24 Juli 2026

Tapa Bisu Jadi Simbol Perjalanan Sejarah Wonosobo pada Hari Jadi ke-201

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Prosesi Tapa Bisu menjadi salah satu rangkaian Bedhol Kedhaton dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201 yang digelar pada Kamis (23/7/2026) malam. Ratusan peserta berjalan dalam keheningan dari Jalan A. Yani, tepatnya di depan Klenteng Hok Hoo Bio Wonosobo, menuju Pendopo Kabupaten Wonosobo sebagai simbol perjalanan sejarah dan harapan akan kemajuan daerah.

Kepala Bidang Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo, Ratna Sulistiyowati, mengatakan pelaku utama Tapa Bisu tetap berasal dari Desa Plobangan. Namun, pada penyelenggaraan tahun ini panitia juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk mengikuti prosesi tersebut.

“Beberapa hari sebelumnya kami membuka pendaftaran melalui media sosial, dan alhamdulillah antusiasme masyarakat cukup tinggi. Dalam dua hari ada sekitar 80 peserta dari masyarakat umum yang mendaftar di luar peserta yang memang sudah kami rencanakan,” ujar Ratna.

Meski demikian, jumlah peserta dari masyarakat umum tersebut masih lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 200 orang.

Ratna menjelaskan, Tapa Bisu merupakan salah satu rangkaian prosesi Bedhol Kedhaton yang melambangkan perpindahan pusat pemerintahan Wonosobo dari Plobangan menuju Wonosobo. Prosesi tersebut diperagakan oleh Kepala Desa Plobangan beserta perangkat desa dengan berjalan kaki dari Jalan A. Yani, tepatnya di depan Klenteng Hok Hoo Bio Wonosobo, menuju ke arah utara melewati Alun-alun Wonosobo hingga berakhir di Pendopo Kabupaten Wonosobo.

“Untuk menuju sesuatu yang lebih baik, kita memulainya dengan doa, keheningan, dan kekhidmatan. Harapannya, Wonosobo akan memperoleh masa depan yang lebih baik,” katanya.

Setelah prosesi Tapa Bisu, rangkaian Hari Jadi dilanjutkan dengan pencampuran air suci yang sebelumnya diambil dari tujuh mata air. Air tersebut kemudian dipersatukan dan didoakan oleh perwakilan enam agama sebagai simbol persatuan dalam keberagaman.

Selanjutnya, air suci dibawa oleh Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (MLKI) menuju Paseban untuk didoakan secara khusus. Sementara itu, tanah yang turut dibawa dalam prosesi ditanam di Ringin Kurung, yakni pohon beringin yang berada di tengah Alun-alun Wonosobo.

“Seluruh rangkaian prosesi ini melambangkan harapan akan kemakmuran dan kesejahteraan bagi Kabupaten Wonosobo,” jelas Ratna.

Rangkaian Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201 kemudian berlanjut pada Jumat (24/7/2026) melalui prosesi Pisowanan Agung. Sebanyak 15 gunungan dari seluruh kecamatan di Kabupaten Wonosobo akan dikirab sebagai representasi potensi serta kekayaan yang dimiliki masing-masing wilayah.

Ratna mengatakan, meskipun pelaksanaan Pisowanan Agung bertepatan dengan hari Jumat, seluruh prosesi budaya tetap dilaksanakan dengan penyesuaian waktu agar selesai sebelum pelaksanaan Salat Jumat.

“Semua prosesi tetap kami laksanakan, termasuk ruwatan cukur rambut gimbal. Hanya saja waktu pelaksanaannya kami padatkan agar seluruh rangkaian dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.

Tahun ini, sebanyak tujuh anak mengikuti prosesi ruwatan cukur rambut gimbal. Selain berasal dari Wonosobo, salah satu peserta juga berasal dari Kabupaten Temanggung.

Menurut Ratna, pelibatan masyarakat dalam berbagai prosesi budaya menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian tradisi. Melalui partisipasi yang semakin luas, nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur diharapkan tetap hidup sekaligus semakin dikenal oleh masyarakat, termasuk generasi muda. (Aris)