Pertama di Indonesia, Konferda PWI Diawali dengan Debat Kandidat

PALEMBANG | Koranrakyat.co.id – Sepanjang sejarah berdirinya PWI sejak 77 Tahun silam, baru kali ini para jurnalis menggelar debat kandidat, yang ingin maju pada kontestasi pemilihan Ketua. Sejarah pertama ini terjadi di Saumatera Selatan, Senin (22/1/2024) menjelang Konferensi Daerah PWI Sumsel, yang rencananya digelar awal Februari 2024 mendatang.
Debat Kandidat ini, diinisiasi oleh anggota PWI Sumsel yang tergabung dalam perhimpunan Wartawan 789, bekerjasama dengan Universitas Terbuka Palembang. Hadir dalam perhelatan ini, Direktur UT Palembang, Dr Meita Istianda, S.I.P, M.Si dan Plt Ketua PWI Sumsel, Anwar Rasuan, serta sejumlah mahasiswa.
Untuk diketahui perhimpunan wartawan 789 adalah para jurnalis senior yang sudah bekerja di era tahun 70-an, tahun 80-an dan tahun 90-an. Perhimpunan ini digagas sejak dua tahun silam, sebagai wadah silaturahmi dan rasa saling peduli.
Debat kandidat yang berlangsung di lantai aula UT Palembang, di km 10 ini, tidak lain sebagai ajang adu pemikiran dan gagasan dari para calon. Masing-masing diberi waktu menyampaikan Visi dan Misinya di hadapan para jurnalis yang akan memilih mereka.
”Selama ini, setiap kontestasi pemilihan ketua lima tahun sekali, kita hanya melihat figur dari aspek kedekatan pertemanan atau dikenal dengan istilah kawan dekat dan kawan lama seperjuangan. Nah, kali ini, aspek itu kita pinggirkan dulu. Kita ingin mengajak teman-teman jurnalis untuk menentukan pilihan berdasarkan ‘isi kepala’ masing-masing calon. Mau dia bawa kemana PWI Sumsel ini, jika ia dipilih,” ujar Maspril, Ketua Panitia Penyelenggara debat sekaligus bertindak sebagai moderator, ketika memulai acara.
Wartawan Republika yang juga penulis buku ini mengatakan, di ajang debat masing-nasing kandidat tidak saling serang seperti debat Capres dan Cawapres. Dan debat berlangsung saling menjaga sopan santun dan tidak mengulik masalah pribadi.
Debat ini juga disiarkan langsung melalui platform streaming populer, yaitu YouTube dan Facebook. Pemilihan platform ini memungkinkan akses mudah bagi penonton yang ingin menyaksikan debat secara real-time dan memberikan ruang untuk interaksi melalui komentar dan tanggapan.
Tujuh Kandidat
Ada tujuh kandidat calon yang mengajukan dirinya untuk kontestasi Konferda PWI Sumsel periode 2024-2029 ini. Berbeda dengan periode sebelumnya, jumlah Kandidat yang maju tak lebih dari tiga orang. Banyaknya kandidat yang maju ini juga menjadi pertimbangan logis perlunya digelar debat kandidat.
Mereka adalah Afdhal Azmi Djambak (Pemimpin Redaksi Transparan Merdeka, saat ini Plt Ketua DKP), Agus Harizal Alwie Tjikmat (Pemilik Koran Suara Nusantara dan KoranSN.com, yang juga Ketua JMSI Sumsel).
Selain itu, Dwitri Kartini (Pemred Sumeks.co), Hadi Prajogo (Sriwijaya Post dan Tribun Sumsel), Kurnaidi (Sentral Post dan kini Ketua PWI Muba), M Syarifudin Basrie (Pemilik Agus Post Grup), dan Richan Joe (Pemred Jurnalpos.co dan kini Ketua PWI OKU Selatan).
Sayangnya, dari tujuh calon tersebut, yang hadir hanya tiga orang saja, Yakni Afdhal Azmi Jambak, Hadi Prajogo dan H.Syarifuddin Basri. Sedangkan empat kandidat lalinnya tidak hadir dengan alasan sibuk urusan kantor redaksi dan berhalangan karena pemukiman mereka sedang dilanda banjir..
Sementara itu, dalam penyampaian visi misi ketiga calon sebagian besar menjanjikan hal-hal yang bermanfaat bagi anggota PWI Sumsel.
Afdhal Azmi misalnya, sebagai kandidat pertama yang diberi waktu berbicara, menyampaikan bahwa visi misinya yakni Berintegritas Kuat, Semua Anggota Bahagia. Diantaranya ada 10 visi yaitu menghentikan suap menyuap, hentikan transaksional untuk menjadi ketua PWI.
Selain itu, membangun komunikasi positif dengan pemerintah dan masyarakat, bentuk unit usaha dengan itu dapat menangani kemiskinan sebagian anggota PWI.
Calon kedua, Hadi Prayogo menjanjikan membantu para anggota eksis di era digital. Pengurusan Dewan Pers agar wartawan nyaman mencari pendapatan, dan kerjasama dengan universitas secara gratis bagi wartawan untuk mengembangkan pendidikan.
Calon ketiga, Syarifuddin Basrie menjanjikan menyejahterakan wartawan Sumsel, dan untuk memperkuat iman para anggota dan akan menaikkan haji dan umroh secara gratis dan kuliah gratis.
Soal Gedung PWI
Selain menjanjikan berbagai program dan terobosan menarik, pada sesi tanya jawab juga mengemuka persoalan Gedung PWI Sumsel yang hingga sekarang masih numpang. Sementara gedung PWI yang sempat dibangun melalui dua kali anggaran APBD, malah belakangan diberikan kepada Bawaslu.
Helmy Marsindang, Wartawan Senior yang lama di Harian Ekonomi Neraca, dan sekarang Pemred media online Koranrakyat.co.id, memaparkan hal itu. Menurutnya, berpindah-tangannya kegunaan gedung yang sudah disahkan DPRD Sumsel untuk PWI Sumsel itu, karena kesalahan pengurus PWI periode 2014-2019.
Ia berharap, gedung ini diinvestigasi kembali asal usulnya, sehingga dapat diambil kembali oleh PWI. Gedung yang terletak di Kawasan Jaka Baring itu sangat refresentatif karena dibangun dengan biaya milyaran rupiah. Namun, sayangnya, karena tak ada inisiatif dari PWI Sumsel untuk menggunakan gedung tersebut saat itu, akhirnya oleh Gubernur Sumsel era Alex Noerdin, diserahkan penggunaanya kepada Bawaslu Sumsel.
”Siapa pun nanti yang terpilih jadi Ketua PWI, saya berharap aset yang sejatinya ditempati para jurnalis ini harus diambil kembali. Sebab, tidak ada Adendum (perubahan pengguna-red) dalam pengesahan anggaran pembangunan gedung tersebut, kecuali untuk PWI,” ujar Helmy. (dm)
