Bedah Buku di Ekraf Day 2026, Cara Banjarnegara Rawat Budaya Lewat Literasi

BANJARNEGARA |KoranRakyat.co.id| – Upaya merawat budaya lokal melalui literasi menjadi sorotan dalam Ekraf Day 2026 Kabupaten Banjarnegara. Salah satu agendanya adalah bedah buku berjudul Banjarnegara Surga Cerita yang digelar di Alun-alun Banjarnegara, Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan ini dihadirkan sebagai bentuk apresiasi terhadap karya literasi sekaligus langkah konkret menjaga kekayaan budaya daerah agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Bedah buku tersebut menghadirkan Founder Rumah Baca Purnama yang juga Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Banjarnegara, Indra Hari Purnama, serta pegiat sastra sekaligus dosen STIT Tunas Bangsa, Elyvia Widyaswarani.
Dalam diskusi, buku Banjarnegara Surga Cerita dibahas sebagai media untuk mengenalkan kembali cerita rakyat, tradisi, sejarah dan kearifan lokal Banjarnegara. Karya ini tidak hanya menjadi dokumentasi budaya, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai ekonomi.
Indra Hari Purnama mengatakan, bedah buku ini bukan sekadar forum membicarakan sebuah karya, melainkan ruang apresiasi literasi dan penjaga identitas daerah.
Menurutnya, tujuan kegiatan adalah memberikan ruang apresiasi bagi karya literasi sekaligus merawat kekayaan budaya lokal Banjarnegara. Melalui buku, nilai-nilai tradisi dan sejarah diangkat agar pelestarian budaya, penguatan literasi dan pengembangan penerbitan dapat berjalan beriringan.
Ia menjelaskan, cerita-cerita lokal menyimpan pengetahuan dan identitas yang perlu terus dijaga melalui berbagai media, termasuk buku. Lewat penerbitan, cerita tersebut tidak hanya menjadi arsip masa lalu, tetapi dapat diolah menjadi karya kreatif yang menjangkau pembaca lebih luas.
Hal ini sekaligus membuka peluang bagi penulis, penerbit dan pegiat literasi untuk berkontribusi dalam ekosistem ekonomi kreatif daerah.
“Setiap cerita lokal memiliki potensi menjadi karya bernilai. Setiap buku menjadi ruang tumbuhnya pengetahuan dan setiap penulis berperan menjaga identitas budaya,” ujarnya.
Kegiatan ini menegaskan posisi sektor penerbitan sebagai bagian strategis dalam ekonomi kreatif. Buku tidak hanya dipandang sebagai produk literasi, namun juga sarana mengenalkan potensi budaya Banjarnegara kepada masyarakat luas.
Melalui bedah buku ini diharapkan minat baca, tulis dan dokumentasi cerita lokal di kalangan masyarakat semakin tumbuh. Sehingga penguatan literasi dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis identitas daerah. (dar)

