Wonosobo Raih 25 Medali di POPDA Jateng 2026, Disdikpora Soroti Ketatnya Persaingan

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Kontingen Kabupaten Wonosobo membawa pulang 25 medali dari Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026 yang berlangsung di Kota Semarang pada 1–6 September 2026.
Berdasarkan data perolehan medali kontingen Wonosobo, capaian tersebut terdiri atas dua medali emas, tujuh perak, dan 16 perunggu.
Dua medali emas masing-masing dipersembahkan dari nomor lari 100 meter SMA putra cabang olahraga atletik dan nomor 53 kilogram gaya bebas SMA putri dari cabor gulat.
Sementara tujuh medali perak disumbangkan atlet dari atletik, gulat, tinju, dan taekwondo. Adapun 16 medali perunggu berasal dari atletik, bulu tangkis, pencak silat, gulat, tinju, taekwondo, dan wushu.

Kepala Seksi Pemuda dan Olahraga Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Wonosobo, Hafizh Fajri Al Mubarok, mengatakan capaian tersebut patut disyukuri. Namun, dari sisi hasil, pihaknya masih menilai ada sejumlah hal yang perlu dievaluasi.
“Secara hasil, sebenarnya ini kurang memuaskan. Tetapi kita harus bersyukur dan patut mengapresiasi karena memang persaingan di POPDA luar biasa,” kata Hafizh saat ditemui di Kantor Disdikpora Wonosobo, Selasa (8/9/2026).
Pada POPDA Jateng 2026, Wonosobo mengirimkan kontingen dari 18 cabang olahraga. Dari jumlah tersebut, tujuh cabor berhasil menyumbangkan medali, yakni atletik, gulat, tinju, taekwondo, bulu tangkis, pencak silat, dan wushu.
Menurut Hafizh, ketatnya persaingan tahun ini salah satunya dipengaruhi oleh keikutsertaan atlet Pembinaan dan Pelatihan Olahraga Pelajar (PPLOP) Jawa Tengah.
Atlet-atlet binaan tersebut telah menjalani pembinaan olahraga secara lebih terarah dan dipersiapkan untuk mengejar prestasi. Kondisi itu membuat persaingan perebutan medali di tingkat provinsi menjadi jauh lebih ketat dibandingkan kompetisi di tingkat kabupaten.
Meski demikian, Hafizh memberikan apresiasi kepada seluruh atlet dan ofisial Wonosobo yang telah berjuang maksimal selama pertandingan.
“Kita harus bersyukur dan memberikan apresiasi kepada anak-anak, ofisial, dan atlet karena mereka sudah berjuang semaksimal mungkin. Artinya, mereka sudah menampilkan yang terbaik,” ujarnya.
Hafizh menegaskan, cabor yang belum berhasil meraih medali bukan berarti tidak mampu bersaing. Sejumlah di antaranya bahkan mampu melaju hingga babak perempat final.
Salah satunya sepak bola yang berhasil menembus delapan besar. Tim bola basket juga dinilai mampu memberikan perlawanan dalam persaingan di tingkat provinsi.
Menurut Hafizh, capaian tersebut menjadi bagian dari evaluasi pembinaan olahraga pelajar di Wonosobo. Evaluasi tidak hanya menyangkut faktor eksternal berupa ketatnya persaingan, tetapi juga pembenahan internal masing-masing cabor.
“Persaingan di tingkat Jawa Tengah sudah berbeda dengan persaingan di tingkat kabupaten. Bagi kami, cabor yang belum mendapatkan medali harus diberikan dorongan dan semangat untuk memperbaiki serta mengevaluasi diri,” katanya.
Tantangan pembinaan olahraga pelajar di Wonosobo juga tidak terlepas dari keterbatasan anggaran serta sarana dan prasarana.
Hafizh menyebut jumlah atlet yang diberangkatkan pada POPDA Jateng 2026 hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, anggaran yang tersedia relatif sama dengan tahun sebelumnya.
“Kalau sebelumnya mungkin satu orang bisa kita fasilitasi dengan banyak hal, sekarang kita harus membagi dan melakukan efisiensi agar semuanya bisa terakomodasi,” jelasnya.
Disdikpora memberikan sejumlah dukungan bagi kontingen, di antaranya surat keputusan kontingen, jersey atau seragam kontingen, serta transportasi. Namun, belum seluruh kebutuhan dapat difasilitasi, terutama cabor yang tidak dipertandingkan dalam POPDA tingkat kabupaten tetapi harus mengikuti pertandingan di tingkat provinsi.
Karena itu, pembinaan atlet dinilai membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, KONI dan induk organisasi olahraga, sekolah, pelatih, hingga orang tua.
“Pembinaan itu tidak mudah dan tidak murah. Ini yang cukup menjadi pekerjaan rumah bagi kita,” ujarnya.
Setelah POPDA Jateng 2026 selesai, para atlet akan kembali ke klub, perguruan, tim, maupun organisasi olahraga masing-masing.
Disdikpora tetap akan melakukan koordinasi dan pemantauan terhadap perkembangan atlet yang memiliki potensi. Namun, Hafizh mengakui pihaknya belum memiliki kemampuan untuk menaungi seluruh atlet secara penuh dan berkelanjutan dalam satu wadah pembinaan.
“Secara spesifik, batasan kami memang baru bisa memantau. Belum bisa lebih jauh. Kalaupun nanti ada hal-hal yang lebih dari itu, jika memang diperlukan, kami juga berusaha untuk hadir,” katanya.
Menurutnya, keberlanjutan pembinaan sangat bergantung pada peran klub, perguruan, sekolah, serta organisasi olahraga masing-masing atlet.
Sementara bagi atlet yang belum berhasil meraih medali, Disdikpora mendorong mereka untuk tetap berlatih dan tidak patah semangat. Pengalaman bertanding di tingkat provinsi dinilai menjadi bagian penting dalam proses pembentukan atlet.
“Berlatih itu menjadi kunci. Jangan menyerah, jangan sampai patah semangat,” tuturnya.
Selain pembinaan, Disdikpora juga mulai menyiapkan skema penghargaan bagi pelajar yang menorehkan prestasi olahraga di tingkat provinsi, nasional, hingga internasional.

Hafizh mengatakan, prestasi yang diraih mulai Agustus 2026 telah dimasukkan dalam perencanaan untuk pemberian penghargaan pada 2027.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi atlet pelajar untuk terus meningkatkan prestasi.
Sejumlah atlet yang tampil pada POPDA 2026 juga masih berpeluang memperkuat Wonosobo pada ajang serupa tahun depan, sepanjang memenuhi ketentuan regulasi yang berlaku.
Hafizh menyebut atlet yang saat ini duduk di kelas 7 SMP maupun kelas 10 SMA berpeluang kembali tampil pada POPDA 2027 jika masih memenuhi persyaratan peserta.
Pengalaman bertanding di tingkat provinsi yang telah mereka dapatkan tahun ini diharapkan menjadi modal untuk menghadapi persaingan berikutnya.
“Mereka sudah memiliki pengalaman yang cukup untuk menghadapi persaingan di tahun depan. Harapannya, tentu tahun depan hasilnya bisa lebih baik dari tahun ini,” pungkasnya. (Aris)

