14 Oktober 2026

Kirab Budaya dan Birat Sengkala Warnai Puncak Merti Desa Larangankulon Wonosobo

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Ratusan warga dari empat dusun di Desa Larangankulon, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, mengikuti Kirab Budaya Merti Desa Larangankulon, Minggu (13/9/2026).

Kirab tersebut menjadi puncak rangkaian Merti Desa Larangankulon 2026 yang digelar selama beberapa hari. Empat dusun yang terlibat, yakni Krajan, Pekaringan, Pakuncen, dan Kumejing, menampilkan berbagai kreativitas sesuai konsep yang dikembangkan masing-masing dusun.

Sekretaris Desa Larangankulon, Sujarwanto yang akrab disapa Ardi, mengatakan Merti Desa merupakan agenda tiga tahunan yang melibatkan pemerintah desa, kelembagaan, tokoh masyarakat, dan warga.

“Ini event tiga tahunan di Desa Larangankulon. Jadi ini event yang kedua. Yang pertama tahun 2023,” kata Ardi saat ditemui dalam pelaksanaan Kirab Budaya, Minggu (13/9/2026).

Menurutnya, Merti Desa 2026 tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali berkumpul dan memperkuat kebersamaan.

“Intinya memang ini kolaborasi dari pemerintah desa, teman-teman kelembagaan, tokoh masyarakat, sama masyarakat Desa Larangankulon membuat acara tiga tahunan namanya Merti Desa,” ujarnya.

Rangkaian Merti Desa tahun ini diawali dengan kegiatan nyadran pada Minggu (6/9/2026). Dalam rangkaian tersebut, warga melakukan pengambilan air dari enam sumber mata air yang menjadi bagian dari tradisi Merti Desa.

Sementara itu, satu sumber mata air lainnya baru diambil pada Sabtu malam (12/9/2026). Pengambilan sumber air ketujuh tersebut dilakukan melalui seremonial atau ritual khusus sebagai bagian dari rangkaian tradisi menjelang pelaksanaan Kirab Budaya.

Rangkaian kemudian berlanjut pada Rabu malam atau malam Kamis (9/9/2026) melalui kegiatan Topo Bisu. Kegiatan tersebut berupa berjalan bersama secara khidmat dengan membawa obor tanpa berbicara maupun membuat keributan.

Topo Bisu diikuti unsur pemerintah desa, kelembagaan, RT dan RW, tokoh masyarakat, serta warga. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan Suluh Nyawiji di Dusun Kumejing.

Suluh Nyawiji menjadi salah satu atraksi budaya baru yang diperkenalkan dalam Merti Desa tahun ini. Dalam kegiatan tersebut, Kepala Desa Larangankulon Khamim bersama perwakilan dari masing-masing dusun membawa obor yang kemudian disatukan.

Tradisi tersebut menjadi simbol penyatuan masyarakat dari empat dusun dalam satu kebersamaan.

“Suluh Nyawiji, cahaya yang menyatukan masyarakat. Walaupun dari berbeda-beda dusun, tapi mereka tetap satunya,” jelas Ardi.

Selain itu, rangkaian Merti Desa juga diisi dengan Haul Massal yang dilanjutkan pengajian, tahlil, dan doa bersama. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya masyarakat untuk mengenang para leluhur sekaligus mempererat hubungan antarwarga.

Rangkaian berikutnya diisi dengan Khatmil Quran yang dilaksanakan setelah salat Jumat di masjid masing-masing dusun. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian keagamaan dalam pelaksanaan Merti Desa Larangankulon 2026.

Menjelang pelaksanaan Kirab Budaya, pengambilan air dari sumber mata air ketujuh juga dilakukan pada Sabtu malam (12/9/2026) melalui seremonial khusus. Dengan demikian, seluruh rangkaian pengambilan air dari tujuh sumber mata air telah lengkap sebelum pelaksanaan Kirab Budaya pada Minggu (13/9/2026).

Setelah Kirab Budaya, rangkaian Merti Desa dilanjutkan dengan prosesi ritual Birat Sengkala. Prosesi ritual tradisional tersebut menjadi bagian dari rangkaian adat yang dimaknai sebagai upaya menyingkirkan segala bentuk kesialan, bencana, maupun rintangan.

Dalam prosesi Birat Sengkala tersebut, air yang sebelumnya telah diambil dari tujuh sumber mata air kemudian dicampur menjadi satu. Pencampuran air dilakukan secara langsung bersamaan dengan prosesi ritual.

Setelah air dari tujuh sumber tersebut menyatu, Kepala Desa Larangankulon Khamim kemudian menyiramkannya ke empat penjuru mata angin. Penyiraman tersebut menjadi simbol tolak bala sekaligus doa agar masyarakat Desa Larangankulon senantiasa dijauhkan dari berbagai kesialan, bencana, dan rintangan.

Usai prosesi Birat Sengkala, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan prosesi warga berebut gunungan hasil bumi. Masing-masing dusun sebelumnya menyiapkan gunungan yang berisi hasil bumi sebagai bagian dari rangkaian Merti Desa.

Setelah prosesi Birat Sengkala selesai, gunungan tersebut kemudian dibagikan kembali kepada warga. Perebutan gunungan menjadi salah satu momen yang dinantikan masyarakat sekaligus menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi dan kebersamaan warga dalam pelaksanaan Merti Desa.

Ardi menjelaskan, Merti Desa Larangankulon tahun ini mengusung tema “Gumregah Nyawiji Guyup Rukun Amangun Desa”. Tema tersebut dimaknai sebagai semangat untuk bangkit bersama, bersatu dalam kerukunan, dan membangun desa.

“Pokoknya masyarakat itu harus guyup rukun, nyawiji. Jangan sampai terpecah-pecah, karena kita ingin membangun desa bersama-sama,” katanya.

Merti Desa Larangankulon pertama kali digelar pada 2023 dan kembali dilaksanakan pada 2026. Kegiatan tersebut diagendakan setiap tiga tahun sekali dan menjadi salah satu momentum bagi masyarakat untuk menjaga tradisi sekaligus memperkuat kebersamaan.

Ardi menyebut gagasan awal pelaksanaan Merti Desa berasal dari Kepala Desa Larangankulon, Khamim. Pemerintah desa kemudian menjadi bagian dari kolaborasi bersama masyarakat dan berbagai unsur kelembagaan dalam pelaksanaannya.

“Karena sebenarnya kita tinggal melaksanakan, Pak Kades yang memantik,” pungkasnya.

Kirab Budaya hingga prosesi Birat Sengkala dan pembagian gunungan hasil bumi menjadi rangkaian penutup Merti Desa Larangankulon 2026. Seluruh rangkaian tersebut tidak hanya menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga tradisi, tetapi juga mempertemukan warga dari empat dusun dalam semangat guyup rukun dan kebersamaan. (Aris)