28 September 2026

Desa Wisata Slukatan Wonosobo Kenalkan Potensi Kopi, Pertanian dan Budaya Lewat Fun Walk

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Desa Wisata Slukatan, Kecamatan Mojotengah, Wonosobo, menggelar Fun Walk dalam rangka memperingati Hari Pariwisata Sedunia, Minggu (27/9/2026). Kegiatan tersebut mengajak peserta mengenal potensi desa melalui aktivitas berjalan kaki, edukasi pertanian dan kopi, hingga pengenalan budaya lokal.

Mengusung tema “Jelajah Potensi Desa, Kopi, Pertanian, dan Budaya”, kegiatan dipusatkan di Sekretariat Desa Wisata Slukatan yang berada di ketinggian sekitar 1.232 meter di atas permukaan laut (MDPL).

Peserta menyusuri sejumlah kawasan di lereng Gunung Bismo sambil mengenal tiga potensi utama Desa Slukatan, yakni UMKM olahan kopi, pertanian labu siam atau waluh, serta kearifan lokal Golek Tholo.

Penggagas Desa Wisata Slukatan, Ahmad Hafid, mengatakan kegiatan tersebut dirancang dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, pengelola terlebih dahulu berkoordinasi dan melakukan assessment dengan petani serta pelaku UMKM sebelum menjalankan program.

“Desa Wisata Slukatan berbasis pemberdayaan masyarakat. Kami melibatkan UMKM kopi, sektor pertanian, dan pelaku budaya. Narasumber sarasehan di lapangan pun kami hadirkan langsung dari para pelakunya, seperti pemilik kedai kopi dan petani setempat,” ujar Hafid saat ditemui usai kegiatan.

Kegiatan diawali dengan briefing dan permainan keakraban di area sekretariat. Peserta kemudian berjalan sekitar 700 meter menuju lokasi pengolahan Kopi Silandak Gunung Bismo. Sepanjang perjalanan, pemandu mengenalkan sejarah berdirinya Desa Slukatan.

Setibanya di UMKM Kopi Silandak Gunung Bismo, peserta diperkenalkan dengan proses pascapanen kopi Java Arabica khas Slukatan. Mereka mempelajari sejumlah metode pengolahan, termasuk Natural dan Wine, mengenal proses pemilihan biji kopi atau green bean, hingga mempraktikkan langsung proses peracikan dan penyeduhan kopi.

Selain kopi, peserta juga diperkenalkan dengan produk olahan Coklat Ndeso yang diproduksi masyarakat setempat.

Dari Rumah Kopi, perjalanan berlanjut sekitar 1,5 kilometer melewati perkebunan warga menuju kawasan Alas Sampo dengan ketinggian sekitar 1.343 MDPL.

Di lokasi tersebut, peserta mengikuti lomba memanen labu siam seberat 10 kilogram dalam waktu lima menit menggunakan tumbu, wadah tradisional berbahan anyaman bambu untuk membawa hasil pertanian.

Setelah perlombaan, peserta mengikuti sarasehan bersama petani lokal. Mereka mendapat penjelasan mengenai teknik pembukaan lahan, sistem perambatan menggunakan tiang bambu, serta pemangkasan daun atau mritili untuk membantu memaksimalkan hasil panen labu siam.

Labu siam menjadi salah satu komoditas utama Desa Slukatan yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami kenaikan harga hingga Rp7.000 per kilogram. Peserta juga diajak memanen sejumlah sayuran seperti terong dan cabai jawa sebelum melanjutkan perjalanan.

Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut di kawasan Alas Menyere dengan workshop pembuatan Golek Tholo. Boneka abstrak tersebut merupakan salah satu karya budaya khas Desa Slukatan yang dibuat menggunakan kain gendong atau jarik milik ibu.

Dalam sesi tersebut, peserta diperkenalkan pada makna filosofis Golek Tholo sebagai simbol kedekatan emosional dan aroma ibu yang memberikan rasa tenang bagi bayi.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan merchandise berupa kuliner khas Grubi serta aktivitas di Sumber Mata Air Mudal.

Pada pelaksanaan perdana ini, jumlah peserta dibatasi sebanyak 17 orang. Pembatasan tersebut dilakukan agar peserta dapat mengikuti rangkaian kegiatan secara lebih dekat dan interaktif.

Peserta berasal dari sejumlah wilayah di Wonosobo, di antaranya Selomerto, Kertek, Sukoharjo, Mojotengah dan Bumen, serta dari Kabupaten Purbalingga dan Purworejo.

Salah satu peserta asal Purbalingga, Ayu Setia Rahma, mengaku terkesan dengan konsep edukasi yang ditawarkan dalam kegiatan tersebut.

“Acaranya seru banget! Dari perjalanan ini kita jadi kenal tentang perkopian, cara menanam labu, sampai petik waluh langsung di kebunnya. Sangat berkesan,” ungkap Ayu.

Peserta lainnya, Zaidatun Ni’mah Julifiyana asal Purworejo, mengapresiasi pengenalan budaya lokal melalui kegiatan tersebut.

“Seru sekali, kita belajar membedakan varian kopi Arabica Natural sampai Wine, lalu belajar membuat boneka Golek Tholo. Senang rasanya melihat Desa Slukatan masih terus melestarikan kearifan lokal ini. Keren banget dan kami tunggu acara di tahun berikutnya!” tutur Julifiyana.

Pengelola Desa Wisata Slukatan berencana menjadikan Fun Walk sebagai agenda tahunan. Kegiatan tersebut nantinya melengkapi tiga agenda utama desa, yakni Festival Petik Kopi Merah pada April, Ruwat Sumber Mata Air Mudal pada Juni, serta Sarasehan Pascapanen Kopi pada Agustus. (Aris)