Penguasaan Ekonomi Kreatif dan AI Bagi Mahasiswa : Perlu atau Harus ?

Oleh : Sudarta
Pemerhati Masalah Sosial, Ekonomi dan Kemasyarakatan
KoranRakyat.co.id —Perkembangan teknologi di era digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan, terutama pendidikan, pekerjaan, dan perekonomian. Salah satu perkembangan yang semakin banyak digunakan adalah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Di sisi lain, ekonomi kreatif juga menjadi sektor yang memiliki peluang besar untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kedua hal ini memiliki hubungan erat karena teknologi AI dapat membantu manusia mengembangkan ide, menghasilkan karya, dan menciptakan peluang usaha baru.
Oleh karena itu, muncul pertanyaan: apakah penguasaan ekonomi kreatif dan AI bagi mahasiswa hanya perlu, atau sudah menjadi suatu keharusan?
Menurut saya, penguasaan keduanya bukan sekadar perlu, melainkan sudah menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan masa depan.
Ekonomi kreatif merupakan kegiatan ekonomi yang mengandalkan kreativitas, ide, inovasi, dan keterampilan untuk menghasilkan produk atau jasa yang memiliki nilai tambah. Bidang ini mencakup berbagai sektor, seperti kuliner, fesyen, desain grafis, musik, film, kerajinan, dan bisnis digital.
Mahasiswa sebagai generasi muda memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam sektor tersebut karena umumnya memiliki semangat belajar, kemampuan beradaptasi, dan kedekatan dengan perkembangan teknologi.
Dengan memahami ekonomi kreatif, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk mencari pekerjaan setelah lulus, tetapi juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan melalui usaha yang dibangun berdasarkan minat dan kemampuan mereka.
Menurut saya, memahami ekonomi kreatif saja belum cukup apabila mahasiswa tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi.
Di sinilah AI memiliki peran penting. AI dapat membantu mahasiswa mencari ide, mengolah informasi, membuat desain, menyusun strategi pemasaran, dan menganalisis kebutuhan konsumen.
Sebagai contoh, mahasiswa yang ingin memulai bisnis makanan dapat memanfaatkan AI untuk mencari inspirasi produk, membuat konsep merek, menyusun materi promosi, serta menentukan strategi pemasaran melalui media sosial.
Dengan bantuan teknologi tersebut, proses pengembangan usaha dapat menjadi lebih efisien, terutama bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan modal dan pengalaman.
Namun, penguasaan AI tidak berarti mahasiswa harus menyerahkan seluruh proses berpikir kepada teknologi.
Menurut saya, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan pemecahan masalah tetap menjadi faktor utama dalam menghasilkan karya yang berkualitas.
AI hanyalah alat bantu, sedangkan manusia tetap bertanggung jawab menentukan tujuan, menilai hasil, dan mengambil keputusan. Mahasiswa yang hanya mengandalkan jawaban dari AI tanpa memahami informasi yang diperoleh justru berisiko kehilangan kemampuan berpikir mandiri.
Oleh karena itu, mahasiswa harus mampu menggunakan AI secara cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Selain memberikan peluang, perkembangan AI juga menghadirkan tantangan bagi mahasiswa. Persaingan di dunia kerja semakin dinamis karena sejumlah pekerjaan dapat dilakukan dengan bantuan otomatisasi.
Hal ini menuntut mahasiswa untuk memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Penguasaan ekonomi kreatif dan AI dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan daya saing.
Mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan ijazah, tetapi juga perlu memiliki kemampuan praktis, portofolio karya, pengalaman berwirausaha, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi.
Di samping itu, mahasiswa perlu memahami aspek etika dalam penggunaan AI. Teknologi ini dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat dan karya yang berpotensi menimbulkan persoalan hak cipta.
Oleh karena itu, mahasiswa harus membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi, menghargai karya orang lain, menjaga privasi, dan tidak menggunakan AI untuk melakukan kecurangan akademik. Penggunaan teknologi harus disertai tanggung jawab agar kemajuan yang dihasilkan tidak merugikan orang lain.
Mahasiswa yang benar-benar menguasai AI bukan hanya mereka yang mampu mengoperasikan berbagai aplikasi, tetapi juga mereka yang memahami batasan dan dampak penggunaannya.
Lebih jauh lagi, perpaduan ekonomi kreatif dan AI dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi lokal Indonesia. Mahasiswa dapat membantu mempromosikan kuliner tradisional, kerajinan daerah, produk fesyen lokal, dan berbagai bentuk kebudayaan melalui platform digital.
AI dapat digunakan untuk mendukung pembuatan konten promosi, penerjemahan informasi, dan pengembangan strategi pemasaran. Dengan demikian, mahasiswa dapat berperan dalam memperluas pasar produk lokal sekaligus menjaga kelestarian budaya Indonesia.
Hal ini membuktikan bahwa penguasaan teknologi dan kreativitas tidak hanya bermanfaat bagi kepentingan pribadi, tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Berdasarkan berbagai alasan tersebut, saya berpendapat bahwa penguasaan ekonomi kreatif dan AI bagi mahasiswa bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang semakin penting. Meskipun tidak semua mahasiswa harus menjadi ahli AI atau pengusaha kreatif, setiap mahasiswa perlu memahami dasar-dasar ekonomi kreatif dan mampu memanfaatkan AI sesuai dengan bidang studinya.
Perguruan tinggi juga perlu mendukung hal ini melalui pembelajaran berbasis proyek, pelatihan teknologi, kegiatan kewirausahaan, dan kolaborasi lintas disiplin ilmu.
Kesimpulannya, penguasaan ekonomi kreatif dan AI bagi mahasiswa dapat dikatakan perlu sekaligus harus, dalam arti mahasiswa perlu mempelajarinya dan harus berusaha mengembangkan kompetensi yang relevan sesuai kebutuhan bidangnya.
Keduanya dapat menjadi bekal untuk menghadapi persaingan, menciptakan peluang, dan menghasilkan inovasi. Tantangan terbesar di era modern bukanlah sekadar keberadaan AI, melainkan kemampuan manusia untuk beradaptasi dan memanfaatkannya secara bijaksana.
Oleh karena itu, mahasiswa harus menjadi generasi yang tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mampu mengarahkannya untuk menciptakan masa depan yang lebih kreatif, produktif, dan bermanfaat bagi bangsa.**

