25 Oktober 2026

Kita Kekurangan Orang Pintar atau Kekurangan Orang yang Mau Bertanggungjawab

Oleh : Sudarta Salman

 Akademisi dan Pengamat sosial

KoranRakyat.co.id —Saya melihat satu masalah yang sama di rumah, di se­kolah, di kantor, di jalan raya. Masalahnya bukan orang kita bodoh. Orang kita pintar-pintar. Masalahnya adalah banyak dari kita yang kehilangan satu hal kecil tapi dampaknya besar: responsibility mindset. Apa itu responsibility mindset?

Gampangnya begini.

Ada gelas kotor di wastafel.

Orang dengan pikiran pertama akan mikir: “Siapa yang habis pakai? Kok nggak dicuci? Nanti juga ada yang cuci.”

Orang dengan responsibility mindset akan mikir: “Oh, kotor. Ya sudah saya cuci.”

Sesederhana itu. Satu menunggu, satu bertindak. Satu merasa korban, satu merasa pemilik.

Kita sering menyebutnya work ethic, etos kerja, mental tanggung jawab. Istilahnya bebas. Intinya sama: kemampuan untuk mengatakan “ini urusan saya” bahkan ketika tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang melihat, dan tidak ada yang membayar.

Dan ini bukan bakat lahir. Ini dilatih. Dan tempat latihan pertamanya bukan di kantor, bukan di kampus, tapi di rumah. Tepatnya di sapu, di tempat tidur yang berantakan, di piring kotor.

Kenapa Kita Jadi Manja?

Mari jujur.

Kita semua sebagai orang tua ingin anaknya bahagia. Kita tidak mau anak capek. Kita berpikir: “Biarlah mama saja yang bereskan rumah, kamu fokus belajar saja. Yang penting nilai bagus, masuk sekolah favorit, nanti hidupmu enak.”

Niatnya baik. Tapi dampaknya fatal.

Kita sedang menciptakan generasi yang jago matematika tapi tidak tahan frustrasi. Jago bahasa Inggris tapi tidak bisa bekerjasama. IPK 4.0 tapi begitu dimarahi atasan sedikit langsung resign dan bilang “lingkungan kerjanya toxic”.

Kenapa? Karena di rumah dia tidak pernah dilatih menahan rasa tidak nyaman.

Mencuci piring itu tidak nyaman. Menyapu itu membosankan. Membereskan tempat tidur itu tidak menghasilkan pujian. Tapi dari situlah otot mental dibentuk.

Video yang kemarin ramai di Facebook itu benar. Harvard Study of Adult Development itu riset asli. Mereka mengikuti 724 orang laki-laki sejak tahun 1938. Dari zaman mereka remaja, sampai jadi kakek-kakek umur 90 tahun. Setiap dua tahun ditanya, diperiksa kesehatannya, diwawancara kehidupannya.

Awalnya mereka kira yang bikin orang sukses itu IQ tinggi, keluarga kaya, nilai bagus. Ternyata salah.

Faktor nomor satu yang membuat seseorang bahagia, sehat, dan sukses di usia tua adalah dua hal: kualitas hubungan, dan work ethic. Kemampuan untuk mencintai, dan kemampuan untuk bekerja keras pada hal yang tidak menyenangkan.

Dan work ethic itu mereka lihat polanya sejak kecil: apakah anak itu diberi tanggung jawab mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau tidak.

Anak yang dari kecil terbiasa membantu di rumah, otaknya terprogram: “Saya adalah orang yang berkontribusi, bukan orang yang dilayani.”

Anak yang dari kecil semua dilayani, otaknya terprogram: “Tugas saya adalah menikmati, tugas orang lain adalah melayani saya.”

Begitu masuk dunia nyata, program itu terbawa.

Tiga Otot Yang Hilang

Saya menyebut responsibility mindset itu seperti otot. Ada tiga otot.

Otot Pertama: Tahan Banting.

Hidup itu isinya 80% hal membosankan dan tidak enak. Antri, macet, laporan yang salah terus, pelanggan yang komplain.

Orang yang tidak pernah dilatih mengerjakan pekerjaan rumah akan kaget. Dia pikir hidup seharusnya menyenangkan terus seperti belajar yang kalau dapat 100 dapat hadiah.

Begitu ketemu hal membosankan, dia langsung bilang “Saya tidak passion di sini.” Padahal bukan soal passion, soal daya tahan.

Anak yang terbiasa cuci piring, dia tahu: ya memang tidak enak, tapi harus selesai. Selesai dulu, baru main. Itu pelajaran hidup yang sangat mahal.

Otot Kedua: Rasa Memiliki.

Ini beda paling jelas antara karyawan biasa dan pemimpin.

Karyawan biasa lihat kantor berantakan, dia bilang “OB-nya kemana sih?”

Pemimpin lihat kantor berantakan, dia bereskan, walaupun itu bukan job-desc dia.

Kenapa? Karena dia merasa memiliki. Dia tidak berpikir “ini tugas siapa”, dia berpikir “ini tanggung jawab saya”.

Rasa memiliki ini lahir dari rumah. Kalau di rumah dia diajari “kamar ini tanggung jawab kamu, bukan tanggung jawab mama”, dia belajar memiliki wilayah. Kalau di rumah semua dibereskan mama, dia belajar jadi tamu di rumahnya sendiri.

Dan orang yang merasa jadi tamu di rumahnya sendiri, akan merasa jadi tamu juga di kantornya, di lingkungannya, di negaranya. Dia tidak akan pernah merasa ikut memiliki.

Otot Ketiga: Kepekaan Sosial.

Ini yang paling sering dilupakan.

Waktu seorang anak menyapu lantai, dia belajar bahwa lantai yang kotor itu mengganggu orang lain. Waktu dia mencuci piringnya sendiri, dia belajar bahwa kalau dia tidak cuci, orang lain yang harus cuci piring bekas dia.

Itu namanya empati dalam bentuk paling praktis.

Banyak anak pintar tapi tidak peka. Kenapa? Karena tidak pernah dipaksa melihat dampak perbuatannya pada orang lain. Dia buang baju kotor, hilang, besok sudah bersih dan wangi di lemari. Dia tidak pernah melihat prosesnya. Dia tidak tahu ada orang yang capek mencucinya.

Anak yang ikut mencuci, dia tahu capeknya. Maka dia jadi lebih hati-hati mengotori. Dia jadi lebih menghargai.

Inilah yang nanti di dunia kerja disebut teamwork. Bukan teori-teori di buku, tapi kepekaan sederhana: pekerjaan saya selesai, apakah menyusahkan orang lain atau memudahkan orang lain?

Dampaknya Di Mana-Mana

Kalau otot ini lemah, kelihatan di mana-mana.

Di keluarga: Kita lihat suami atau istri yang pulang kerja, lihat rumah berantakan, langsung main HP. Nunggu pasangan yang bereskan. Karena di kepalanya, urusan rumah bukan urusan dia. Dia merasa sudah selesai tugasnya mencari uang. Padahal rumah itu milik bersama.

Di sekolah: Guru ngeluh murid sekarang susah disuruh, sedikit-sedikit lapor orang tua. Orang tua datang marah-marah ke sekolah karena anaknya disuruh piket. Kita lupa, piket itu bukan hukuman, itu pendidikan. Sekolah yang menghapus piket demi kenyamanan murid, sedang menghapus pelajaran tanggung jawab.

Di kantor: Ini paling jelas. Saya sering dengar manajer curhat: “Anak baru sekarang pintar, tapi begitu dikasih revisi dua kali, langsung bilang mental health-nya terganggu dan mau resign.” Bukan karena mereka lemah, tapi karena mereka belum pernah dilatih menghadapi rasa tidak nyaman yang berkepanjangan. Di rumah, kalau PR susah, mama bantu. Kalau ada masalah, papa yang maju. Begitu di kantor tidak ada yang bantu, dia bingung.

Bos tidak butuh orang yang paling pintar. Bos butuh orang yang bisa diandalkan. Orang yang kalau bilang “beres Bos”, ya memang beres, tidak perlu dicek sepuluh kali. Itu work ethic. Dan itu langka, makanya mahal harganya.

Di masyarakat: Lihat jalan raya. Buang sampah dari jendela mobil. Parkir sembarangan. Karena dia berpikir “jalan ini bukan punya saya, ada petugas kebersihan yang akan bereskan.” Tidak ada rasa memiliki. Tidak ada responsibility mindset. Negara jadi kotor bukan karena kurang petugas, tapi karena terlalu banyak orang yang merasa bukan urusannya.

Mitos-Mitos Yang Harus Diluruskan

Ada beberapa mitos yang membuat kita takut melatih tanggung jawab pada anak.

Mitos 1: Kasihan, nanti masa kecilnya hilang.

Masa kecil tidak hilang karena menyapu 10 menit. Masa kecil hilang karena seharian di depan gadget, karena disuruh les dari pagi sampai malam, karena tidak pernah diajak ngobrol. Justru anak yang ikut membantu di rumah merasa lebih berharga, merasa dianggap mampu. Itu meningkatkan percaya dirinya, bukan menghilangkannya.

Mitos 2: Nanti kalau disuruh kerja rumah, nilainya turun.

Riset justru menunjukkan kebalikannya. Anak yang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga 20 menit sehari, nilai akademiknya lebih baik dalam jangka panjang. Kenapa? Karena dia belajar manajemen waktu, belajar disiplin, belajar fokus. Kemampuan yang sama dipakai untuk belajar.

Mitos 3: Lebih cepat kalau saya yang kerjakan.

Ini jebakan orang tua. Ya memang lebih cepat kalau kita yang kerjakan. Menyuruh anak umur 4 tahun melipat baju butuh 30 menit, kalau kita yang kerjakan 5 menit. Tapi kalau kita selalu ambil jalan cepat, anak tidak pernah belajar. Kita sedang menukar 25 menit waktu kita hari ini dengan kemandirian anak seumur hidupnya. Itu rugi besar.

Lalu Bagaimana Melatihnya? Praktik, Bukan Teori

Saya tidak suka teori panjang. Ini praktik yang bisa langsung dicoba, baik untuk anak maupun untuk diri sendiri.

Untuk anak, sesuai umur:

Jangan langsung suruh semua. Bertahap.

Umur 2-3 tahun: Masukkan baju kotor ke keranjang. Bereskan mainan ke kotak. Lap tumpahan air dengan kain lap. Tujuannya bukan hasil bersih, tapi kebiasaan “habis pakai, bereskan”.

Umur 4-5 tahun: Bereskan tempat tidur sendiri (walaupun masih berantakan), siram tanaman, bantu tata meja makan, bawa piring kotor sendiri ke wastafel. Di umur ini ajari dengan kalimat “ini kontribusi kamu untuk keluarga”, bukan “bantu mama”. Beda. Kalau bantu mama, berarti itu tugas mama. Kalau kontribusi, berarti itu tugas bersama.

Umur 6-8 tahun: Menyapu, mengepel area kecil, mencuci piring plastiknya sendiri, melipat baju sendiri, menyiapkan bekal sekolah sendiri. Beri dia satu area yang jadi “wilayah kekuasaannya”, misalnya kamar atau meja belajar. Dia yang punya kuasa penuh dan tanggung jawab penuh.

Umur 9-12 tahun: Sudah bisa masak nasi, masak telur sederhana, mencuci baju dengan mesin, membersihkan kamar mandi, menjaga adik 30 menit. Di umur ini, libatkan dalam keputusan keluarga: “Minggu ini kita mau makan apa? Coba kamu yang buat daftar belanja.”

Umur 13 tahun ke atas: Harus sudah mandiri penuh untuk urusan pribadinya. Cuci baju sendiri, kelola uang jajan sendiri, dan punya satu tanggung jawab untuk orang lain, bukan untuk dirinya, misalnya: setiap sore beri makan kucing, atau setiap Sabtu bersihkan halaman depan untuk tetangga juga.

Kuncinya ada tiga:

Jangan perbaiki hasilnya di depan dia. Kalau dia sudah menyapu tapi masih ada kotoran, jangan sapu ulang di depan mukanya. Itu menghancurkan motivasinya. Tunggu dia pergi, baru rapikan diam-diam. Atau ajari lagi besok dengan cara menyenangkan.

Jangan bayar dengan uang. Pekerjaan rumah tangga adalah kewajiban sebagai anggota keluarga, bukan pekerjaan sampingan. Kalau dibayar, dia akan berpikir “kalau tidak dibayar, saya tidak perlu kerja”. Pujian tulus jauh lebih berharga: “Terima kasih ya, karena kamu sudah cuci piring, mama jadi bisa istirahat 10 menit.”

Konsisten, bukan keras. Lebih baik 10 menit setiap hari daripada 2 jam di hari Sabtu dengan bentakan. Responsibility mindset tumbuh dari rutinitas, bukan dari ancaman.

Untuk kita yang sudah dewasa, yang merasa work ethic-nya lemah:

Jangan salahkan orang tua. Mulai dari sekarang.

Latihan paling sederhana yang saya lakukan sendiri: Aturan 2 Menit.

Setiap lihat sesuatu yang butuh waktu kurang dari 2 menit untuk dibereskan, langsung bereskan saat itu juga. Gelas kotor? Cuci. Email yang cuma butuh jawab “oke”? Jawab. Sampah di lantai? Pungut. Sepatu berantakan? Susun.

Awalnya berat. Otak akan protes: “Nanti saja.” Lawan.

Dalam 14 hari, otak akan bergeser. Dari yang tadinya mencari siapa yang salah, menjadi mencari apa yang bisa saya lakukan.

Latihan kedua: Setiap selesai pakai sesuatu, tinggalkan dalam kondisi lebih baik dari sebelumnya. Habis pakai toilet umum, siram dan lap cipratan air. Habis rapat di kantor, kembalikan kursi ke posisi semula dan buang sampah botolmu. Habis pinjam motor teman, isikan bensin sedikit.

Kelihatan kecil, tapi ini melatih kepemilikan.

Penutup: Kita Butuh Lebih Banyak Tukang Sapu

Negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Kita kekurangan orang yang mau menyapu.

Kita kekurangan mahasiswa yang mau bereskan bekas makanannya di kantin tanpa disuruh. Kita kekurangan pejabat yang mau mengakui salah tanpa menyalahkan bawahan. Kita kekurangan tetangga yang mau matikan keran air yang bocor di masjid walaupun bukan rumahnya.

Semua masalah besar di negeri ini, dari korupsi sampai banjir, akarnya sama: terlalu banyak orang yang berpikir “bukan urusan saya”.

Koruptor berpikir “uang negara bukan uang saya, tidak apa-apa diambil sedikit”. Orang buang sampah ke sungai berpikir “sungai bukan milik saya, ada petugas yang bersihkan”. Orang telat rapat berpikir “waktu orang lain tidak sepenting waktu saya”.

Padahal solusinya tidak butuh seminar mahal. Solusinya ada di sapu yang ada di rumah kita.

Mulai hari ini, jangan tanya “siapa yang seharusnya mengerjakan ini?” Tanya “apa yang bisa saya kerjakan sekarang?”

Jangan didik anak untuk jadi juara kelas saja. Didik anak untuk jadi manusia yang bisa diandalkan. Yang kalau diberi janji, dia tepati. Yang kalau lihat masalah, dia maju, bukan mundur.

Karena pada akhirnya, dunia tidak akan mengingat siapa yang ranking 1 di SD. Dunia akan mengingat siapa yang bisa dipercaya ketika keadaan sulit.

Dan kepercayaan itu tidak dibangun di ruang kelas. Kepercayaan itu dibangun di dapur, di ruang tamu, di halaman rumah, dengan sapu dan piring kotor.

Mari kita kembalikan sapu itu ke tangan anak-anak kita. Bukan karena kita malas, tapi karena kita sayang pada masa depan mereka. *SS251026*