Kembang Jiwa Swarupa Buka Ruang dan Kesempatan Setara bagi Penyandang Disabilitas di Wonosobo

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Upaya memberikan ruang dan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas terus dilakukan Kembang Jiwa Swarupa. Yayasan yang didirikan tiga perempuan ini bergerak dalam penguatan dan pemberdayaan penyandang disabilitas di Wonosobo.
Founder Kembang Jiwa Swarupa, Lintang Esti Pramanasari, mengatakan yayasan tersebut didirikan bersama Ronaria dan Pandini. Meski baru berjalan sekitar satu setengah tahun, Kembang Jiwa Swarupa telah menjalankan sejumlah kegiatan yang menyasar penyandang disabilitas, khususnya mereka yang berada pada usia produktif.

“Aktivitas yang kami lakukan adalah bagaimana disabilitas, utamanya yang usia produktif, bisa mendapatkan haknya atau mendapatkan tempat yang sama seperti yang lainnya,” kata Lintang saat ditemui dalam acara Layar Seasri Film Festival 2026 di New Star Cineplex (NSC) Wonosobo, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Lintang, Kembang Jiwa Swarupa berupaya merangkul berbagai kelompok penyandang disabilitas yang selama ini telah memiliki organisasi masing-masing. Di antaranya Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) dan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin).
“Kita justru berupaya untuk bisa menggandengnya dalam satu rumah,” ujarnya.
Pemberdayaan penyandang disabilitas usia produktif menjadi salah satu fokus yang dijalankan. Salah satu hasilnya, dua teman Tuli yang didampingi Kembang Jiwa Swarupa kini telah bekerja di Dayo Cafe, Wonosobo.
Selain pemberdayaan, Kembang Jiwa Swarupa juga membuka ruang dukungan bagi orang tua yang memiliki anak dengan disabilitas melalui Caregiver Education. Program tersebut menjadi ruang belajar sekaligus berbagi bagi keluarga atau caregiver yang memiliki pengalaman serupa dalam mendampingi anak.
Lintang mengatakan, ruang tersebut tidak selalu ditujukan untuk mencari solusi atas persoalan yang dihadapi keluarga. Terkadang, orang tua hanya membutuhkan ruang untuk berbagi dan melepaskan lelah setelah menjalani proses pengasuhan.

“Kami yakin mereka juga butuh support system. Bagaimana mereka berada di satu ruang dengan perasaan yang sama, menumpahkan. Kadang-kadang bukan untuk mencari baiknya bagaimana, tapi memang hanya jadi ruang mereka untuk melepaskan lelah,” katanya.
Kembang Jiwa Swarupa juga rutin menggelar kelas bahasa isyarat dan Kelas Braille. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pengetahuan dan pendidikan bagi penyandang disabilitas sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat.
Lintang mencontohkan anak tunanetra yang bersekolah di sekolah umum. Dalam kondisi tertentu, guru mungkin belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mendampingi siswa tunanetra, baik dalam pendekatan maupun penggunaan Braille.
“Kami mencoba mengisi ruang-ruang ini,” ujarnya.
Kelas bahasa isyarat juga menjadi bagian dari upaya pemberdayaan teman Tuli. Pengajar dalam kelas tersebut berasal dari komunitas Tuli karena bahasa isyarat merupakan bahasa mereka. Dengan demikian, teman Tuli tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan membagikan pengetahuan kepada masyarakat.
Sementara untuk Kelas Braille, saat ini terdapat sekitar empat anak yang mengikuti pembelajaran. Namun, tenaga pengajar masih terbatas sehingga Kembang Jiwa Swarupa tengah membuka kesempatan bagi relawan yang ingin bergabung.
Relawan nantinya akan mendapatkan pelatihan untuk membantu mengajar Braille sehingga dapat mendukung anak-anak yang mengikuti kelas tersebut.

Menurut Lintang, persoalan akses masih menjadi tantangan bagi penyandang disabilitas di Wonosobo. Sebagian anak tunanetra yang mengikuti kegiatan Kembang Jiwa Swarupa juga berasal dari keluarga kurang mampu dan tinggal cukup jauh dari pusat perkotaan.
Karena itu, Kembang Jiwa Swarupa berupaya membangun kolaborasi dengan berbagai pihak. Salah satunya melalui kerja sama dengan Sekitar Kita Kreativa (SKK), audio visual & event organizer di Wonosobo, yang turut menyediakan ruang bagi kegiatan komunitas.
Lintang menilai dukungan kepada penyandang disabilitas tidak selalu harus diberikan dalam bentuk uang. Masyarakat dapat berkontribusi melalui kemampuan maupun sumber daya yang mereka miliki.
Ia mencontohkan kolaborasi dengan Bless Music Wonosobo. Tempat kursus musik tersebut memiliki pengajar yang dapat memberikan pelajaran bernyanyi kepada anak dari Kembang Jiwa Swarupa yang memiliki kemampuan di bidang tersebut.
“Charity itu enggak harus uang, tapi apa yang kalian punya itu apa,” kata Lintang.
Menurutnya, penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama dengan masyarakat lainnya. Namun, ruang untuk mendapatkan kesempatan tersebut masih perlu terus dibuka.
“Artinya bahwa mereka punya kesempatan yang sama seperti kita, tapi ruangnya saja yang belum terbuka,” ujarnya.
Kembang Jiwa Swarupa berharap semakin banyak pihak yang bersedia terlibat dalam membuka ruang tersebut. Kolaborasi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk sesuai kemampuan yang dimiliki masing-masing pihak.
Masyarakat yang ingin mengetahui kegiatan atau berkolaborasi dengan Kembang Jiwa Swarupa dapat menghubungi pengurus melalui akun Instagram @kembangjiwa.swarupa. (Aris)

