28 September 2026

Markandeya Project Bawa Filosofi Asketisme Lewat Film Musikal “Berhenti Meminta”

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Filosofi asketisme dan ajakan untuk lebih menerima diri menjadi gagasan yang dibawa Markandeya Project melalui film drama musikal Berhenti Meminta. Karya tersebut didiseminasikan melalui acara Diseminasi Karya Internal di Ndalem Kenyo, Gg. Sukoyoso, Kramatan, Wonosobo, Sabtu (26/9/2026) malam.

Markandeya Project merupakan wadah kreatif independen berbasis di Wonosobo yang bergerak dalam riset budaya dan manuskrip, produksi karya audio-visual dan musik, serta pengelolaan media digital. Selain menghasilkan karya seni, ruang kreatif tersebut juga menjadi tempat anggota menuangkan gagasan melalui tulisan dan esai yang dipublikasikan melalui situs www.markandeya.space.

Melalui situs tersebut, pembaca dapat mengenal lebih jauh aktivitas dan gagasan yang dikembangkan Markandeya Project, termasuk karya-karya tulisan yang menjadi bagian dari ruang kreatif komunitas tersebut.

Markandeya Project juga menjadi ruang kolaborasi bagi seniman dan berbagai elemen masyarakat dari lintas disiplin. Dalam proyek Berhenti Meminta, misalnya, Markandeya Project mempertemukan sineas, seniman tari, pemusik tradisi, pelukis, hingga siswa-siswi SLB C Budi Asih Wonosobo.

Dalam kegiatan tersebut, Berhenti Meminta diputar sekaligus dibahas melalui sesi kurasi bersama Doni Singadikrama, seorang ilustrator, dan Moch Alvi, pendiri Sekitar Kita Kreativa (SKK), ruang usaha kreatif yang bergerak di bidang audio visual dan event organizer.

Film tersebut mendapat dukungan program Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan LPDP Kementerian Keuangan.

Penulis naskah, penulis lagu sekaligus editor film, Ahmad Ervan Muzaki, mengatakan Berhenti Meminta dirancang sebagai karya yang multitafsir. Pesan yang diterima penonton dapat berbeda sesuai kondisi psikologis maupun fase kehidupan masing-masing.

“Poin pentingnya adalah mengajak kita untuk tidak terlalu sibuk dengan diri sendiri dan tidak terus-menerus memburu validasi eksternal. Kita diajak berintrospeksi, mengontrol ego, dan menjalani hidup dengan lebih lepas (legowo),” ujar Ervan saat ditemui di sela-sela acara.

Menurut Ervan, gagasan film tersebut berangkat dari pembacaan tim terhadap manuskrip kuno mengenai figur Markandeya. Nama Markandeya Project sendiri juga terinspirasi dari sosok tersebut.

Namun, Markandeya Project tidak mengadopsi figur Markandeya secara langsung. Pertimbangan tersebut dilakukan untuk tetap menjaga kesakralan sosok Markandeya dalam ajaran Hindu.

Sebagai gantinya, komunitas tersebut menyerap nilai filosofis asketisme untuk diterjemahkan ke dalam karya, terutama mengenai kepasrahan, pelepasan dari keterikatan duniawi, pengendalian ego, penerimaan diri, serta keberanian menjalani hidup tanpa terus bergantung pada validasi eksternal.

Proses produksi Berhenti Meminta berlangsung sekitar enam bulan dengan melibatkan kolaborator dari berbagai latar belakang. Para siswa SLB C Budi Asih turut terlibat dalam bagian musik gamelan sekaligus karya Batik Grahita yang dipamerkan dalam kegiatan tersebut.

Sementara itu, unsur musik tradisional dalam film melibatkan Hengki melalui instrumen Bundengan dan Mak Wiwin sebagai pesinden. Pameran dalam kegiatan tersebut juga menampilkan seni lukis abstrak karya Abian Dafa.

“Kami juga melibatkan Pak Hengki untuk instrumen tradisi Bundengan, Mak Wiwin sebagai pesinden, serta Abian Dafa untuk karya lukis abstraknya,” tambah Ervan.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, Markandeya Project berupaya membangun ruang kreatif yang inklusif bagi generasi muda, khususnya Milenial dan Gen Z. Gagasan, keresahan, maupun pengalaman personal tidak hanya dituangkan melalui karya audio-visual, tetapi juga tulisan, musik, seni rupa, dan bentuk ekspresi lainnya.

Ervan berharap ruang-ruang komunitas kreatif di Wonosobo dapat terus tumbuh dan menjadi tempat bagi anak muda untuk berekspresi tanpa takut dinilai berbeda oleh lingkungan sekitarnya.

“Ruang komunitas itu penting agar emosi, unek-unek, dan gagasan anak muda bisa disalurkan ke dalam karya. Tidak perlu takut dianggap ‘aneh’ atau insecure, karena setiap manusia punya keunikan dan kecerdasannya masing-masing. Yang terpenting adalah terus berkarya,” pungkas lulusan STMM MMTC Yogyakarta yang kini juga berprofesi sebagai programmer tersebut. (Aris)