28 Oktober 2026

Bawa Gerobak Literasi ke Sekolah, Cara Indra Hari Purnama Ajak Siswa SMPN 1 Mandiraja Gemar Membaca

BANJARNEGARA |KoranRakyat.co.id|- Di tengah kesibukan jam istirahat, puluhan siswa SMP Negeri 1 Mandiraja, Banjarnegara, mengerubuti sebuah motor listrik beroda tiga yang berisi buku-buku.

Gerobak Literasi ini dibawa langsung oleh Founder Rumah Baca Purnama, Indra Hari Purnama, saat ia menjadi narasumber Sosialisasi Literasi dan Numerasi di sekolah tersebut, Selasa (27/10/2026).

Bagi Indra, literasi tidak boleh berhenti di ruang seminar. Ia sengaja membawa gerobak itu agar siswa yang tidak terpilih menjadi peserta sosialisasi tetap bisa merasakan manfaatnya.

“Gerobak Literasi ini kami bawa di Rumah Baca Purnama, biar waktu istirahat mereka bisa dipakai untuk baca, bukan hanya jajan,” kata Indra saat ditemui di lokasi.

Menurut Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kabupaten Banjarnegara itu, tantangan literasi hari ini bukan lagi soal mau atau tidak mau membaca, melainkan soal akses. Ketika buku dihadirkan sedekat mungkin, rasa ingin tahu siswa akan tumbuh dengan sendirinya.

Pendekatan itu terlihat efektif. Tanpa diminta, sejumlah siswa membuka buku cerita, ensiklopedia sains ringan, hingga novel remaja dari gerobak tersebut.

Kepala SMPN 1 Mandiraja, Bambang Kuseno, menyambut baik kolaborasi itu. Ia menilai gerakan literasi membutuhkan cara-cara kreatif agar tidak membosankan bagi siswa.

Kegiatan sosialisasi sendiri digelar selama dua hari, Senin-Selasa (26-27/10/2026), dengan melibatkan 60 siswa kelas VII dan VIII.

Pada hari pertama, siswa mendapat materi numerasi dari Pengawas SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga, Untung Sugiarto. Hari kedua, materi literasi diisi Indra bersama pengurus Forum TBM Banjarnegara, Darno.

Bambang menegaskan, tujuan kegiatan bukan sekadar meningkatkan minat baca. Lebih jauh, siswa diajak untuk mampu memahami bacaan, menyaring informasi di tengah banjir informasi digital, hingga berani menyampaikan pendapatnya.

Hal itu sejalan dengan pandangan Indra. Ia menyebut literasi harus menjadi ekosistem yang melibatkan sekolah, keluarga, dan komunitas.

“Rumah Baca tidak bisa jalan sendiri. Sekolah tidak bisa jalan sendiri. Ketika gerobak kami bisa masuk ke sekolah, itu artinya ekosistemnya ketemu,” ujarnya.

Ia berharap, dari kegiatan sederhana seperti membaca saat istirahat, akan tumbuh kebiasaan yang berkelanjutan. Tidak perlu menunggu di perpustakaan, buku bisa datang ke tempat siswa berada. (dar)