9 Juli 2026

Wonosobo Perkuat Pengasuhan Anak Lewat Gerakan WAYAH dan Kelas AMAN

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Puncak Festival Cinta Keluarga IV menjadi momentum Pemerintah Kabupaten Wonosobo memperkuat pembangunan keluarga melalui peluncuran Gerakan WAYAH (Waktu Bersama Ayah) dan Kelas AMAN (Ayah Idaman) di Pendopo Bupati Wonosobo, Senin (6/7/2026).

Program tersebut diluncurkan dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 dan Hari Anak Nasional ke-42, sebagai upaya membangun kualitas sumber daya manusia sejak lingkungan keluarga.

Festival yang diikuti sekitar 450 peserta secara luring dan ratusan kader secara daring itu mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat pola pengasuhan anak sekaligus membangun kolaborasi dalam menciptakan keluarga yang tangguh menghadapi berbagai tantangan, termasuk perkembangan teknologi digital.

Dalam sambutannya, Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menegaskan bahwa kemajuan daerah tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik. Menurutnya, investasi terbesar yang menentukan masa depan Wonosobo adalah pembangunan manusia yang dimulai dari keluarga.

“Sering kali pembangunan dimaknai dari apa yang tampak di depan mata, seperti jalan yang semakin baik, jembatan yang semakin kokoh, atau fasilitas publik yang semakin lengkap. Semua itu memang penting. Namun sesungguhnya, pembangunan yang paling menentukan masa depan daerah adalah pembangunan manusianya. Dan pembangunan manusia selalu berawal dari keluarga,” ujar Afif.

Ia menjelaskan, keluarga menjadi ruang pertama bagi anak untuk mengenal nilai-nilai kehidupan, membangun karakter, serta menumbuhkan cita-cita. Oleh karena itu, pembangunan keluarga harus dilakukan secara berkesinambungan pada setiap tahapan kehidupan, mulai dari kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi, pengasuhan yang berkualitas, hingga pembinaan lansia agar tetap sehat, aktif, mandiri, dan bermartabat.

“Pembangunan keluarga harus dimulai sejak awal kehidupan, melalui layanan kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, pengasuhan yang berkualitas, hingga menghadirkan lansia yang sehat, mandiri, aktif, produktif, dan bermartabat. Seluruh ikhtiar itu bermuara pada satu tujuan, yakni membangun sumber daya manusia yang unggul,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Wonosobo juga memperkenalkan Gerakan WAYAH dan Kelas AMAN sebagai langkah memperkuat keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan. Program ini diharapkan mampu mendorong kehadiran ayah sejak masa kehamilan hingga mendampingi setiap fase tumbuh kembang anak.

Afif menilai, pengasuhan yang berkualitas hanya dapat terwujud apabila peran ayah dan ibu berjalan seimbang. Kehadiran ayah, menurutnya, tidak cukup hanya secara fisik, tetapi juga melalui komunikasi, perhatian, dan keteladanan.

“Semangat ‘Ayah Wajib Hadir’ harus benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran ayah bukan hanya secara fisik, tetapi hadir untuk mendengar, mendampingi, membimbing, dan menjadi teladan bagi anak-anaknya,” tegasnya.

Gerakan tersebut, lanjut Afif, tidak hanya ditujukan bagi ayah kandung, tetapi juga seluruh figur laki-laki yang memiliki peran dalam pengasuhan, seperti kakek, paman, maupun wali.

Mengakhiri sambutannya, Afif mengajak seluruh masyarakat menjadikan bonus demografi sebagai peluang untuk melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter melalui penguatan keluarga.

“Indonesia saat ini memasuki bonus demografi. Peluang ini hanya datang sekali dalam sejarah bangsa. Jika keluarga kita kuat, kita optimistis Wonosobo mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, serta siap menyongsong Indonesia Emas 2045. Mari kuatkan keluarga hari ini, hadirkan pengasuhan yang berkualitas, dan siapkan generasi unggul sebagai penggerak terwujudnya Wonosobo yang semakin sejahtera, adil, dan makmur,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kabupaten Wonosobo, Dyah Retno Sulistyowati, menyampaikan bahwa keluarga saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi digital.

“Hari ini anak-anak hidup di era digital. Teknologi memang membuka peluang belajar, tetapi di sisi lain juga mengurangi interaksi dan kualitas komunikasi antara orang tua dengan anak. Banyak keluarga tinggal serumah, tetapi jarang benar-benar bersama,” ujarnya.

Menurut Dyah, secanggih apa pun teknologi tidak akan mampu menggantikan kedekatan emosional yang dibangun melalui kehadiran orang tua dalam kehidupan anak.

“Tidak ada aplikasi yang dapat menggantikan pelukan orang tua, tidak ada algoritma yang mampu menggantikan nasihat seorang ayah, dan tidak ada teknologi yang dapat menggantikan kasih sayang seorang ibu,” katanya.

Di sisi lain, pembangunan keluarga di Kabupaten Wonosobo masih menghadapi sejumlah tantangan. Hingga semester pertama tahun 2026 tercatat 146.404 keluarga berisiko stunting dari total 280.520 keluarga, yang seluruhnya mendapat pendampingan dari 2.034 Tim Pendamping Keluarga (TPK).

Dalam aspek perlindungan perempuan dan anak, sejak dibentuk pada Februari 2026, Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) telah menangani 42 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sementara itu, persoalan perkawinan usia anak juga masih menjadi perhatian dengan 264 kasus yang tercatat hingga akhir tahun 2025.

“Persoalan-persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Kolaborasi seluruh perangkat daerah, dunia usaha, organisasi masyarakat, tenaga kesehatan, kader, hingga keluarga menjadi kunci untuk membangun keluarga yang berkualitas,” jelas Dyah.

Sebagai bagian dari penguatan keluarga, DPPKBPPPA mengajak masyarakat menerapkan Lima Langkah Cinta Keluarga, yakni mencintai sebelum berharap dicintai, mengenali potensi setiap anggota keluarga dan mendukung cita-citanya, meluangkan dua jam “Senja Keluarga” setiap hari, mengarusutamakan pendidikan agama, serta membiasakan pola hidup bersih, sehat, dan peduli lingkungan.

Dyah juga menjelaskan bahwa penguatan keluarga terus dilakukan melalui berbagai program, mulai dari pendampingan calon pengantin, pelayanan keluarga berencana, pendampingan ibu hamil dan balita pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan, pembinaan remaja melalui Generasi Berencana (GenRe) dan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), perlindungan perempuan dan anak, hingga pembinaan lansia.

Berbagai program tersebut turut menghasilkan capaian positif. Hingga tahun 2026, Kabupaten Wonosobo telah memiliki 175 Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) dan Kampung Keluarga Berkualitas di seluruh desa dan kelurahan. Bahkan, Wonosobo menjadi daerah dengan penetapan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) Paripurna jenjang SMP/sederajat terbanyak di Jawa Tengah sekaligus Indonesia selama dua tahun berturut-turut, yakni pada 2024 dan 2025.

“Prestasi tentu patut kita syukuri, tetapi yang lebih penting adalah memastikan seluruh program benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Festival Cinta Keluarga IV sekaligus menjadi puncak rangkaian peringatan Harganas 2026 yang sebelumnya diisi dengan Upacara Harganas, Safari Keluarga Berencana di 15 kecamatan, berbagai lomba Program Bangga Kencana, kegiatan 100 Bocah Petualang, serta penyerahan Bangga Kencana Award 2026 kepada individu maupun lembaga yang berkontribusi dalam pembangunan keluarga, pengendalian penduduk, keluarga berencana, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak. (Diskominfo Wonosobo/Aris)