2 Desember 2022

Eksistensi Pemuda Muhammadiyah Di Wilayah Perbatasan Kabupaten Natuna

Organisasi Muhammadiyah didirikan atas dasar gagasan pemikiran dari K.H Ahmad Dahlan pada tahun 1912 di Yogyakarta. Muhammadiyah adalah organisasi Islam dengan berdasarkan pemurniaan atau purifikasi dan langsung merujuk Al Quran dan As Sunnah serta merefleksikan dakwah Amal Ma’ruf Nahi Munkar, Organisasi ini lambat laun mampu menyebarkan dan melebarkan pengaruhnya kepada umat muslim diluar Yogyakarta.

Awal masuknya faham Muhammadiyah di luar Yogyakarta yaitu berada di Surabaya, setelah K.H Ahmad Dahlan mengajukan permohonannya untuk diizinkan mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah kepada pemerintahan Hindia Belanda pada tanggal 7 Mei 1921, maka terbentuklah pimpinan Muhammadiyah cabang Surabaya pada tanggal 27 November 1921, tak berselang kemudian berdirilah cabang Muhammadiyah di Kepanjen Malang pada tanggal 21 Desember 1921, dari sekian terbentuknya cabang-cabang di wilayah Jawa bagian Timur, akhirnya faham Muhammadiyah sampai ke Kabupaten Jember. Pengaruh faham ini, membawa dampak terhadap pola perubahan masyarakat dan umat Islam di Kabupaten Jember dengan mewujudkan dakwah dan merealisasi amal usaha Muhammadiyah untuk membentuk serta mewujudkan tujuan Muhammadiyah.

Muhammadiyah dilahirkan sebagai bentuk upaya perubahan dalam kehidupan umat Islam yang lebih baik, misi dan strategi dakwah amar ma’ruf nahi munkar merupakan dasar gerakan sosial keagamaan organisasi tersebut. Sehingga  keberadaan Muhammadiyah mampu tumbuh dikalangan masyarakat yang rasional, maka faham ini dekat dengan golongan terpelajar. Tak terkecuali masyarakat  diwilayah perbatasan  Indonesia yaitu salah satunya Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Dahulu Kabupaten Natuna adalah bagian dari wilayah Kabupaten Kepulauan Riau. Natuna awalnya terkenal sebagai wilayah Pulau Tujuh yang merupakan gabungan dari tujuh kecamatan kepulauan yang tersebar di perairan Laut Cina Selatan yaitu Jemaja, Siantan, Midai, Bunguran Barat, Bunguran Timur, Serasan, dan Tambelan. Enam kecamatan kecuali Tambelan nantinya menjadi cikal bakal wilayah Kabupaten Natuna  Berdasarkan Surat Keputusan Delegasi Republik Indonesia No.9/Deprt tanggal 18 Mei 1956, Propinsi Sumatera Tengah menggabungkan diri kedalam Republik Indonesia dan Kepulauan Riau diberi status Daerah Otonom Tingkat II yang dikepalai oleh Bupati sebagai kepala daerah dan membawahi empat kewedanan

Salah satu bukti bahwa keberadaan Muhammadiyah ada dan berkembang  di Kabupaten Natuna yaitu adanya  Pengurus Pimpinan Daerah (PD) Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Natuna periode 2020-2024 yang secara resmi dilantik pada hari jum’at 30 Oktober 2020, Pelantikan ini dipimpin langsung oleh Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Muhammadiyah Provinsi Kepulauan Riau, Abdulrauf Rahim, di aula Kampus STAI Natuna.

Eksistensi Pemuda Muhammadiyah di Kabupaten Natuna ini sudah ada sejak tahun 2000an, banyak kader pemuda Muhamadiyah yang telah ,mengambil peran dalam pembangunan Natuna, misalnya Daeng Rusnai yang sempay=t menjadi Bupati Natuna, juga Ngesti Yuni Suprapti yang sempat menjadi anggota DPRD dan menjadi wakil Bupati Natuna, begitu juga dengan Daeng Amhar yang saat ini menjadi ketua DPRD Natuna,

Tokoh sentral masyarakat Natuna ini merupakan kader Muhamdiyah yang digembleng organiasi Muhamadiyah di Jogyakarta

Ketua DPRD Natuan Daeng Amhar misalya  sudah 4 periode menjadi wakil rakyat di DPRD Natuna yaitu periode 2004-2009, 2009-2014, 2014-2019 dan 2019 hingga sekarang menjadi ketua DPRD Natuna. masa sisa jabatan 2019-2024.

Riwayat PendidikanDaeng Amhar  menunjukkan dirinya merupakan kader Muhamaiyah terlihat dari rekam jejaknya yakni

1. S-2 Managemen Magister (MM) Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta tahun 2004.

2. S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah.
Yogyakarta 2000.

3. SMA Muhammadiyah VII Yogyakarta
tahun 1993.

Begitu juga dengan tokoh Mumadiyah lainnya Ngesti Yuni Suprapti yang sempat menjadi Wakil Bupati Natuna periode 2015-2020 dibesarkan oleh muhamaiyah terlihat dari jejak pendidikannya yakni

  • SD Muhammadiyah VIII Gunung Simping (1975)
  • SMPN 2 Cilacap (1979)
  • SMEAN Cilacap (1982)
  • S1 IKIP Muhammadiyah Yogyakarta (1998)

Selain kedua tokoh tersebut masih banyak tokoh Muhamadiyah di Natuna yang juga menduduki posisi jabatan publik yang cukup disegani dalam kiprahnya membangun Natuna

Organisasi Muhamadiyah di Natuna akan terus melakukan pengembangan serta kaderisasi yang berkelanjutan sehingga eksistensi Pemuda Muhammadiyah di wilayah perbatasan tetap menggaung dan menjadi poros serta  refrensi bagi para pemuda yang lain yang ada di Natuna.

Semakin trandingnya kabupaten Natuna dengan problematika yang ada di laut Natuna Utara ini saharusnya menjadikan para pemuda terutama Pemuda Muhammdiyah sadar akan pentingnya membela kedaulatan negara dari perspektif kepemudaan, sebagaimana yang pernah disampaikan  oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Sunanto yang meminta Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk bersikap tegas terhadap Republik Rakyat China terkait status kepemilikan Laut Natuna Utara. Ini merupakan sebuah bentuk kepedulian serta eksistensi Pemuda Muhammadiyah di wilayah perbatasan NKRI yaitu Kabupaten Natuna. * (Frannandi)

Tinggalkan Balasan

Lewat ke baris perkakas