Gempa dan Tsunami Palu: Kehancuran Dimana-mana, Dicemaskan Ratusan Tewas

PALU | Koranrakyat.co.id — Kehancuran tampak di berbagai pelosok kota Palu, Sabtu pagi ini. Bangunan-bangunan hancur, puing-puing bertebaran, situasi begitu sunyi dan mencekam.

“Pantai Talise (yang diterjang Tsunami kemarin) habis, semua habis di sana,” kata Eddy Djunaedi wartawan Metro Palu, yang juga warga Kota Palu, lewat sambungan telepon, dikutip dari bbc.indonesia.com.

“Warga mulai datang mengidentifikasi jenazah, diperkirakan ratusan tewas,” katanya.

Eddy Djunaedi sendiri selamat karena rumahnya berada di ketinggian. Setelah semalaman bersiaga, mewaspadai gempa susulan setelah tsunami menerjang, Eddy akhirnya bergerak menuju Anjungan Pantai Talise, Sabtu (29/9), dan tiba di kawasan itu sekitar pukul 08:00.

Warga kota Palu itu baru benar-benar menyadari dampak tsunami itu ketika berdiri di dekat pantai Talise, karena sepanjang malam ia boleh dikata terisolasi: listrik padam, sementara jaringan telekomunikasi tidak bisa diandalkan.

Edy mencemaskan banyaknya korban jiwa berdasar pengamatannya di lapangan. Namun belum ada data resmi mengenai hal itu.

Kepala Badan Nasional Penangulangan bencana (BNPB) mengatakan, tim mereka baru akan tiba di Palu, sekitar pukul 14:00.

“Lalu kami akan melakukan assessment terhadap kerusakan dan korban,” katanya kepada wartawan. dari situ baru akan diketahui jumlah korban dan kerusakan.

“Yang jelas, prioritasnya adalah penyelamatan dan pencarian korban. Karena kemungkinan banyak korban tertimpa bangunan akibat gempa, atau terdampak Tsunami,” katanya.

Kesaksian Warga Palu

“Gempanya lumayan dasyat. Rata-rata jalan ke Palu barat ini semua retak, bahkan ada yang turunnya sampai 80 cm, amblas ke bawah. Tadi posisinya saya sementara di atas motor, saya jatuh. Langsung jatuh. Posisi saya sementara mengendarai motor, tiba-tiba gempa, jatuh. Lumayan keras. Ya ada luka di siku sebelah kanan. Lecet saja.

Jembatan Empat, maskotnya Palu, itu patah tadi posisinya. Patah di tengah-tengahnya. Jadi akses dari selatan ke barat itu putus. Terus di tempat saya juga ada rumah yang retak, ada tembok-tembok yang rubuh.

Orang-orang di sekitar saya, semua juga kan, posisi kan saya sementara di tengah kota. Jadi rata-rata di keliling gedung bertingkat, semua memang lari, lari keluar gedung, semua berhamburan ke tengah jalan.

Kalau gempanya sendiri tadi dia goyangnya sekitar hampir satu menit. Terus kalau efek setelah itu, sampai sekarang masih ada. Efeknya orang masih takut masuk ke dalam rumah. Semua orang ini posisi masih di luar rumah. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *