9 September 2026

KAPULAGA Diluncurkan di Wonosobo, Warga Butuh Kidul Disiapkan Tangkap Peluang JALISU

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) meluncurkan Program Kelompok Usaha Berbasis Keluarga (KAPULAGA) di Kawasan Wisata Jalan Lingkar Sumbing (JALISU), Desa Butuh Kidul, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Selasa (8/9/2026).

Program tersebut dirancang untuk memperkuat ekonomi keluarga berbasis potensi lokal. KAPULAGA tidak hanya memberikan pelatihan keterampilan, tetapi juga mencakup pendampingan pengembangan produk, akses permodalan, pemasaran, legalitas usaha hingga sertifikasi halal.

Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Hj. Nawal Arafah Yasin, M.S.I., mengatakan KAPULAGA menjadi upaya memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dengan mengembangkan potensi usaha di masing-masing daerah.

“PKK fokus pada pembinaan keluarga. Dari sektor keluarga ini, diharapkan bisa memunculkan income yang mendukung ketahanan ekonomi,” kata Nawal.

Menurutnya, pelatihan KAPULAGA disesuaikan dengan potensi daerah. Di Desa Butuh Kidul, peserta mendapatkan pelatihan pengolahan komoditas lokal, serta pelatihan boga dan barista untuk menangkap peluang ekonomi yang tumbuh di kawasan wisata JALISU.

“Pelatihan disesuaikan dengan potensi daerah. Peluncuran di Wonosobo ini menjadi proyek percontohan atau pilot project,” ujarnya.

Nawal menegaskan, pemberdayaan tidak boleh berhenti setelah peserta mampu membuat produk. Pendampingan diperlukan agar keterampilan tersebut dapat berkembang menjadi usaha yang menghasilkan.

“Jadi pelatihan ini jangan berhenti pada bisa membuat produk. Kami ingin sampai pada pendampingan, akses permodalan, dan pemasaran, sehingga keterampilan yang diberikan benar-benar bisa menjadi sumber penghasilan keluarga,” tegasnya.

Program KAPULAGA selanjutnya ditargetkan dapat diperluas ke seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah dengan menyesuaikan potensi masing-masing wilayah.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengapresiasi kolaborasi TP PKK Jawa Tengah dan TP PKK Kabupaten Wonosobo dalam pelaksanaan program tersebut. Ia menilai kawasan JALISU memiliki potensi ekonomi dan pariwisata yang besar.

“Pelatihan KAPULAGA ini berbasis keluarga. Tadi kami juga menyapa komunitas kopi yang ternyata belum tersentuh, padahal berada di jalur yang bagus,” ujar Taj Yasin.

Ia mendorong pengembangan potensi tersebut agar pertumbuhan pariwisata di kawasan JALISU dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pemprov Jawa Tengah juga mendorong hilirisasi produk melalui akses pemasaran, perizinan edar dan sertifikasi halal.

Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menilai KAPULAGA sejalan dengan upaya pemerintah daerah mengurangi kemiskinan melalui penguatan ekonomi keluarga dan kelompok usaha kecil. Menurutnya, pemberdayaan harus dilakukan melalui peningkatan keterampilan, akses usaha dan pendampingan secara berkelanjutan.

Ketua TP PKK Kabupaten Wonosobo, Dyah Afif Nurhidayat, mengatakan program tersebut relevan dengan upaya penanganan kemiskinan melalui penguatan UMKM dan kemandirian keluarga.

“Penanganan kemiskinan tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana keluarga diberikan pengetahuan, keterampilan, kesempatan, dan pendampingan, sehingga perlahan mampu berdiri dengan kekuatannya sendiri,” ujarnya.

Ia menyebut Wonosobo masih berada pada posisi 33 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah dalam persoalan kemiskinan. Namun, kondisi tersebut dinilai bukan alasan untuk berhenti, melainkan menjadi dorongan memperkuat kolaborasi dan memanfaatkan berbagai potensi daerah.

“JALISU bukan sekadar pembangunan jalan. JALISU adalah gambaran tentang bagaimana pembangunan dapat lahir dari kolaborasi dan gotong royong,” katanya.

Dyah berharap masyarakat Desa Butuh Kidul tidak hanya menjadi penonton dari perkembangan kawasan JALISU, tetapi mampu menangkap peluang ekonomi yang muncul seiring berkembangnya kawasan wisata.

“Jangan sampai wisata berkembang, tetapi masyarakat sekitar hanya menjadi penonton. Justru masyarakat Desa Butuh Kidul harus kita persiapkan agar mampu menangkap peluang dari perkembangan kawasan JALISU,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar KAPULAGA dapat terintegrasi dengan gerakan Rabu Pon di Wonosobo sehingga program pemberdayaan dari tingkat provinsi dan kabupaten dapat saling memperkuat.

“Semangat KAPULAGA dan Rabu Pon dapat saling menguatkan. Kegiatan yang sudah baik dari Provinsi tidak perlu berjalan sendiri, demikian pula program Kabupaten tidak perlu berdiri sendiri,” katanya.

Peluncuran KAPULAGA turut diisi pelayanan Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM), kegiatan PAUD, pelatihan boga berbasis komoditas lokal, serta penyerahan sejumlah bantuan kepada masyarakat.

Bantuan yang diberikan antara lain KUBE dari  sebesar Rp20 juta untuk satu kelompok, 205 paket pangan dari Dinas Ketahanan Pangan, bantuan uang tunai bagi enam perempuan lanjut usia rentan, serta bantuan ember, bibit lele dan pakan melalui Rabu Pon Pokja III.

Dyah berharap kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, PKK, pemerintah desa, dunia usaha dan masyarakat terus diperkuat agar program pemberdayaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

“Besar harapan kami, pertemuan hari ini menjadi titik awal bagi kolaborasi yang semakin kuat antara TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten Wonosobo, Kecamatan, Pemerintah Desa, kader PKK, dan masyarakat,” ujarnya.

“Ketika pemerintah, PKK, dunia usaha, masyarakat, dan keluarga bergerak bersama, insyaallah perubahan itu akan semakin cepat kita rasakan,” pungkasnya. (Diskominfo Wonosobo/Aris)