Jejak Ibadah Dalam Kemuliaan Akhlak

Oleh : John Supriyanto
Dosen Ilmu Al Qur’an dan Tafsir UIN Raden Fatah dan Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an (STIQ) Al-Lathifiyyah Palembang
KoranRakyat.co.id —Salah satu kesalahan yang seringkali terjadi dalam memahami agama adalah ketika ibadah dipandang hanya sebagai rangkaian ritual dan rutinitas sehari-hari. Akibatnya, banyak di antara kita kaum muslimin yang merasa telah menjadi hamba Allah Swt. yang baik hanya karena telah banyak melakukan ibadah shalat, rajin berpuasa senin-kamis, atau sering membaca bahkan mengkhatamkan Al-Qur’an. Padahal sesungguhnya, Allah Swt. tidak hanya menghendaki aksi gerakan fisik jasmani dalam beribadah, tetapi juga menghendaki terjadinya perubahan ruhani dan perilaku. Sebagaimana para ulama mengatakan : الثمرة من العبادة حسن الأخلاق (buah dari ibadah adalah akhlak yang mulia). Apabila pohon ibadah itu telah tumbuh dan hidup dengan subur, namun tidak menghasilkan bunga dan buah akhlak yang baik, maka dipastikan ada sesuatu yang perlu diperbaiki dan dievaluasi dalam pelaksanaan ibadah tersebut. Bisa jadi niatnya yang masih keliru, boleh jadi pula tujuan dan orientasi ibadahnya yang masih sebatas rutinitas melepaskan kewajiban dan lain-lain.
Lihatlah bagaimana Al-Qur’an yang selalu mengaitkan praktik pelaksanaan semua ibadah dengan perubahan sikap dan perilaku. Mulai dari ibadah shalat yang akan membentengi pelakunya dari berbagai bentuk keburukan dan kemungkaran (Qs. al-Ankabut : 45); Ibadah puasa yang secara efektif memproduksi nilai-nilai ketaqwaan (al-Baqarah : 183); Zakat, infaq dan shadaqah yang memiliki potensi membersihkan hati dan harta serta menyelamatkan pelakunya dari kekikiran (Qs. at-Taubah : 103); begitupun ibadah haji yang melatih kesabaran dan pengendalian diri (al-Baqarah : 197). Dengan demikian, terlaksananya seluruh ibadah dalam Islam bukan tujuan akhir, tetapi sarana untuk terbentuknya manusia yang berakhlak tinggi.
Hari ini kita masih banyak menyaksikan fenomena beragama yang memprihatinkan. Ada orang yang rajin sekali ke masjid, tetapi lisannya masih dengan mudahnya mencaci-maki dan berkata kasar terhadap saudaranya. Terdapat pula di antara kita orang yang sudah berhaji dan bahkan umrah berkali-kali, namun masih suka menzalimi, menyakiti bahkan melanggar dan mengambil hak orang lain. Tidak jarang pula, kita temui orang yang hafal banyak sekali ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi, namun sulit sekali untuk menghargai orang lain.
Hal ini menunjukkan bahwa ternyata kuantitas ibadah belumlah tentu berbanding lurus dengan kualitas akhlak dan prilaku. Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah mengatakan bahwa “tujuan syariat seluruhnya adalah menghadirkan kemaslahatan dan akhlak yang baik di tengah kehidupan manusia. Maka ukuran keberhasilan sebuah ibadah bukanlah terletak pada berapa kali ia dilakukan, namun pada seberapa besar ia mempengaruhi terbentuknya kemuliaan akhlak prilaku.
Suatu hari Rasul Saw. bertanya kepada para sahabat ra. : “Tahukah kamu siapa orang yang bangkrut sebenarnya ?” Para sahabat menjawab : “orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki dirham dan harta benda“. Rasul Saw bersabda : “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat. Akan tetapi ia pernah mencaci orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, dan memukul orang lain. Maka pahala-pahalanya diberikan kepada mereka. Jika pahalanya habis sebelum hak-hak mereka ditunaikan, maka dosa-dosa mereka dipindahkan kepadanya lalu ia dilemparkan ke dalam neraka”. (Hr. Muslim).
Selanjutnya, dalam kitab-kitab riwayat juga dikisahkan, bahwa ketika terjadi peristiwa hadits al-Ifki, salah seorang yang ikut menyebarkan fitnah terhadap istri Rasul Saw, Umm al-Mu’minin Sayyidah Aisyah ra. adalah Mistah bin Utsatsah. Padahal selama ini Mistah menerima bantuan nafkah dari Abu Bakar ra., ayah dari Sayyidah ‘Aisyah ra.
Ketika fitnah itu terbongkar dan diketahui oleh Abu Bakar ash-Shiddiq ra., beliau sangat sedih dan menyayangkan, lalu beliau bersumpah tidak akan lagi membantu Mistah bin Utsatsah. Lalu turun firman Allah Swt. dalam Qs. An-Nur ayat 22 :
وَلَا يَأۡتَلِ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ
“Janganlah orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan rizki di antara kamu bersumpah untuk tidak memberi bantuan kepada kerabatnya, orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak menginginkan Allah mengampunimu, Allah maha pengampun dan maha penyayang” (Qs. An-Nur : 22)
Mendengar ayat ini diturunkan, Abu Bakar ra. menangis lalu berkata : “Demi Allah, aku ingin Allah mengampuniku”. Lalu beliau kembali memberi nafkah kepada Mistah bin Utsatsah bahkan lebih baik dari sebelumnya. Inilah salah-satu contoh prestasi dan capaian ibadah yang sesungguhnya. Ibadah dan ketaatan dapat melahirkan kelembutan hati, mudah untuk saling memaafkan dan mampu mengalahkan ego demi meraih keridhaan Allah Swt.
Kemudian, suatu malam Amir al-Mu’minin Umar bin Khattab ra. berkeliling blusukan ingin mengetahuai keadaan rakyatnya. Beliau mendengar tangisan anak-anak dari sebuah rumah kumuh. Ternyata, didapatinya seorang ibu sedang merebus batu agar anak-anaknya mengira makanan sedang dimasak, sampai mereka tertidur karena lapar.
Menyaksikan kondisi tersebut, Umar ra. menangis, lalu beliau beranjak pergi dan segera memikul sendiri karung gandum yang diambilnya dari bait al-mal. Ketika seorang pembantunya menawarkan bantuan, Umar berkata : “Apakah engkau akan memikul dosaku di hari kiamat?”. Beliaupun sendiri kemudian memasakkan makanan itu hingga anak-anak itu kenyang. Shalat malam beliau yang panjang, ibadah puasa dan bacaan Al Qur’annya yang tak terhitung, berbanding lurus dengan sifat kasih-sayang, kepekaan dan kepeduliannya terhadap masyarakat kecil.
Ketika Rasulullah Saw ditanya tentang orang yang paling berat timbangan amalnya pada hari kiamat, beliau bersabda : مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُق Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (Hr. At-Tirmidzi). Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tidak hanya banyak ibadahnya, tetapi juga indah akhlaknya; tidak hanya rajin sujudnya, tetapi juga lembut hatinya; tidak hanya kuat hubungannya dengan Allah Swt, tetapi juga baik hubungannya dengan sesama manusia. Wallahu a’lam. (*)
