasien Putri atas nama Nazwa Keyza.”

Pesan lain juga mengabarkan,” Innalillahi wainnailaihi rajiun. Yang bersangkutan dibegal malam ini, korban Meninggal Dunia (MD) Atas Nama Nazwa Keyzha Safira Teknik Kimia 2022.”

Kemudian, “ Mohon kawan” juga beri imbauan kepada anggota jurusannya, supaya tidak lagi terulang kejadian yg tidak diinginkan. Nyatakan juga bahwa malam di Indralaya sudah tidak aman, kami dari BEM se-Unsri lagi mencanangkan untuk melapor dan berbincang dengan Polsek terkait keamanan sekitar Indralaya. Mohon jadi perhatiannya kawan.”

Jenazah Kekey, Sabtu siang, sudah tiba di desanya Sukanegara Lahat. Suasana duka sangat terasa sekali, baik dari keluarga maupun teman-teman Kekey. Hari itu juga almarhumah dimakamkan di pekuburan desa setempat.

Pihak kepolisian baik dari Polsek Indralaya, Polres OI, bahkan Polda Sumsel, sedang mengejar kedua tersangka pelaku. Beberapa barang bukti dan ciri-ciri tersangka, juga sudah dikantongi polisi. Kita berharap semoga kedua tersangka segera berhasil diringkus.

Kejadian ini mengundang perhatian sejumlah kalangan, termasuk dari sejumlah ulama di Ogan Ilir.

Ada yang menyayangkan, mengapa malam-malam kedua mahasiswa tersebut, berani berada di tempat yang sepi. Yang dapat mengundang niat jahat orang yang melihatnya.

Ada juga yang meminta, agar patroli polisi di malam hari semakin digalakkan, karena ternyata Indralaya dan sekitarnya rawan Kamtibmasnya. Termasuk perlunya kerjasama dan dukungan dari Pol PP.

Lalu kepada Unsri diminta untuk semakin melakukan pembinaan kepada mahasiswanya. Pendidikan agama dan mental harus terus digalakkan. Semoga masalah ini menjadi perhatian bersama pihak Polres OI, Unsri, Pemkab OI, dan para ulama. Ungkapan dan harapan tersebut beredar di sejumlah Gruf WA seperti gruf Forum Ukhuwah Ulama Umaro OI, ICMI, dan MUI OI. (ica)