Kontes Domba Wonosobo Meriahkan Rangkaian Hari Jadi, Dombos Resmi Kantongi SNI dan Indikasi Geografis

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Kontes Domba Wonosobo (Dombos) ke-10 kembali menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo. Digelar di Jalan Merdeka, Alun-alun Wonosobo, Sabtu (4/7/2026), kegiatan yang diselenggarakan oleh Paguyuban Peternak Domba Wonosobo tersebut menjadi ajang pelestarian sekaligus pengembangan salah satu plasma nutfah ternak unggulan kebanggaan Kabupaten Wonosobo.
Momentum tahun ini terasa semakin istimewa dengan penyerahan Standar Nasional Indonesia (SNI) Domba Wonosobo dari Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah kepada Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Wonosobo. Selain itu, Sertifikat Indikasi Geografis Domba Wonosobo juga diserahkan sebagai pengakuan atas keunikan, kualitas, serta identitas Domba Wonosobo sebagai ternak khas daerah.
Dalam sambutan Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat yang dibacakan oleh Kepala Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Wonosobo, Dwiyama Satyani Budyayu, disampaikan bahwa penyelenggaraan kontes merupakan salah satu upaya nyata dalam menjaga kelestarian sekaligus meningkatkan kualitas Domba Wonosobo sebagai rumpun ternak lokal unggulan.
Bupati menjelaskan, sejarah Domba Wonosobo berawal dari Domba Texel yang berasal dari Pulau Texel, Belanda, kemudian didatangkan ke Indonesia pada awal tahun 1950-an. Setelah sempat dikembangkan di Baturaden, domba tersebut dipindahkan ke Desa Menjer pada tahun 1957 dan berkembang pesat di Wonosobo melalui proses adaptasi serta persilangan dengan domba lokal.
“Kalau dikatakan ini adalah Domba Wonosobo, sebenarnya awalnya merupakan Domba Texel yang berasal dari Pulau Texel di bagian utara Belanda. Kemudian melalui proses persilangan berkembang di Wonosobo hingga dikenal sebagai Domba Wonosobo,” demikian kutipan sambutan Bupati.

Ia menambahkan, berbagai langkah telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Wonosobo untuk menjaga keberlanjutan plasma nutfah tersebut, mulai dari peningkatan kualitas bibit hingga penyelenggaraan kontes secara rutin.
“Berbagai upaya pelestarian dan pengembangan Domba Wonosobo telah kita laksanakan, di antaranya melalui seleksi bibit, peningkatan kapasitas peternak, pembentukan kelompok peternak, pengembangan inseminasi buatan dan semen beku, integrasi usaha peternakan dengan sektor pertanian, serta penyelenggaraan kontes ternak seperti yang kita laksanakan pada hari ini,” ujarnya.
Menurut Bupati, kontes yang secara rutin diselenggarakan juga memberikan dampak positif terhadap perkembangan Domba Wonosobo.
“Kontes domba rutin diselenggarakan untuk mendorong peningkatan mutu genetik, pengembangan ternak, serta peningkatan nilai jual ternak. Setelah pelaksanaan kontes tahun 2019, mulai terlihat dampaknya terhadap peningkatan populasi maupun kualitas genetik Domba Wonosobo,” katanya.
Lebih lanjut, Bupati berharap pengembangan Domba Wonosobo tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi daging, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat melalui pemanfaatan wol serta mendukung sektor pariwisata.
“Ke depan, Domba Wonosobo perlu terus dikembangkan sebagai penghasil daging berkualitas. Selain itu, bulu atau wol Domba Wonosobo juga memiliki potensi yang cukup baik. Domba Wonosobo diharapkan menjadi salah satu komoditas unggulan yang mampu mendukung pengembangan agrowisata di Kabupaten Wonosobo,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Kontes Domba Wonosobo, Fajridwi Resgiarto, mengatakan kontes tahun ini merupakan bagian dari komitmen bersama untuk menjaga kelestarian Domba Wonosobo sekaligus meningkatkan kesejahteraan para peternak.
“Seperti tahun-tahun sebelumnya, kontes kali ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201. Kami melaksanakan kontes sebagai upaya melestarikan populasi Domba Wonosobo sekaligus mendorong peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya para peternak di Wonosobo,” ujarnya.
Menurutnya, tahun ini kontes mempertandingkan 11 kelas, meliputi kategori anakan, bakalan, dewasa, hingga kelas bobot. Jumlah peserta diperkirakan mencapai 300 hingga 350 ekor domba, dengan peserta yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah maupun Jawa Timur, seperti Banyuwangi, Blitar, Kediri, Bojonegoro, dan Jombang.
“Peserta sekarang sudah cukup merata dan dapat dikatakan sudah berskala kontes nasional,” katanya.
Ia menjelaskan, Domba Wonosobo memiliki karakteristik khas berupa garis muka cembung, telinga mengarah ke samping, wol yang baik, serta ekor yang relatif kecil. Dalam kontes, penilaian dilakukan melalui sekitar 15 parameter, mulai dari bentuk kepala, telinga, postur tubuh, ekor, panjang badan, bobot badan, hingga tinggi badan yang disesuaikan dengan umur ternak.

Fajridwi mengungkapkan, berdasarkan data yang dihimpun, populasi Domba Wonosobo yang terdata saat ini mencapai lebih dari 4.000 hingga 5.000 ekor. Namun, jumlah riil di lapangan diperkirakan telah melampaui 10.000 ekor.
“Salah satu faktor yang mendorong peningkatan tersebut adalah adanya kontes Domba Wonosobo, sehingga mampu menambah semangat para peternak untuk terus mengembangkan Domba Wonosobo,” jelasnya.
Dari sisi ekonomi, nilai jual Domba Wonosobo juga terus meningkat. Harga anakan berkisar mulai Rp2,5 juta, sedangkan domba dewasa dapat mencapai puluhan juta rupiah. Bahkan, seekor pejantan juara kontes pernah mencatat transaksi lebih dari Rp100 juta karena memiliki kualitas genetik unggul dan rekam silsilah yang jelas.
Melalui penyelenggaraan Kontes Domba Wonosobo ke-10, Pemerintah Kabupaten Wonosobo bersama para peternak berharap keberadaan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Sertifikat Indikasi Geografis semakin memperkuat daya saing Domba Wonosobo sebagai komoditas peternakan unggulan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak serta memperkenalkan potensi daerah hingga tingkat nasional. (Aris)

