25 Oktober 2026

Wasiat Nabi kepada Mu’adz Bin Jabal

Oleh: KH. Wahyudi Sarju Abdirrahim, Lc. M.M,

Anggota Majelis Tabligh PWM Jateng dan Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Muflihun Temanggung

KoranRakyat.co.id —-Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu ia berkata, “Wahai Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam berianlah wasiat kepadaku !” Nabi Shalallahu alaihi wa sallam menjawab, “Beribadahlah kepada Allah Shalallahu alaihi wa sallam seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan persiapkanlah dirimu menghadapi kematian. Dan jika engkau mau, aku akan memberitahukan kepadamu suatu perkara yang mengendalikan semua itu.” Beliau bersabda, “Ini.” Beliau berisyarat dengan tangannya menunjuk kepada lidah beliau.”

Takhrij Hadits

Hadits ini adalah hadits yang hasan, diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan Imam Thabrani dalam Mu’jamul Kabie.

Lihat Silsilah al-Ahadits as-Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Tahun 1415 H/1995 M, Maktabah al-Ma’arif li an-Nasyr wa at-Tauzi’, Riyadh, III/462.

Syarah Hadits

Nabi Shalallahu alaihi wa sallam memberikan wasiat kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu dengan tiga perkara. Berikut ini penjelasan singkat dari tiga wasiat Nabi radhiyallahu anhu tersebut.

Pertama, Ihsan dalam Beribadah Kepada Allah Ta’ala.

Ini adalah wasiat pertaama yang disampaikan Nabi kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu. Yaitu wasiat untuk beribadah kepada Allah Ta’ala seolah-olah melihat kepada-Nya. Inilah yang disebut dengan ihsan dalam beribadah..Sebagimana disebutkan dalam hadits Jibril, dimana Nabi Shalallahu alaihi wa sallam ditanya tentang ihsan maka beliau menjawab :“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah Ta’ala seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.HR. Muslim no. 1, 8 dari ‘Umar bin Khathab.

Makna Ihsan

Berkaitan dengan makna ihsan, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Ihsan  adalah masdar dari fi’il (kata kerja) yang bermakna memberikan kebaikan. Dan makna ihsan jika berkaitan dengan hak Allah Ta’ala adalah engkau membangun ibadahmu kepada Allah Ta’ala dengan keikhlasan dan mengikuti contoh Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam. Semakin engkau ikhlas dalam beribadah dan semakin meneladani Nabi-Nya maka engkau semakin berbuat ihsan. Adapun makna ihsan jika berkaitan dengan hak sesama hamba adalah engkau memberikan kebaikan untuk mereka, baik berupa harta, kedudukan, atau selainnya.

Kedua, Mempersiapkan diri untuk Menghadapi Kematian

Ini adalah wasiat Nabi Shalallahu alaihi wa sallam yang kedua kepada shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu dalam hadits di atas. Yaitu wasiat untuk mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Kematian adalah termasuk ketentuan dan taqdir Allah Ta’ala yang pasti akan menghampiri setiap jiwa. Bagaimanapun seseorang menghindar darinya, kematian tetap akan mendatanginya.

Allah Ta’ala berfirman :  “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (QS. Al baqarah : 185).

Dan Allah Ta’ala berfirman : Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. (QS. Az Zumar : 30).

Dan Allah Ta’ala berfirman : “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu dia dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisaa’ : 78).

Imam Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat ini mengatakan, “Maksudnya adalah bahwa setiap orang akan menemui kematian. Itu adalah suatu hal yang pasti. Dan tidak ada seorang pun yang akan selamat darinya. Sama saja apakah ia ikut serta dalam jihad ataukah tidak. Sesungguhnya setiap orang memiliki ajal yang telah ditetapkan dan kedudukan yang telah ditentukan.

Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Imam ‘Imaduddin Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Qurasyi ad-Dimasyqi, Cet. Ke-5, Tahun 1421 H/2001 M, Jum’iyyah Ihya’ at-Turats al-Islamiy, Kuwait, I/722.

Sebagai seorang yang beriman sudah selayaknya kita memperbanyak mengingat kematian dan menyiapkan bekal untuk menghadapinya. Karena dengan mengingat kematian, seseorang akan terdorong untuk bersemangat melaksanakan amal ketaatan sebagai bekal di kehidupan yang abadi di akhirat nanti. Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah :

 “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan (yaitu kematian).”  HR. at-Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Hibban no. 2992

Manfaat Mengingat Kematian

Banyak manfaat yang akan didapatkan seseorang jika ia memperbanyak mengingat kematian, diantaranya adalah :

Mendorong untuk lebih mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.

Demikian pula hal itu akan mengantarkannya untuk bersikap qana’ah (merasa cukup) terhadap perbendaharaan dunia. Karena ia memahami bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi, sedangkan kehidupan dunia adlaha kehidupan yang fana. Allah Shalallahu alaihi wa sallam berfirman : Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al A’laa : 17).

Menjadikan seseorang merasa ringan dalam menghadapi musibah yang menimpanya.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah :

“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atasnya. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu lapang (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atasnya. HR. ath-Thabarani dan al-Hakim. Lihat Shahih al-Jami’ as-Shaghir no. 1222, dan  Shohih at-Targhib, no. 3333.

Ketiga, Menjaga Lisan

Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam Al Qur’an bahwa ucapan manusia, yang baik maupun yang buruk semuanya dicatat. Dan manusia akan mempertanggngjawabkan apa yang ia ucapkan tersebut. Allah Ta’ala berfirman : “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf : 18).

Adakalanya seseorang mengucapkan suatu perkataan yang dianggapnya seseutu yang remeh tapi ternyata itu adalah suatu hal yang besar di sisi Allah Ta’ala. Dan adakalanya ia mengucapakan suatu perkatan yang dianggap tidak berbahaya tapi ternyata menyebabkanya terjerumus ke dalam api neraka.

Allah Ta’ala berfirman : “Dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga., dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar”. (QS. An Nuur : 15).

Demikian pula Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah :

 “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya masuk ke dalam  neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” HR. Muslim no. 2988 dari Abu Hurairah.

Maka wajib bagi setiap muslim untuk menjaga lisannya supaya senantiasa berbicara dalam kebaikan, dan menjauhi perkataan-perkataaan keji, dusta, dan perkataan maksiat lainnya karena sadar atau tidak hal itu akan  mengantarkannya pada kecelakaan dan kebinasaannya. Demikian pula di antara konsekuensi keimanan seseorang adalah ia mengucapkan perkataan yang baik atau jika tidak maka diam. (*)